Liga Perkutut Madura (LPM) 2026 terus membuktikan diri sebagai salah satu kompetisi perkutut daerah paling bergengsi di Indonesia. Memasuki Seri ke-5 yang digelar di Lapangan Rapa, Omben, Sampang, Minggu (19/7/2026), seluruh kelas berlangsung meriah dengan peserta memenuhi blok lomba. Antusiasme yang terus meningkat menunjukkan bahwa Madura kini menjadi salah satu barometer perkembangan hobi perkutut nasional.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. LPM merupakan kolaborasi empat Pengda P3SI di Pulau Madura, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Sinergi inilah yang membuat setiap seri mampu menghadirkan persaingan berkualitas sekaligus memperkuat pembinaan penghobi, peternak, hingga juri.
Ketua Dewan LPM 2026, H. Azis, menilai perkembangan perkutut di Madura saat ini sangat pesat. Menurutnya, LPM bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga telah melahirkan banyak burung jawara di kawasan Indonesia Timur serta mencetak sejumlah juri nasional yang memiliki kompetensi tinggi.
Ia juga menilai wacana menjadikan Madura sebagai salah satu sentra perkutut Indonesia merupakan langkah yang sangat realistis. Aktivitas lomba yang rutin, pembinaan yang berkelanjutan, dan tingginya partisipasi penghobi menjadi modal kuat untuk mewujudkan program tersebut.
Pengda Sampang Kembali Tunjukkan Kapasitas
Liga Perkutut Madura Seri 5 menjadi bukti kesiapan Pengda Sampang sebagai penyelenggara. Bersama Pengcam Omben dan Karangpenang, panitia berhasil menggelar lomba dengan tertib dan penuh semangat kebersamaan.
Prestasi ini semakin mengukuhkan reputasi Pengda Sampang setelah sekitar satu setengah bulan sebelumnya sukses menjadi tuan rumah LPI Trunojoyo Cup 2026.
Perwakilan panitia, Kepala Desa Pandan, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus menghidupkan kegiatan perkutut melalui latihan rutin maupun penyelenggaraan berbagai event.
Menurutnya, keberhasilan lomba merupakan hasil kerja sama seluruh pengurus Pengda Sampang, panitia, serta berbagai pihak yang ikut menyiapkan seluruh kebutuhan perlombaan agar berjalan lancar.
Fair Play Jadi Harga Mati
Sebelum lomba dimulai, seluruh juri mengikuti briefing sebagai bagian dari penguatan integritas penilaian.
Ketua Pengda Bangkalan, Ketua Pengda Sumenep, serta Ketua Pengda Sampang sama-sama mengingatkan pentingnya menjaga sportivitas dalam setiap seri LPM. Mereka berharap seluruh unsur lomba, mulai dari juri, panitia, hingga peserta, memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga ketertiban dan menjunjung tinggi prinsip fair play.
Pesan serupa juga disampaikan Ahmad, juri nasional asal Sampang yang memimpin briefing juri.
Ia menegaskan bahwa seluruh penilaian murni berdasarkan performa burung di lapangan. Tidak ada ruang bagi intervensi peserta terhadap keputusan juri. Sistem penilaian juga diawasi secara berlapis melalui koordinasi antarjuri, dewan juri, pengawas, hingga juri perumus.
Ahmad mengingatkan bahwa prestasi burung pada lomba sebelumnya tidak bisa dijadikan acuan otomatis untuk memperoleh nilai tinggi di pertandingan berikutnya. Burung yang tampil kurang memenuhi kriteria harus dinilai sesuai performanya, sedangkan burung yang memang layak wajib diberikan nilai terbaik tanpa keraguan.
Dewasa Bebas: Camelia Buktikan Burung Senior Belum Habis, Senandung Rindu dan Erdogan Dipaksa Mengalah
Kelas Dewasa Bebas menjadi sajian paling panas di Seri 5 Liga Perkutut Madura. Sorotan tertuju pada Camelia milik H. Sunahwi/Talango, Sumenep yang sukses mengakhiri penantian panjang dengan kembali berdiri di podium tertinggi. Burung bergelang Ababil dengan gantangan 273 itu tampil sangat stabil hingga mengoleksi 150 poin.
Yang menarik, Camelia bukan lagi burung muda. Menurut peternaknya, usia Camelia sudah mendekati enam tahun, namun kualitas anggung, irama, dan mental tarungnya masih sanggup menundukkan para pesaing yang jauh lebih muda. Bukti nyata bahwa kualitas sejati tidak mengenal usia.
Posisi kedua diraih Senandung Rindu milik H. Handang, Semarang, bergelang Atlas dengan 130 poin. Burung gantangan 260 ini beberapa kali memberikan tekanan serius kepada Camelia, tetapi harus puas finis sebagai runner-up.
Sementara Erdogan milik H. Yazid RM, Pamekasan bergelang AZ/RM menempati posisi ketiga dengan 100 poin. Persaingan tiga besar berlangsung ketat hingga akhir penilaian dan menjadi salah satu duel terbaik sepanjang gelaran LPM musim ini.

