Henry Manila Filosofi Santai tapi ……” 🕊️
Di kalangan penghobi perkutut tanah air, nama Koh Henri “Manila” dari Bandung bukanlah sosok asing. Ia dikenal sebagai kung mania sejati—pelomba yang selalu tampil santai, tidak pernah terlihat tegang mengejar piala, namun justru kerap pulang dengan kemenangan. Filosofinya sederhana: main burung harus dinikmati, bukan dibebani ambisi.
Bagi Koh Henri, lomba hanyalah bagian dari perjalanan hobi. Ia tidak pernah terlalu memikirkan soal juara atau kalah. “Main burung itu lepas saja, jangan mikir rugi,” begitu prinsip yang selalu ia pegang. Justru karena sikap santai itulah banyak jagoannya tampil stabil di lapangan. Tanpa tekanan berlebihan, burung-burungnya sering tampil maksimal—dan hasilnya, prestasi datang dengan sendirinya. Saking hobinya dengan lomba perkutut, biar capek dirinya tetap datang, tak peduli sampai tertidur di bawah pohon rindang di pinggir lapangan, infonya sampai “ngorok sih”, tapi ini katanya aja.
Dari Harga Pahe Jadi Harga “Gila” 💰
Salah satu hal yang membuat nama Manila sering dibicarakan adalah kemampuannya membaca potensi burung. Tak sedikit burung yang awalnya ia dapatkan dengan harga pahe, namun setelah dirawat dan dimainkan, nilainya melonjak drastis.
Contoh yang sering disebut para kung mania adalah perkutut bernama Gatot Kaca. Burung ini akhirnya terjual dengan harga fantastis, jauh di atas harga awalnya. ibarat kata koh henry suhu yang mampu menaklukan “ganasnya” hobi burung perkutut. (ilustrasinya koh Henry momong kutut).
Namun, cerita yang lebih “gila” datang dari burung bernama Mandala. Konon, burung ini akhirnya “dipaksa” keluar kandang oleh Mr. Yoss dengan nilai transaksi yang kabarnya menyentuh angka sekitar 200 juta rupiah. Angka yang membuat banyak penghobi hanya bisa menggelengkan kepala.
rekaman betina harga 6.5 jt bs dicolek
Kalau Lagi Sayang, Tidak Dijual
Menariknya, Koh Henri bukan tipe pedagang yang selalu ingin melepas burungnya. Justru sering terjadi sebaliknya. Ketika sedang sangat menyukai performa seekor burung, ia memilih tidak menjualnya sama sekali.
Kadang burung itu hanya dibiarkan di umbaran, dinikmati suaranya setiap hari tanpa memikirkan nilai jualnya. Anehnya, justru burung yang diperlakukan santai seperti itu malah naik pamornya dan tiba-tiba jadi mahal.
“Kalau lagi seneng, ya dipelihara saja. Nanti juga ada waktunya orang datang sendiri,” kata rekan-rekan dekatnya menirukan filosofi Koh Henri.
Basis Ternak di Pasteur Bandung
Keseriusan Koh Henri Manila dalam dunia perkutut juga terlihat dari fasilitas ternaknya. Farm miliknya berada di kawasan Exit Tol Pasteur, dekat Kampus Maranatha, Bandung.
Di lokasi tersebut berdiri sekitar 50 petak kandang ternak, tempat berbagai materi indukan dan anakan dirawat. Dari sinilah banyak perkutut berkualitas lahir dan kemudian beredar di kalangan penghobi.
Pelomba yang Selalu Enjoy
Di arena lomba, Koh Henri dikenal sebagai sosok yang ramah dan selalu enjoy. Ia datang ke lapangan lebih untuk bersilaturahmi dengan sesama kung mania. Namun, uniknya, meskipun tidak terlihat ngotot mengejar kemenangan, burung-burungnya justru sering berada di barisan depan.
Itulah sebabnya banyak yang menyebutnya sebagai contoh pelomba sejati:
Tidak terobsesi juara, tetapi sering juara.
Tidak terlalu memikirkan jual beli, tetapi transaksinya selalu cuan besar.
Bagi Koh Henri “Manila”, dunia perkutut adalah soal rasa, kesenangan, dan pertemanan. Selebihnya—prestasi dan nilai fantastis—sering datang sebagai bonus dari cara bermain yang santai namun penuh insting.

Musim Lalu Bersinar Lewat Marimas dan Kedaton
Jika menilik perjalanan musim lalu, Manila BF sebenarnya tampil cukup menonjol di berbagai arena. Saat itu, Koh Henri mengandalkan dua jagoan utamanya, Marimas dan Kedaton.
Nama Marimas bahkan sempat menjadi buah bibir di kalangan kung mania Jawa Barat. Burung ini mampu tampil konsisten dan menjadi salah satu yang terbaik di Liga Jabar. Penampilannya stabil, suara kerja rapat, dan mentalnya kuat di gantangan.
Sementara itu, Kedaton juga tidak kalah mencuri perhatian. Dalam beberapa seri lomba, burung ini kerap masuk barisan atas dan ikut mengangkat nama Manila BF di berbagai event.
Gagasan prestasi itu bahkan sampai terasa di ajang Liga Batavia, di mana nama burung milik Koh Henri Manila sempat masuk nominasi papan atas, menunjukkan bahwa materi dari Bandung ini mampu bersaing di level yang lebih luas.
Musim Baru, Masih Andalkan Materi Lama?
Namun memasuki musim lomba tahun ini, muncul pertanyaan menarik di kalangan penghobi:
Apakah Koh Henri masih akan mengandalkan jagoan-jagoan lamanya?
Pasalnya, dari “peneropongan” para kung mania, hingga saat ini belum terlihat kemunculan jagoan baru di kelas dewasa dari kandang Manila BF.
Hal ini tentu cukup menarik untuk dicermati. Dengan sekitar 50 petak kandang ternak di basisnya di kawasan Exit Tol Pasteur dekat Kampus Maranatha, sebenarnya potensi munculnya materi baru sangat terbuka. (note: yang profilnya mau di naikan di kolom waroeng kopikung mania



