
INVESTASI GENETIK diperlukan dalam dunia breeding perkutut, dan kali ini jagat kung mania kembali diguncang kabar yang membuat para kung mania membicarakannya di berbagai gantangan hingga grup WhatsApp. Sosok yang selama ini dikenal tenang, H. Sularno, pemilik Tiga F Bird Farm sekaligus pemilik jawara nasional 4 warna Arung Binang, diam-diam melakukan langkah yang dinilai sebagai investasi genetik terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Bukan membeli burung yang sedang menjadi juara nasional, bukan pula mengejar burung yang sedang viral di lapangan. H. Sularno justru memilih memboyong seekor pejantan tua bernama Sok K21Â yang lebih populer dikenal sebagai Sri Rama.
Bagi penghobi baru, nama ini mungkin terdengar asing. Namun, bagi para breeder senior, Sri Rama adalah salah satu pejantan yang dianggap sebagai “harta karun hidup” karena darahnya telah mengalir pada sederet perkutut empat warna terbaik di Indonesia.
Yang menarik, keputusan untuk membeli Sri Rama tidak didasarkan pada prestasi lomba saat ini. Ketika ditransaksikan, Sri Rama sudah memasuki usia tua dan tidak lagi berada di puncak prestasi. Namun, justru di situlah letak keberanian sekaligus kecerdasan seorang breeder dalam membaca nilai genetika.
Dibeli Rp359 Juta Saat Tak Sedang Juara
Kisah Sri Rama sudah menjadi legenda.
Burung ini pernah dibeli oleh Johan Sri Ratu dari Koh Ahung Bambang Terminal dengan nilai fantastis mencapai Rp359 juta. Nilai tersebut mengejutkan dunia perkutut kala itu.
Yang membuat transaksi ini begitu fenomenal adalah kondisi Sri Rama yang bukan burung juara aktif.
Bandingkan dengan kondisi saat ini. Burung yang baru saja menjadi juara nasional pun sering kali masih ditawar di kisaran Rp100 juta. Namun, Sri Rama mampu menembus angka hampir empat ratus juta hanya karena kualitas trah yang dimilikinya.
Hal itu menjadi bukti bahwa dalam dunia breeding, nilai seekor pejantan tidak selalu diukur dari jumlah piala, melainkan dari kemampuan mewariskan kualitas kepada keturunannya.
Darah Sri Rama Mengalir pada Limosin, Sihir hingga Brewok
Seiring perjalanan waktu, keputusan besar itu terbukti benar.
Nama Sri Rama kini tercatat sebagai salah satu fondasi lahirnya banyak burung fenomenal.
Di antaranya adalah Legendaris, burung empat warna bergelang Atlas yang kemudian ditransaksikan oleh almarhum Koh Tiek Bie dengan nilai sekitar Rp400 juta.
Tak berhenti di situ.
Belakangan, kung mania kembali dibuat ramai oleh munculnya burung-burung fenomenal yang mampu meraih konce 4 warna p[iyek bebas seperti Limosin (Ring Grand), Sihir, hingga Brewok (Ring Jupiter) yang tampil luar biasa di berbagai arena.
Menariknya, para pemerhati breeding menyebut bahwa ketiga burung tersebut masih memiliki aliran darah dari Sok K21 Sri Rama.
Artinya, pengaruh pejantan tua ini belum habis. Bahkan justru semakin terasa seiring lahirnya generasi-generasi baru yang mendominasi lomba nasional.
H. Nunu Pesona: Ini Langkah Sangat Tepat
Pengamat breeding sekaligus praktisi perkutut nasional, H. Nunu Pesona, menilai langkah H. Sularno membeli Sri Rama merupakan keputusan yang sangat tepat.
Menurutnya, banyak orang terlalu fokus membeli burung yang sedang juara, tetapi lupa mencari sumber genetik yang menghasilkan para juara tersebut.
“Sok K21 adalah salah satu pejantan yang sudah terbukti mewarnai dunia breeding Indonesia bahkan luar negeri selama lebih dari dua puluh tahun. Kalau saya melihat, apa yang dilakukan Pak Sularno sangat benar. Beliau membeli sumber darahnya, bukan hanya mengejar hasil akhirnya,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, H. Nunu bahkan memperkirakan Sri Rama bisa menjadi salah satu generasi terakhir dari trah MMC 2 yang benar-benar masih murni dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Bila prediksi tersebut benar, maka keberadaan Sri Rama di kandang Tiga F Bird Farm akan menjadi aset genetik yang sangat langka.
Anang Teratai: Disilangkan dengan Savesevic Bisa Jadi Trah Emas
Pandangan serupa juga disampaikan breeder senior Anang Teratai.
Dalam obrolan santai bersama para kung mania, Anang menyebut Sri Rama masih memiliki potensi luar biasa apabila dipadukan dengan trah yang tepat.
“Kalau nanti dipadukan dengan trah Savesevic dan hoki breeding Tiga F sedang bagus, saya yakin bisa lahir trah yang benar-benar luar biasa. Potensinya sangat besar,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa proyek breeding yang sedang disusun Tiga F bukanlah proyek jangka pendek.
Setelah Gladius, Kini Sri Rama
Sebelum berhasil mendapatkan Sri Rama, Tiga F Bird Farm lebih dahulu mengamankan pejantan Gladius dari Palem Bird Farm.
Dengan bergabungnya dua nama besar tersebut, banyak kung mania mulai berspekulasi bahwa Tiga F sedang menyusun fondasi breeding elit untuk beberapa tahun ke depan.
Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, H. Sularno akhirnya angkat bicara kepada GoldenVoiceNews.com saat berbincang santai di sela gelaran Liga Batavia di Nusa Bird Farm.
“Alhamdulillah, Sri Rama sudah berhasil kami dapatkan dan sudah di markas tiga f diantar sang juru nego Defri eyaka. Sebelumnya kami juga sudah memperoleh Gladius dari Palem BF. Untuk sementara, burung-burung ini akan kami siapkan sebagai pejantan utama di kandang baru Sindur.”
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak berarti dirinya tidak ingin menjual burung.
“Bukan saya tidak mau menjual. Tetapi sekarang ada tujuan yang lebih besar. Saya ingin mengembangkan trah ini terlebih dahulu. Mudah-mudahan nanti bisa melahirkan generasi baru yang kualitasnya lebih baik lagi,” ujar H. Sularno.
Era Baru Breeding Nasional?
Masuknya Sri Rama ke kandang Tiga F Bird Farm bukan sekadar perpindahan kepemilikan seekor pejantan tua.
Banyak pelaku breeding justru melihatnya sebagai perpindahan sebuah warisan genetika yang telah membentuk wajah dunia perkutut Indonesia selama dua dekade terakhir.
Kini para kung mania tinggal menunggu satu pertanyaan besar.
Akankah Sri Rama kembali melahirkan generasi emas berikutnya dari kandang Sindur?
Jika melihat sejarah panjangnya melahirkan burung-burung fenomenal seperti Legendaris, hingga darahnya mengalir pada Limosin, Sihir, dan Brewok, bukan tidak mungkin babak baru breeding nasional akan dimulai dari kandang Tiga F Bird Farm.
GoldenVoiceNews.com akan terus mengawal perjalanan trah legendaris ini hingga lahir generasi penerus berikutnya.




