KLH Cup Tuntas, Pembubaran Panitia Berlangsung Hangat: Orkes Melayu, Kambing Guling hingga Musang #1King

KLH Cup tuntas dan  resmi ditutup  dengan sukses dan jadi kenangan tersendiri bagi yang hadir. Bukan hanya sukses di lapangan, tetapi juga sukses meninggalkan cerita yang akan menjadi bahan obrolan kung mania hingga gantangan berikutnya.

Kalau biasanya lomba selesai lalu semua pulang membawa sangkar dan kenangan, kali ini ceritanya berbeda. Setelah para jawara naik podium dan sorak-sorai mereda, panitia justru menggelar “babak bonus” yang tidak kalah heboh. Rasanya seperti final sepak bola yang masih ditambah konser kemenangan.

Harus diakui, tanpa bermaksud mengurangi penghargaan kepada daerah lain yang pernah menjadi tuan rumah Liga Perkutut Indonesia, kemasan KLH Cup di bawah Pengwil Jabodetabek menghadirkan standar baru. Mulai dari penataan arena, pelayanan peserta, hadiah, hingga suasana kekeluargaan, semuanya dikemas mewah dan profesional.

Kesuksesan sebesar ini tentu bukan hasil kerja satu atau dua orang. Di balik megahnya penyelenggaraan, ada puluhan tangan yang bekerja sejak pagi hingga malam. Ada yang mengangkat gantangan, mengatur parkir, menyiapkan konsumsi, mengurus administrasi, hingga memastikan setiap kelas berjalan tepat waktu.

Di bawah komando Ketua Pelaksana Rudi Rudianto AF serta pengawasan langsung Ketua Pengwil Jabodetabek H. Sularno 3F, seluruh panitia mampu bekerja layaknya mesin yang sudah disetel sempurna. Koordinasi berjalan rapi, komunikasi lancar, dan setiap persoalan dapat diselesaikan dengan cepat.

Kalau harus mencari “cacat” dalam pesta semegah ini, mungkin hanya satu. Bukan soal juri, bukan soal hadiah, bukan soal peserta, melainkan gantangan yang sempat patah. Untungnya kejadian tersebut langsung ditangani sehingga tidak mengganggu jalannya perlombaan secara keseluruhan.

Usai seluruh rangkaian lomba berakhir, H. Sularno memilih menutup cerita KLH Cup dengan cara yang benar-benar berkelas. Sebagai bentuk syukur sekaligus ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras, seluruh panitia, pengurus, juri, hingga pihak pendukung diundang menghadiri acara pembubaran panitia di kawasan Gunung Sindur.

Nah, di sinilah suasana berubah total.

Kalau di lapangan para peserta tegang menunggu nilai burung, di acara pembubaran semua berubah menjadi pesta kekeluargaan. Tidak ada lagi wajah serius. Yang ada justru gelak tawa, canda tanpa sekat, dan obrolan panjang mengenang berbagai cerita selama persiapan hingga pelaksanaan KLH Cup.

Panitia dibuat terhibur dengan penampilan Orkes Melayu yang sukses menghidupkan suasana. Ada saja yang awalnya hanya berniat makan, ujung-ujungnya ikut bergoyang. Bahkan beberapa panitia yang sebelumnya sibuk mengatur jalannya lomba kini berganti profesi menjadi “penikmat musik dadakan.”

Namun, yang paling menjadi rebutan tentu bukan mikrofonnya.

Melainkan hidangan yang benar-benar membuat mata berbinar.

Kambing guling tersaji lengkap dengan aneka masakan khas lainnya. Belum puas sampai di situ, hadir pula durian Musang King, buah premium yang sudah seperti menu wajib setiap kali H. Sularno menggelar acara besar. Di kalangan kung mania bahkan muncul celetukan, “Kalau sudah ada Musang King, berarti acaranya resmi ditutup dengan kemewahan.”

Dalam sambutannya, Rudi Rudianto AF menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia.

Menurutnya, keberhasilan KLH Cup adalah hasil kerja bersama, terutama rekan-rekan yang sejak awal mempersiapkan lapangan hingga perlombaan berjalan lancar.

“Kekurangan pasti ada. Justru dari kekurangan itulah kita belajar supaya ke depan bisa lebih baik lagi. Yang terpenting, semangat kebersamaan ini jangan sampai hilang,” ujarnya.

Sementara itu, H. Sularno menyampaikan rasa syukur karena di penghujung masa kepengurusannya bersama jajaran Pengwil Jabodetabek, mereka masih mampu menghadirkan sebuah event yang mendapat apresiasi luas dari peserta berbagai daerah.

Ia mengakui selama lima tahun memimpin, setiap penyelenggaraan Liga Perkutut Indonesia yang dipercayakan kepada Pengwil Jabodetabek selalu diupayakan berjalan sebaik mungkin.

“Tidak ada manusia yang mampu menghadirkan kesempurnaan. Yang bisa kami lakukan adalah memberikan kemampuan terbaik agar peserta merasa nyaman dan menikmati perlombaan,” ungkapnya.

Di balik rasa syukur itu, H. Sularno juga menyimpan sedikit kekecewaan. Ia mengungkapkan bahwa Presiden Cup yang sebelumnya diharapkan menjadi puncak atau “gong” penutup masa kepengurusannya akhirnya batal terlaksana.

Menurutnya, gagalnya agenda tersebut lebih disebabkan kurangnya komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat sehingga rencana besar itu belum dapat diwujudkan.

Meski demikian, H. Sularno tetap optimistis. Ia berharap kepengurusan berikutnya mampu mewujudkan mimpi menghadirkan Presiden Cup, sehingga event tersebut benar-benar menjadi pesta akbar yang dinanti seluruh kung mania Indonesia.

KLH Cup akhirnya resmi menutup buku LPI Seri 5. Namun cerita tentang kemewahan penyelenggaraan, solidnya panitia, kambing guling yang ludes diserbu, hingga Musang King yang menjadi “juara kelas bebas makan” tampaknya akan terus dikenang.

Sebab pada akhirnya, lomba memang mencari juara. Tetapi kebersamaanlah yang membuat semua orang ingin kembali datang di event berikutnya

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news