
KLH Cup yang menjadi seri kelima Liga Perkutut Indonesia (LPI) di Lapangan Eraska, Bekasi, kembali menjadi buah bibir di kalangan penghobi. Bukan hanya karena persaingan di lapangan, tetapi juga karena kemewahan penyelenggaraannya yang dinilai berada di level berbeda dibandingkan dengan event nasional sebelumnya.
Dari berbagai aspek penyelenggaraan, ada satu hal yang dianggap hampir mustahil ditiru oleh panitia lain, yakni jumlah dan nilai piala yang disiapkan. Inilah salah satu alasan mengapa KLH Cup disebut sebagai salah satu lomba perkutut paling spektakuler yang pernah digelar Pengwil P3SI Jabodetabek.
Jumlah Piala Jauh Melampaui Standar Nasional
KLH Cup Bekasi menghadirkan jumlah piala yang tidak lazim untuk sebuah lomba perkutut.
Pada kelas empat blok, panitia menyiapkan hingga 30 piala. Padahal, dalam penyelenggaraan lomba pada umumnya, jumlah piala untuk format serupa biasanya hanya sekitar 20 piala.
Kemewahan itu kembali terlihat pada perlombaan hari Minggu. Untuk dua blok dengan dua kelas, panitia tetap memberikan 25 piala per kelas, sementara penyelenggara lain umumnya hanya menyediakan sekitar 15 piala.
Perbedaan inilah yang membuat banyak penghobi menilai KLH Cup memiliki standar pelayanan kepada peserta yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan event nasional lainnya.
Anggaran Piala Diperkirakan Hampir Menyentuh Rp100 Juta
Kemewahan tersebut tentu tidak lepas dari besarnya anggaran yang harus disiapkan panitia.
Menurut Mas Bilah Bagus BF, yang pernah menjadi Ketua Pelaksana KLH Cup saat masih digelar di BSD, harga sebuah piala bergilir pada masa itu sudah mencapai sekitar Rp5 juta.
Sementara piala tetap untuk juara 1, 2, dan 3 saat itu berkisar Rp500 ribu, sedangkan saat ini diperkirakan telah naik menjadi sekitar Rp750 ribu.
Adapun piala-piala kecil yang menggunakan mika, mulai peringkat 4 hingga 30, menurutnya juga memiliki harga yang tidak murah, bahkan dapat mencapai sekitar Rp500 ribu per buah.
Berdasarkan perhitungan tersebut, Mas Bilah memperkirakan anggaran yang dikeluarkan panitia hanya untuk kebutuhan piala hampir mencapai Rp100 juta.
Belum termasuk hadiah uang tunai yang disediakan panitia dengan nilai sekitar Rp50 juta.
Angka tersebut menunjukkan besarnya komitmen Pengwil Jabodetabek dalam menghadirkan lomba yang memberikan penghargaan maksimal kepada para peserta.
Mewah, Tetapi Peserta Hari Minggu Belum Maksimal
Di balik kemegahan tersebut, Mas Bilah menilai masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Faktanya, jumlah peserta pada perlombaan hari Minggu belum mampu memenuhi harapan panitia meskipun hadiah dan fasilitas sudah sangat menarik.
Menurutnya, kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor yang sulit diabaikan karena biaya mengikuti lomba perkutut memang tidak murah.
Selain itu, tidak semua penghobi memiliki burung dewasa dengan kualitas yang mampu bersaing di kelas utama.
Faktor lain yang juga dinilai ikut memengaruhi adalah sistem penilaian yang masih menjadi bahan diskusi di kalangan penghobi.
Usulan Kelas LPI Utama dan Kelas Non-LPI
Mas Bilah menawarkan sebuah konsep yang menurutnya layak dipertimbangkan untuk musim kompetisi berikutnya.
Ia mengusulkan agar pada lomba hari Minggu dibuka kelas LPI Utama dengan tiket sekitar Rp500 ribu.
Kelas tersebut hanya diisi sekitar 30 peserta, atau maksimal 60 peserta apabila menggunakan dua blok, sehingga sesuai dengan kebutuhan klasemen Liga Perkutut Indonesia saat ini.
Juara diberikan hingga peringkat 30 sehingga peserta benar-benar memperoleh penghargaan yang sepadan dengan kualitas burung yang diturunkan.
Di luar kelas tersebut, panitia dapat membuka kelas Dewasa Non-LPI dengan harga tiket yang jauh lebih terjangkau, sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.
Menurut Mas Bilah, konsep seperti ini bukan bentuk diskriminasi, melainkan penyesuaian layanan berdasarkan kualitas kompetisi.
