Tim Perkutut Bukan Kaleng-Kaleng! Modal Bakar Kertasnya PaLing Gede, Sudah Saatnya Dapat Penghargaan Khusus.#100

Tim Perkutut -Di setiap lomba perkutut, menjadi juara bukan sekadar soal memiliki burung yang bagus. Di balik setiap piala yang dibawa pulang, ada biaya besar, waktu, tenaga, hingga komitmen luar biasa yang harus dikeluarkan para pemilik burung. Semakin besar tim yang dibawa ke arena, semakin besar pula pengorbanan yang harus mereka siapkan.

Tim perkutut kini menjadi salah satu motor penggerak paling penting dalam setiap gelaran konkurs, baik tingkat regional maupun nasional. Mereka datang bukan hanya membawa satu atau dua burung. Sebaliknya, mereka mengangkut armada lengkap yang membuat suasana lomba menjadi jauh lebih meriah.

Kalau di dunia sepak bola ada klub sultan, maka di dunia perkutut ada tim yang datang seperti konvoi ekspedisi. Sekali parkir, isi mobilnya bukan koper, melainkan deretan sangkar yang siap berburu koncer.

Salah satu contoh yang paling sering mencuri perhatian adalah Tim Punto Jakarta. Pada berbagai seri Liga Perkutut Indonesia (LPI), tim ini dikenal mampu mendaftarkan lebih dari 20 ekor burung dalam satu event. Jumlah tersebut membuat nama Tim Punto hampir selalu terlihat dalam daftar peserta maupun daftar peraih piala.

Tak mengherankan jika koleksi trofi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Peluang meraih prestasi tentu semakin besar ketika burung yang diturunkan juga semakin banyak.

Namun, banyak orang lupa bahwa di balik puluhan burung itu terdapat biaya transportasi, pendaftaran, perawatan, konsumsi kru, hingga penginapan yang nilainya tidak sedikit.

Tak kalah spektakuler adalah Tim Primarasa milik Dede Primarasa dari Bandung. Loyalitas tim ini sudah menjadi cerita yang sering dibicarakan di kalangan Kung Mania.

Bahkan pernah ada masa ketika dalam satu pekan mereka mengikuti tiga lomba berbeda di tiga wilayah sekaligus. Ada kru yang berangkat ke Madura, sebagian menuju Jawa Tengah, sementara tim lainnya bertanding di wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek.

Kalau dihitung-hitung, mungkin biaya satu akhir pekan mereka sudah cukup untuk membuat dompet peserta biasa langsung “berkicau minta ampun”.

Di luar dua nama besar tersebut, masih banyak tim lain yang juga konsisten menghidupkan suasana lomba. Sebut saja Carpenter BF, DH Wonosobo, kent bf  dan berbagai tim lain yang selalu hadir membawa bendera tim masing-masing.

Ciri khas mereka hampir sama. Datang bersama beberapa kru, membawa banyak burung, dan hampir selalu mengikuti seluruh kelas yang dipertandingkan.

Bagi panitia, kehadiran tim-tim seperti ini sebenarnya menjadi keuntungan besar. Semakin banyak burung yang didaftarkan, semakin tinggi pula jumlah peserta yang membuat sebuah event semakin hidup.

Mereka bukan hanya membeli tiket lomba, tetapi juga ikut menggerakkan roda ekonomi di sekitar lokasi pertandingan. Mulai dari hotel, rumah makan, hingga pelaku usaha perlengkapan burung ikut merasakan dampaknya.

Karena itulah, muncul sebuah gagasan yang layak dipertimbangkan oleh penyelenggara lomba.

Sudah saatnya ada penghargaan khusus untuk kategori tim.

Konsepnya dapat dibuat sederhana. Tim yang hadir menggunakan nama resmi, mengikuti seluruh kelas, lalu setiap hasil lomba dikumpulkan menjadi poin tim. Pada akhir event, poin tersebut menentukan juara tim terbaik.

Sistem seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Di dunia kicauan, penghargaan seperti Single Fighter maupun kategori tim (BC)  sudah lebih dahulu diterapkan dan terbukti mampu meningkatkan antusiasme peserta.

Mengadopsi konsep serupa ke dunia perkutut tentu bukan sesuatu yang mustahil.

Justru penghargaan tersebut bisa menjadi bentuk apresiasi terhadap loyalitas para tim yang selama ini rela mengeluarkan biaya besar demi menjaga semaraknya setiap lomba.

Bayangkan saja, tanpa kehadiran tim-tim besar itu, lapangan mungkin tetap ramai. Namun, atmosfer persaingan tentu tidak akan sehidup sekarang.

Persaingan antartim membuat setiap babak semakin menegangkan. Penonton ikut menghitung koncer, peserta saling mengintip papan nilai, sementara kru sibuk berpindah dari gantangan satu ke gantangan lain.

Itulah bumbu yang membuat konkurs perkutut semakin menarik untuk dinikmati.

Pada akhirnya, penghargaan tim bukan sekadar soal menambah satu piala lagi di lemari prestasi. Lebih dari itu, penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang terus berinvestasi besar demi menjaga denyut hobi perkutut tetap hidup.

Karena faktanya sederhana. Tanpa tim-tim loyal yang terus hadir dari satu kota ke kota lain, lomba memang tetap bisa berjalan.

Tetapi, jujur saja… rasanya pasti tidak akan seseru sekarang. tetap bersama pakan perkutut golden voicedan web site lucu lucuan   goldenvoicenews.com

bersama tim punto kejar terus piala

tim primarasa

TIM KENT BF YOGYA
carpenter bird farm
TIM CARPENTER LOMBOK

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news