AL KHABiiR TAHAN LAJU EL ZERO MIEDO

Ummar Bin Khatab” Meledak di Marina, Drama Juri Tertukar Tak Hentikan Lahirnya Juara Baru

AL KHABIIR PETERNAK BARU MENANG LPI — Gelaran Liga Perkutut Indonesia (LPI) Tugu Muda Cup Seri 3 di Lapangan Marina Semarang menjadi salah satu episode paling penuh warna sepanjang musim ini. Bukan hanya karena kualitas peserta yang membludak di kelas dewasa senior dan yunior, tetapi juga karena drama teknis yang sempat mengguncang jalannya lomba.

Dibuka langsung oleh Ketua Umum LPI, Mayjen (Purn) Zainury Hasyim, lomba berjalan dalam kondisi cuaca cerah berbalut mendung tipis—situasi ideal yang membuat performa burung mencapai puncaknya. Sejak peluit pertama, koncer tiga warna langsung bermunculan di berbagai titik kerekan, menandakan persaingan berlangsung panas sejak awal.

Namun, jalannya lomba sempat ternoda insiden “juri tertukar”. Kesalahan penempatan juri di awal babak, ditambah keputusan mengganti juri saat penilaian masih berlangsung, memicu protes keras dari peserta. Kondisi makin kacau ketika koordinator juri berpindah blok secara tiba-tiba, membuat perhitungan yang sedang berjalan harus diulang dari nol. Banyak peserta yang merasa dirugikan, terutama mereka yang sudah berada di jalur koncer tiga warna.

Meski begitu, babak demi babak tetap berjalan dan kualitas burung akhirnya kembali menjadi penentu utama.

Memasuki babak kedua hingga ketiga kelas dewasa senior, dua nama besar langsung mengemuka: El Zero Miedo (Cokro Hindoyo, Lombok) dan RedBull (H. Iwan, Jombang). Keduanya tampil stabil dan menancapkan bendera hitam, mempertegas status sebagai unggulan.

Publik pun hampir serempak memprediksi El Zero Miedo akan kembali menguasai podium. Namun, prediksi itu runtuh di babak krusial.

Dari kerekan 136, Ummar Bin Khatab ring Al Khabiir milik Bambang S. (Surabaya) muncul sebagai kuda hitam yang tak terbendung. Suara angkatan depan yang bersih, ritme stabil, dan tekanan yang konsisten membuatnya mencuri perhatian juri. Puncaknya terjadi di babak ketiga dan keempat, saat Ummar bin Khattab mengoleksi koncer penting—termasuk tiga hitam penentu—yang langsung mengunci kemenangan.

Dengan total 150 poin, Ummar bin Khattab resmi keluar sebagai juara pertama, sekaligus menghentikan dominasi El Zero Miedo yang harus puas di posisi ketiga dengan 100 poin.

Posisi runner-up ditempati Red Bull (125 poin) milik H. Iwan, yang tampil konsisten sejak awal. Sementara posisi berikutnya diisi oleh nama-nama kuat dari berbagai daerah, menandakan meratanya kualitas burung di level nasional.

Hasil Lengkap Dewasa Senior:

  1. Ummar Bin Khatab – Al Khabiir (Bambang S., Surabaya) – 150 poin
  2. RedBull – WK (H. Iwan, Jombang) – 125 poin
  3. El Zero Miedo – Pratama (Cokro Hindoyo, Lombok) – 100 puntos
  4. Mahabarata – WA (Agil Mersono Team JBM, Cirebon) – 90 poin
  5. Camelia – Ababil (H. Sunahwi, Sumenep) – 80 poin
  6. Senandung Rindu – Atlas (Handoyo, Semarang) – 70 poin
  7. Bisma – ANJANI (Team Punto, Jakarta) – 60 poin
  8. Pesona Indonesia – Samirono (Agus Hendratno, Sleman) – 50 poin
  9. Chiki-chiki – WS BF (Team Punto, Jakarta) – 40 poin
  10. Monster – Alexander (Sony Hartanto, Surabaya) – 30 points
  11. Sandur – Kemilau Sutra (Team Punto, Jakarta) – 25 poin
  12. Maroko – Bintang (H. Iwan, Jombang) – 20 poin
  13. Valent – Kemilau Sutra (H. Faisol / H. Ach Faruk, Sampang) – 15 poin
  14. Arung Bintang – 3P BF (H. Sularno, BSD) – 10 poin
  15. Nalendro – WH (H. Abu Sno, Makassar) – 5 points

Kemenangan Ummar bin Khattab menjadi sorotan utama, bukan hanya karena sukses menumbangkan langganan juara, tetapi juga karena langsung memicu rumor take over di arena. Jika kabar ini benar, maka nilai jualnya dipastikan melonjak tajam pascakemenangan spektakuler ini.

