RAJENDRA MANTAN MONSTER, SUKSES CETAK GENERASI MONSTER EMPAT WARNA!

Rajendra mantan monster kualitas empat warna sukses mencetak generasi juara. Dari kandang 3F Bird Farm BSD, darah Magnum M.1 melahirkan Adi Luhung, Gunawarman, Gunadarma, Arung Binang hingga Pacil yang mulai mencuri perhatian di arena konkurs.

Rajendra bukan sekadar nama besar di gelanggang hobi perkutut. Ia adalah mantan monster berkualitas empat warna yang pernah membuat arena konkurs tanah air panas dingin seperti dispenser merek ‘WACOAL’. Kini sang jawara memang sudah meninggalkan panggung pertandingan, tetapi darah juaranya justru sedang menyerbu arena melalui anak dan cucu yang mulai menorehkan prestasi.

Di balik perjalanan panjang Rajendra, tersimpan kisah menarik. Sebelum akhirnya menjadi salah satu andalan 3F Bird Farm BSD Tangerang Selatan, Rajendra sempat berada di tangan Perawat Wasid Nusantara

Di tangan Perawat Wasid itulah Rajendra sempat mocer dan menunjukkan kualitas istimewanya di arena. Performa yang muncul ketika itu menjadi pertanda bahwa burung bergelang Magnum tersebut bukan perkutut biasa.

Namun, perjalanan Rajendra semakin menarik ketika ia harus berhadapan dengan seniornya sendiri.

rajendra
H Sularno Tengah

BAKU HANTAM DENGAN MANDALIKA, SAMA-SAMA DARAH MAGNUM M.1

Salah satu duel yang menjadi bagian menarik dari perjalanan Rajendra adalah ketika ia harus berhadapan dengan Mandalika.

Keduanya bukan burung dari trah sembarangan. Rajendra dan Mandalika sama-sama memiliki hubungan dengan Magnum M.1.

Di arena, keduanya sempat terlibat persaingan sengit. Baku hantam terjadi di antara dua darah Magnum tersebut. Mandalika yang lebih senior harus berhadapan dengan Rajendra yang ketika itu mulai menunjukkan taringnya.

Dari sinilah kualitas Rajendra semakin terlihat.

Bukan hanya mampu mencuri perhatian ketika berhadapan dengan burung lain, tetapi juga mampu menunjukkan kapasitasnya ketika harus beradu kualitas dengan sesama darah unggulan.

Menurut H. Larno, Rajendra merupakan produk Magnum dari kandang M.1, yang merupakan kakak dari Mandalika, perkutut orbitan almarhum H. Syaiful Pamekasan.

Menariknya, darah Magnum M.1 kemudian banyak dikembangkan oleh Kung Mania. Banyak yang mencoba meneruskan kualitas darah tersebut melalui program ternak masing-masing.

Namun, dalam perjalanan tersebut, 3F bisa dibilang menjadi salah satu yang paling beruntung.

Bukan sekadar memiliki Rajendra.

3F berhasil meneruskan darah Rajendra menjadi generasi-generasi baru yang kembali menunjukkan prestasi di arena.

BANYAK YANG KEMBANGKAN MAGNUM M.1, 3F BERHASIL CETAK GENERASI JUARA

Darah Magnum M.1 memang telah menyebar ke berbagai kandang. Banyak peternak mencoba mengembangkan dan mencari kombinasi terbaik dari trah tersebut.

Tetapi tidak semua berhasil menghasilkan generasi yang mampu mengikuti jejak induknya.

Di sinilah keberhasilan 3F menjadi menarik.

Rajendra yang dulu menjadi petarung papan atas kini tidak lagi sekadar dikenang karena koleksi prestasinya. Ia telah menjelma menjadi pejantan yang mampu menurunkan karakter juara.

H. Larno menyebut bahwa setelah cukup lama eksis di arena konkurs, Rajendra kini fokus di kandang ternak bersama tiga betina pilihan.

“Rajendra fokus di kandang ternak dengan tiga betina. Alhamdulillah berhasil mengeluarkan burung juara,” ungkap H. Larno.

Dari betina SSK anak 3F Camila, lahir Gunawarman.

