Gelaran Konkurs Bupati Ponorogo Cup 2026 yang digelar Pengda Ponorogo, Minggu (30/8/2026), berlangsung meriah dengan persaingan ketat di tiga kelas, yakni Piyik Bebas, Piyik Yunior, dan Piyik Hanging. Membludaknya peserta membuat arena Pengda Ponorogo di Sinduro menjadi pusat perhatian kungmania dari berbagai daerah, mulai Ponorogo, Tulungagung, Blitar, Kediri, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Surabaya, Bojonegoro, Sidoarjo hingga sejumlah kota lainnya.
Sejak pendaftaran dibuka, antusiasme peserta langsung tinggi. Suwito SPD BF, selaku ketua panitia, menjelaskan bahwa jumlah peserta akhirnya mendorong panitia untuk memilih Lapangan Pengda di Sinduro karena memiliki kapasitas yang lebih memadai untuk memainkan enam blok.
“Pesertanya langsung membludak sejak pendaftaran dibuka. Karena itu, kami memilih Lapangan Pengda di Sinduro yang lebih layak untuk menampung kerekannya,” jelas Suwito.
Bagi Pengda Ponorogo, Bupati Ponorogo Cup bersama Grebek Suro Cup menjadi salah satu agenda penting dalam kalender lomba daerah. Suksesnya gelaran kali ini juga tidak lepas dari kekompakan panitia, dukungan pengurus Pengwil Jatim, para ketua Pengda serta kungmania yang datang dari berbagai wilayah.
Ketua Pengda Ponorogo, H. Suyuti, turut memberikan apresiasi terhadap kerja panitia. Menurutnya, Pengda Ponorogo akan terus mendukung agenda lomba yang telah tersusun dan memberikan ruang bagi perkembangan dunia perkutut di wilayah tersebut.
Salah satu catatan menarik dari Bupati Ponorogo Cup 2026 turunnya burung berkualitas yang bercokol di klasemen LPI
Bupati Ponorogo Cup 2026 menjadi bukti bahwa nama besar dan pengalaman di arena LPI bukan jaminan untuk selalu berada di podium. Beberapa burung yang biasa menjadi perhatian di lomba-lomba besar belum mampu tampil maksimal, sementara burung-burung lain memanfaatkan momentum untuk mengukir prestasi.
Kondisi ini justru membuat perjalanan kompetisi semakin menarik. Burung baru dan pendatang yang mulai naik daun kini memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus membangun reputasi di tengah persaingan perkutut nasional yang semakin ketat.
Bagi para pemain, hasil Ponorogo bukan sekadar catatan juara, tetapi juga bahan evaluasi untuk menyiapkan amunisi menghadapi agenda berikutnya HB Cup. data medsos media online

Cah Nganjuk Bikin Kejutan di Piyik Bebas
Kejutan terbesar muncul dari kelas Piyik Bebas. Cah Nganjuk milik Bambang S dari Surabaya, bergelang Al Kabiir dengan gantangan 224, berhasil merebut podium pertama.
Cah Nganjuk tampil sebagai salah satu amunisi yang mulai mencuri perhatian. Kemenangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Bambang S masih memiliki stok materi hasil ternak sendiri yang mampu bersaing di kelasnya.
Yang menarik, sejumlah burung yang sudah lebih dulu dikenal di berbagai arena belum mampu mengambil posisi teratas. Kali ini panggung justru menjadi milik Cah Nganjuk yang berhasil menjaga perolehan poin hingga akhir.
Soimah bergelang HDL menempati posisi kedua, sementara Monster bergelang Alexander berada di urutan ketiga. Perebutan lima besar semakin panas karena Janoko dan Red Bull terus menguntit hingga akhirnya harus puas berada di posisi keempat dan kelima.
Lima Besar Piyik Bebas
- Cah Nganjuk – Bambang S/Surabaya – Al Kabiir – Gantangan 224
- Soimah – Samuel BT/Lombok NTB – HDL – Gantangan 233
- Monster – Soni Hartanto/Surabaya – Alexander – Gantangan 239
- Janoko – H Zainal/Krian Sidoarjo – Grand – Gantangan 222
- Red Bull – H Iwan/Jombang – WK – Gantangan 253
Hasil ini menjadi salah satu kejutan karena sejumlah burung yang biasa meramaikan pentas LPI belum tampil maksimal, sementara nama baru justru mampu memanfaatkan momentum dan mengunci podium.
Haitam Berjibaku Amankan Podium Piyik Yunior
Kelas Piyik Yunior juga menyuguhkan pertarungan yang tidak kalah menarik. Haitam, bergelang Stya dengan gantangan 153 milik Pramando dari BSD Tangerang, akhirnya keluar sebagai pemenang.
Perjalanan Haitam menuju podium tidak berlangsung mudah. Sejak awal babak, persaingan berlangsung rapat sehingga setiap perolehan poin menjadi sangat penting. Konsistensi akhirnya membawa Haitam bertahan di posisi teratas.
Semesta Alam bergelang NN 99 menempati posisi kedua, sedangkan Cah Ningrat bergelang Atlas merebut podium ketiga. Prestasi Cah Ningrat sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri karena Bojonegoro berhasil memiliki wakil di tiga besar.
Bader dan Copet melengkapi lima besar.
Lima Besar Piyik Yunior
- Haitam – Pramando/BSD Tangerang – Stya – Gantangan 153
- Semesta Alam – Arjuno/Jakarta – NN 99 – Gantangan 172
- Cah Ningrat – Arivie Nano/Bojonegoro – Atlas – Gantangan 133
- Bader – Team Santri/Rembang – Father – Gantangan 166
- Copet – H Sugi/Pacitan – WA – Gantangan 107
Apollo Tak Terbendung di Piyik Hanging
Sementara itu, kelas Piyik Hanging menjadi panggung bagi Apollo. Burung bergelang NN 99 dengan gantangan 74 yang dikawal Andy Hajar dari Gorontalo berhasil menempati posisi pertama.
Apollo mampu mengungguli persaingan dengan sejumlah jago lokal maupun tamu dari luar Ponorogo. Bunga Desa bergelang Fajar berada di posisi kedua, sedangkan Black Bull bergelang Chelsea mengamankan podium ketiga.
Pertarungan belum berhenti sampai tiga besar. Sutradara dan Hidayah juga mampu masuk lima besar, membuat kelas hanging menjadi salah satu persaingan yang menarik sepanjang gelaran.
Lima Besar Piyik Hanging
- Apollo – Andy Hajar/Gorontalo – NN 99 – Gantangan 74
- Bunga Desa – H Ling/Singapore – Fajar – Gantangan 52
- Black Bull – Tim Chelsea & Goendul/Surabaya – Chelsea – Gantangan 56
- Sutradara – H Si Doel/Surabaya – WDT – Gantangan 29
- Hidayah – H Radhmad/Surabaya – MB – Gantangan 36
Suwito SPD bersama seluruh panitia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang ikut menyukseskan gelaran tersebut. Bupati Ponorogo Cup 2026 akhirnya bukan hanya menjadi ajang perebutan juara, tetapi juga panggung munculnya kejutan-kejutan baru dari lapangan.