Ia mengibaratkannya sebagai dunia penerbangan yang memiliki kelas bisnis dan kelas ekonomi. Keduanya sama-sama mendapatkan pelayanan, tetapi dengan fasilitas yang berbeda sesuai kebutuhan.
Menyamakan Tiket Belum Tentu Adil
Mas Bilah menilai sistem tiket yang sama untuk semua peserta justru belum tentu mencerminkan rasa keadilan.
Menurutnya, tidak adil apabila pemilik burung dengan kualitas biasa harus membayar tiket yang sama dengan peserta yang membawa burung berkualitas sangat tinggi dengan nilai burungnya mencapai ratusan juta rupiah.
Perbedaan kualitas burung memang merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Karena itu, sistem kompetisi seharusnya mampu memberikan ruang bagi seluruh penghobi agar tetap memiliki peluang menikmati prestasi sesuai kelas yang diikuti.
Dengan model tersebut, peserta kelas utama akan memperoleh gengsi dan kenyamanan karena bersaing dengan burung-burung terbaik.
Sementara peserta non-LPI juga tetap merasa bangga ketika berhasil menjadi juara dalam event nasional tanpa merasa hanya menjadi pelengkap kompetisi.
Golden Voice News: Keadilan Bukan Selalu Berarti Sama Rata
Menurut pandangan Golden Voice News, keadilan dalam sebuah kompetisi bukan berarti seluruh peserta harus memperoleh harga tiket maupun fasilitas yang sama.
Keadilan justru hadir ketika semua penghobi memperoleh kesempatan yang setara untuk meraih prestasi sesuai kualitas burung yang dimiliki.
Perbedaan kualitas burung, mulai dari dua warna hingga empat warna, bahkan perbedaan nilai ekonomi dari jutaan hingga ratusan juta rupiah, merupakan fakta yang nyata di dunia perkutut.
Karena itu, sistem perlombaan juga perlu mengikuti realitas tersebut agar mampu melayani seluruh lapisan penghobi secara lebih proporsional.
Evaluasi Penilaian Dinilai Sangat Penting
Selain persoalan tiket, Mas Bilah juga menilai sistem penilaian perlu menjadi prioritas evaluasi menjelang musim kompetisi berikutnya.
Menurutnya, aturan penilaian harus benar-benar dijalankan secara konsisten dan tidak berubah-ubah dari kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Ia mengaku siap mendorong rekan-rekan yang memiliki kapasitas dalam bidang penilaian untuk kembali duduk bersama membahas penyempurnaan sistem tersebut.
Mas Bilah sendiri pernah menjadi salah satu undangan khusus dalam diskusi mengenai sistem penilaian yang berlangsung di Bangkalan beberapa waktu lalu.
Selain itu, ia juga berharap jadwal lomba tidak dibuat terlalu padat karena terlalu sering menggelar perlombaan juga berdampak terhadap kondisi ekonomi para penghobi.
Saatnya Berani Berubah
KLH Cup bekasi telah menunjukkan bahwa sebuah lomba nasional bisa diselenggarakan dengan standar hadiah dan penghargaan yang sangat tinggi.
Namun, kemewahan penyelenggaraan saja belum cukup apabila belum diikuti sistem kompetisi yang mampu mengakomodasi seluruh lapisan penghobi.
Perubahan pola kelas, sistem tiket, jadwal lomba, hingga konsistensi penilaian menjadi beberapa gagasan yang kini mulai mendapat perhatian.
Pada akhirnya, hobi perkutut adalah ruang untuk mencari hiburan, menjalin persaudaraan, dan menghilangkan kepenatan. Karena itu, setiap kritik dan usulan seharusnya dipandang sebagai bagian dari upaya bersama untuk membuat dunia perkutut Indonesia menjadi lebih nyaman, lebih sehat, dan semakin berkembang pada masa mendatang.
“hobi ini hobi bersama tempat kita untuk berekreasi menghilangkan penat mengurangi ketegangan dalam seharian jadi dalam menjalani hobi ini kita tidak boleh juga emosional tidak boleh menyikapi sesuatu itu dengan sudut pandang yang sempit karena apa yang tersurat dengan tersirat itu tidak sama tidak semua yang kita baca itu sama makna dengan apa yang tersirat dari apa yang dituliskan jadi satu hal kalau kita tidak mau dibilang orang yang emosional pastikan kita itu memahamkan diri sendiri bahwa hobi ini hiburan Apapun yang terjadi pasti tidak ada kaitannya dengan personal ini hanya persoalan bagaimana kita berusaha atau berupaya menjadikan hobi ini jauh lebih nyaman untuk di kemudian hari”.
TETAP BERSAMA pakan perkutut golden voice dan web site kung mania lucu lucuan