Kemudian dari betina TMC 31, lahir Gunadarma, Arung Binang dan Pacil.

Sementara dari betina Palem SK 31, lahir Adi Luhung, yang kemudian diorbitkan bersama Aliung Golsindo BF Jakarta.

Deretan produk tersebut menjadi bukti bahwa Rajendra tidak berhenti sebagai mantan jawara.

Ia berubah menjadi mesin pencetak generasi juara.

ADI LUHUNG DEBUT, LANGSUNG KE PODIUM PERTAMA!

Nama Adi Luhung menjadi salah satu bukti terbaru yang membuat trah Rajendra kembali menjadi bahan pembicaraan.

Turun untuk pertama kalinya di Kelas Dewasa Bebas dalam gelaran peresmian rumah makan milik Akiong Kythavin, Kranggan, Bekasi, Minggu, 30 Agustus 2026, Adi Luhung langsung tampil mempesona.

Tidak perlu waktu yang panjang untuk menunjukkan kualitas.

Dengan raihan bendera tiga warna hitam pada babak kedua dan ketiga, Adi Luhung berhasil mengakhiri penjurian di podium pertama.

Debut langsung juara!

Bagi H. Larno dan 3F, pencapaian tersebut tentu menjadi sinyal bahwa darah Rajendra masih memiliki daya ledak.

Sang induk memang sudah tidak bertarung.

Tetapi darahnya masih bertarung melalui generasi penerus.

CUCUNYA PUN SUDAH MULAI MUNCUL DI PODIUM

Cerita semakin menarik karena prestasi trah Rajendra tidak berhenti pada anak.

Generasi cucu pun mulai menunjukkan kelasnya.

Ada Irama Jakarta, cucu Rajendra yang sukses menembus posisi 3 Kelas Piyik Hanging Liga Perkutut Indonesia KLH Cup 2026 di Lapangan Bumi Eraskan Kranggan, Bekasi.

Kemudian ada Kitaro yang juga tercatat meraih podium di kelas Piyik Yunior dalam gelaran di Kythavin.

Jika anak dan cucu mulai masuk daftar juara, maka keberhasilan program ternak Rajendra jelas bukan sekadar cerita kandang.

Bukti nyata sudah mulai terlihat di papan kejuaraan.

Kalau dulu Rajendra membuat lawan waswas ketika kerekan mulai naik, sekarang anak-anaknya yang membuat Kung Mania mulai menelan ludah seperti orang yang seharian puasa lantas melihat sukang bakar dan es kelapa kopyor, tentu rasanya nikmat luar biasa..

Dan di sinilah 3F memiliki alasan untuk tersenyum.

Gunawarman, Gunadarma, Arung Binang, Pacil, Adi Luhung, hingga cucu-cucunya menjadi bagian dari cerita tersebut.

Rajendra mungkin sudah meninggalkan arena.

Tetapi warisannya belum selesai.

Bahkan bisa jadi, justru sekarang cerita sebenarnya baru dimulai.

H. SULARNO MEMANG GEMAR EKSPERIMEN

Keberhasilan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari karakter H. Sularno yang memang dikenal gemar melakukan eksperimen dalam dunia ternak perkutut.

Bagi dirinya, kandang bukan sekadar tempat menyimpan burung.

Kandang adalah ruang untuk menguji kombinasi, membaca karakter indukan, melihat hasil keturunan dan kembali mencari formula terbaik.

Kegemaran bereksperimen itu kini semakin mendapat ruang setelah kandang baru 3F di Sindur mulai terisi burung.

Dengan total 100 petak, H. Sularno memiliki ruang yang jauh lebih leluasa untuk melakukan berbagai kombinasi indukan.

“Memang saya terkenal dengan eksperimen. Dengan kandang baru di Sindur yang sudah mulai bisa terisi burung, saya rasa dengan total 100 petak sudah cukup untuk utak-atik indukan,” jelas H. Sularno di sela-sela ngerek bareng di Lapangan 3F Sindur.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Rajendra mungkin baru satu bagian dari eksperimen besar 3F.

Jika satu pejantan sudah mampu menghasilkan generasi berprestasi, dengan 100 petak kandang, tentu peluang untuk melahirkan kombinasi baru akan semakin terbuka.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news