Di saat banyak daerah mulai kebingungan mencari regenerasi juri perkutut, Pengda P3SI Sleman justru memilih tancap gas. Di bawah komando Agus Hendratno Samirono, program pembinaan juri kini digelar secara rutin demi melahirkan generasi pengadil lapangan yang tajam telinga, jernih penilaian, dan kuat mental menghadapi protes para kung mania.
Kalau biasanya hari libur identik dengan rebahan, para calon juri di Sleman justru sibuk “olahraga telinga”. Mereka diajak mendengar suara perkutut dari pagi hingga siang, membedakan irama, kualitas depan, tengah, dan ujung, hingga belajar menentukan nilai secara objektif.
Bukan perkara mudah. Sebab di dunia perkutut, membedakan suara burung berkualitas itu kadang lebih sulit dibanding membedakan kopi tubruk dengan kopi susu kalau diminumnya sambil merem.
Regenerasi Juri Jadi Misi Penting
Program pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari pendidikan dan pelatihan (diklat) juri yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Kini para peserta terus diasah melalui latihan rutin dua kali setiap bulan.
Tujuannya jelas: mempercepat lahirnya stok juri berkualitas di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Sleman.
Maklum saja, sebagian juri senior kini sudah memasuki masa yang lebih nyaman menikmati sore bersama cucu di rumah sambil menyeruput kopi hangat daripada berdiri seharian di tengah lapangan.
Kalau mereka semua pensiun bersamaan, siapa yang akan menancap koncer?
Jangan sampai nanti burung sudah berbunyi tiga warna, jurinya malah sibuk mencari posisi paling teduh di bawah pohon hahah

Lomba Ramai Harus Diimbangi Juri Berkualitas
Agus Hendratno Samirono memahami betul bahwa kesuksesan lomba bukan hanya soal banyaknya peserta.
Lapangan penuh memang membanggakan. Tiket habis tentu menggembirakan. Namun, semuanya akan sia-sia bila penjurian tidak berjalan baik.
Di dunia perkutut, juri merupakan “wasitnya suara”. Ketelitian mereka menentukan kepuasan peserta sekaligus menjaga marwah perlombaan.
Karena itulah Pengda Sleman memilih membangun fondasi dari sekarang. Mereka tidak ingin kekurangan juri menjadi persoalan di masa depan.
Tiket Bersahabat, Pelayanan Sultan
Yang menarik, kegiatan latihan sekaligus lomba ini hanya mematok tiket Rp25.000 per ekor.
Murah?
Sangat.
Tetapi jangan salah sangka.
Harga ekonomis sama sekali tidak membuat panitia pelit pelayanan.
Justru inilah ciri khas Pengda Sleman.
Begitu peserta datang, mereka langsung disambut dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Dan ketika waktu makan tiba, semua mata otomatis mengarah ke menu andalan yang sudah melegenda.
Brongkos, Sang Juara Tak Terkalahkan
Kalau burung berlomba mencari koncer, para kung mania justru berlomba menuju meja makan.
Menu brongkos khas Yogyakarta kembali menjadi primadona di Lapangan Karanggayam, Jalan Sendok, Sleman.
Konon ada yang bercanda bahwa setelah selesai menggantung burung, peserta lebih dulu memastikan satu hal.
“Brongkosnya masih ada, kan?”
Untungnya panitia sudah hafal karakter peserta. Jadi stok brongkos disiapkan lebih matang daripada strategi burung menghadapi babak final.
Sleman Sedang Menanam Masa Depan
Langkah yang dilakukan Agus Hendratno Samirono layak diapresiasi. Di tengah semakin ramainya dunia perlombaan perkutut, kebutuhan akan juri yang profesional menjadi sesuatu yang tidak bisa ditunda.
Melalui latihan rutin, pembinaan berkelanjutan, dan suasana belajar yang santai namun serius, Sleman sedang menanam investasi besar bagi masa depan perkutut DIY.
Hari ini mungkin masih latihan.
Besok mereka menjadi juri.
Lusa, mereka yang menentukan lahirnya para juara nasional.
Dan kalau semua program ini berjalan konsisten, bukan tidak mungkin Sleman akan dikenal bukan hanya sebagai gudangnya burung berkualitas, tetapi juga sebagai “kampus” pencetak juri-juri perkutut terbaik Indonesia.