Piyik Bebas: Paku Alam Menang Tipis, Kompak Terus Mengancam Hingga Peluit Akhir
Pertarungan Piyik Bebas tidak kalah seru. Sejak awal penilaian, duel hanya mengerucut pada dua nama, yakni Paku Alam milik H. Fahmi/Sekar Anom Pamekasan dan Kompak milik Mahrus M2 Bejo.
Paku Alam yang bergelang Naura tampil sangat matang untuk ukuran piyik. Burung gantangan 152 tersebut akhirnya mengumpulkan 150 poin dan berhak membawa pulang gelar juara pertama.
Namun, kemenangan itu tidak diraih dengan mudah. Kompak bergelang HMD terus membayangi sepanjang pertandingan. Burung gantangan 88 itu tampil konsisten hingga mengoleksi 130 poin dan hanya terpaut satu tingkat dari sang juara.
Podium ketiga menjadi milik Eclipse bergelang Legowo milik H. Junaidi, Surabaya. Dengan 100 poin, Eclipse kembali menunjukkan dirinya sebagai salah satu piyik yang layak diperhitungkan dalam persaingan di blok timur.

Piyik Yunior: Adi Putro Melesat, Terpesona dan Putra Seruni Beri Perlawanan Sengit
Kelas Piyik Yunior menghadirkan persaingan yang tidak kalah menarik. Adi Putro milik Heru NHD, Sumenep, tampil paling konsisten sejak awal penilaian.
Burung bergelang Putra Mandiri di gantangan 175 itu sukses mengoleksi 150 poin dan memastikan diri menjadi kampiun kelas Piyik Yunior.
Di belakangnya, Terpesona milik Aba Jasah, Pamekasan, bergelang Syani Ras memberikan tekanan sepanjang lomba. Dengan 130 poin, Terpesona harus puas menempati posisi kedua.
Sedangkan Putra Seruni milik H. Hulk/Seruni Sampang bergelang PH menutup podium tiga besar setelah mengumpulkan 100 poin. Tiga burung ini menjadi pusat perhatian karena sama-sama memperlihatkan kualitas calon bintang masa depan Madura.

Piyik Hanging: Arjuna Belum Temukan Penantang, Palestine dan Putra Madura Mengejar
Dominasi Arjuna kembali berlanjut di kelas Piyik Hanging. Burung milik H. Rian/Sinar Putra Group, Pamekasan, bergelang Tak Nyana seolah belum menemukan lawan sepadan.
Turun di gantangan 33, Arjuna kembali tampil luar biasa hingga mengumpulkan 150 poin. Kemenangan ini memperpanjang rekor impresifnya yang dalam beberapa bulan terakhir nyaris selalu mengakhiri lomba di podium pertama.
Posisi kedua ditempati Palestine milik Holik JBN, Bangkalan bergelang JBN dengan 130 poin. Penampilannya cukup meyakinkan, namun masih belum mampu menghentikan dominasi Arjuna.
Sementara Putra Madura milik Ibnu Rizky, Pamekasan bergelang Kanjeng Lora mengamankan posisi ketiga dengan 100 poin. Meski gagal menjadi juara, performanya menunjukkan potensi besar untuk menjadi penantang serius pada seri-seri berikutnya.
Empat kelas utama di Seri 5 Liga Perkutut Madura kembali memperlihatkan kualitas kompetisi yang sangat tinggi. Mulai dari kebangkitan burung-burung senior seperti Camelia hingga dominasi Arjuna di kelas Hanging, seluruh pertandingan berlangsung sengit dan menjadi bukti bahwa LPM kini menjadi salah satu liga daerah dengan persaingan paling kompetitif di Indonesia.