Tugu Muda Cup kali ini menyisakan dua catatan penting: pertama, kualitas burung nasional yang semakin merata dan kompetitif; kedua, pentingnya profesionalisme penyelenggaraan agar kejadian serupa tidak terulang.

Di balik segala drama, satu hal yang pasti—bintang baru telah lahir dan peta persaingan LPI resmi berubah.

KUDA HITAM MENGAMUK, PANGGUNG JUNIOR RESMI BERGANTI ARAH
Dominasi Bandung Ditekan, Bekasi Kirim Sinyal Ancaman di Tugu Muda Cup Semarang

Kelas Dewasa Junior dalam gelaran Liga Perkutut Indonesia (LPI) Tugu Muda Cup Seri 3 di Lapangan Marina tampil tak kalah panas dibanding kelas senior. Bahkan, tensinya terasa lebih liar—penuh kejutan, minim kompromi, dan melahirkan bintang baru yang langsung mencuri panggung utama.

Di tengah atmosfer lomba yang sempat diguncang insiden teknis di awal babak, kelas junior justru menunjukkan daya tahan kompetisi yang luar biasa. Sejak babak pertama, koncer demi koncer langsung bertebaran, menandakan kualitas burung muda yang kini semakin matang dan siap naik level.

Nama besar seperti Dede Primarasa (Bandung) sempat mendominasi jalannya lomba lewat dua amunisinya: Desi Ratnasari Reborn dan Bulgary. Keduanya tampil solid, stabil dalam irama, dan konsisten mengumpulkan poin hingga masuk jalur juara.

Namun, seperti judul yang seolah menjadi takdir—“Kuda Hitam” benar-benar mengamuk di arena.

Burung milik Soenardi (Bekasi) ini tampil tanpa banyak sorotan di awal, tetapi perlahan menunjukkan kualitasnya. Dengan suara depan yang tajam, tekanan rapat, dan durasi kerja yang disiplin, Kuda Hitam mulai mencuri perhatian juri di babak kedua dan ketiga.

Puncaknya terjadi di babak penentuan. Saat pesaing lain mulai kehilangan ritme, Kuda Hitam justru tampil semakin stabil. Koncer demi koncer penting berhasil diamankan, hingga akhirnya mengunci posisi puncak dengan 150 poin—sebuah kemenangan telak yang tak terbantahkan.

Sementara itu, Desi Ratnasari Reborn (125 poin) harus puas di posisi kedua, diikuti rekan sekandangnya, Bulgary (100 poin), di peringkat ketiga. Meski gagal merebut podium tertinggi, performa tim Bandung tetap menunjukkan konsistensi sebagai salah satu kekuatan besar di kelas junior.

Persaingan ketat juga terlihat di papan tengah. Nama-nama seperti Parvez (BSD Tangerang), Pidekso (Shorea BF Jogja), hingga Puspita (Wonosobo) saling sikut dalam perebutan posisi lima besar, memperlihatkan bahwa peta kekuatan kini semakin merata.

Hasil Lengkap Dewasa Junior:

  1. Kuda Hitam – Anissa (Soenardi, Bekasi) – 150 poin
  2. Desi Ratnasari Reborn – IBO (Dede Primarasa, Bandung) – 125 poin
  3. Bulgary – HMP PJR (Dede Primarasa, Bandung) – 100 poin
  4. Parvez – Batu Sangkar (Pramando, BSD Tangerang) – 90 poin
  5. Pidekso – JNJ (Shorea BF, Jogja) – 80 poin
  6. Puspita – Ratu (DH Team, Wonosobo) – 70 poin
  7. Pallation – Batu Sangkar (Pramando, BSD) – 60 poin
  8. Siliwangi – Ratu  (DH Team, Wonosobo) – 50 poin
  9. Manik Maya – Khayangan (Shorea BF, Jogja) – 40 poin
  10. Menoro – Fortune 168 (Budi C, Semarang) – 30 poin
  11. Anggun – Dewata Bali (Frans Bellman, Cilegon) – 25 poin
  12. Mystery Samurai – Sadewa (Team Gembredekk, Bantul) – 20 poin
  13. Himalaya – Nusa (H. Wahyu, Bekasi) – 15 poin
  14. Kalady Paris – MRK (H. Budi Kalady, Bantul) – 10 poin
  15. Independent – Ratu (DH Team, Wonosobo) – 5 points

Kemenangan Kuda Hitam menjadi sinyal kuat bahwa peta persaingan kelas junior tak lagi bisa ditebak. Dominasi lama mulai digoyang, dan kekuatan baru bermunculan dengan kualitas yang tak kalah mentereng

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news