bERSAMA ABABIL BIRD Farm, bersama hingga menua—di jagad perkutut nasional, nama Ababil Bird Farm bukan sekadar peternakan biasa. Ababil BF adalah simbol konsistensi, karakter, dan keberanian mempertahankan kualitas di tengah kerasnya persaingan lomba nasional. Ketika banyak peternak hanya mampu melahirkan burung bagus sesaat, Ababil justru dikenal sebagai kandang yang mampu mencetak burung juara yang awet, stabil, dan tidak gampang rusak meski usia sudah tergolong “sepuh”.
Tema besar yang layak disematkan untuk Ababil BF hanya satu: peternak berkarakter, juara hingga menua.
Sudah tidak terhitung lagi berapa produk yang dilahirkan kandang ini dengan deretan prestasi yang sulit terbantahkan. Dari arena lokal hingga konkurs nasional, nama-nama produk ring Ababil terus bermunculan menghiasi papan juara.
BUKTI NYATA…
Ratu Bilqis,
Sami Agung,
Aura Agung,
Idola Agung,
Ambusman,
Wiro Sableng,
Satria Ababil,
Anak Manja,
Tangisan Rindu,
Seruling Emas,
Paku Alam,
Camelia,
Ruby Star,
Agoda,
Irama Agung,
Sabila,
Armada Agung,
Dan Tuan Tenggkung adalah nama perkutut yang aktif memetik kemenangan luar biasa di kompetisi tanah air.
Deretan nama tersebut menjadi bukti bahwa Ababil BF bukan peternakan musiman. Hampir setiap generasi selalu muncul amunisi baru yang siap mengguncang arena. Konsistensi inilah yang membuat banyak kung mania menaruh hormat. Tidak gampang mempertahankan kualitas tahunan di dunia perkutut. Sekali muncul mungkin kebetulan, dua kali bisa disebut hoki, tapi jika hampir setiap tahun melahirkan jawara, itu artinya sistem breeding mereka memang punya kualitas.
Salah satu produk paling fenomenal dari Ababil BF tentu saja Idola Agung. Nama ini pernah mengguncang arena nasional saat sukses merebut gelar Juara Umum LPI 2022 kelas dewasa yunior dengan raihan koncer 4 warna. Sebuah pencapaian yang tidak bisa diraih burung sembarangan. Idola Agung menjadi bukti bahwa Ababil bukan hanya kuat di kandang ternak, tetapi juga sanggup melahirkan petarung arena dengan mental baja.
Namun, jauh sebelum Idola Agung meledak, publik perkutut lebih dulu mengenal kedahsyatan Ratu Bilqis. Burung inilah yang dahulu membawa bendera Ababil berkibar bukan hanya di Madura, tetapi juga di pentas nasional. Nama Ratu Bilqis pernah menjadi momok di lapangan. Karakter suaranya yang tajam dan mental stabil membuat lawan sering kali hanya bisa melihat ekornya di daftar juara.
Dari sekian banyak produk juara yang dilahirkan Ababil BF, dua nama yang hingga kini masih menjadi buah bibir adalah Camelia dan Ruby Star. Dua burung ini bukan hanya istimewa karena prestasi, tetapi juga karena nilai transaksi dan daya tahan performanya yang luar biasa.
Ruby Star bahkan disebut-sebut pernah tembus transaksi ratusan juta rupiah. Nilai fantastis yang menunjukkan betapa tingginya kepercayaan kung mania terhadap kualitas darah Ababil. Tetapi yang lebih mencengangkan bukan sekadar harga mahalnya. Kehebatan sesungguhnya adalah bagaimana Ruby Star dan Camelia tetap sanggup bersaing di arena lomba setelah bertahun-tahun dikibarkan.
Di saat banyak burung mulai habis tenaganya setelah melewati masa emasnya, Camelia dan Ruby Star justru masih stabil mengoleksi tropi. Bahkan keduanya masih sanggup menembus podium pertama dan meraih koncer tiga warna di arena nasional.
Dan kung mania tahu berapa usia keduanya sekarang?
Bukan lagi usia muda. Dua burung ini sudah masuk kategori “kakek-kakek”. Ada yang sudah di atas 4 tahun bahkan mendekati 5 tahun lebih. Umur bagi sebagian burung lomba biasanya sudah mulai turun performanya. Tapi produk Ababil justru masih sanggup tampil garang di lapangan.
Inilah yang membuat banyak pemain senior menyebut Ababil BF sebagai peternak yang punya karakter breeding kuat. Mereka tidak hanya menciptakan burung bagus saat muda, tetapi juga mampu menghasilkan perkutut yang stabil lama, tahan mental, dan tidak gampang rusak.
Karakter seperti ini sangat langka di dunia perkutut modern. Banyak burung muda bisa meledak sesaat, tetapi sedikit yang mampu bertahan hingga usia senja. Ababil BF berhasil membuktikan bahwa kualitas sejati bukan cuma soal cepat moncer, tetapi juga soal daya tahan performa.
Yang lebih hebat lagi, daya turun trah dari Camelia, Ratu Bilqis, hingga Ruby Star ternyata juga terbukti di kandang ternak. Saat darah-darah juara itu diternak ulang di Ababil BF, hasilnya kembali melahirkan burung-burung bermental lapangan. Artinya, kekuatan Ababil bukan hanya pada individu juara, tetapi pada garis keturunan yang memang sudah tertanam karakter fighter dan stabil.
Di balik kesuksesan besar itu, sosok KH Abdul Azis dikenal sebagai penghobi sejati yang sangat rajin turun lomba. Tidak hanya aktif di Madura dan Jawa Timur, beliau juga kerap membawa amunisi Ababil hingga menembus arena Jabodetabek. Semangat berlomba dan kecintaannya terhadap dunia perkutut membuat banyak kung mania menaruh hormat.
“Alhamdulillah, saya hanya bisa bersyukur atas kemudahan yang Allah berikan. Dari dulu saya memang senang memelihara dan melombakan perkutut. Tidak pernah menyangka kalau akhirnya banyak produk ternakan Ababil BF bisa keluar menjadi burung juara di berbagai event nasional. Semua ini murni karena izin Allah dan dukungan teman-teman kung mania,” ungkap KH Abdul Azis.
Banyak pemain senior menilai keberhasilan Ababil BF bukanlah hasil instan. Ketelatenan, konsistensi, dan totalitas KH Abdul Azis dalam menikmati dunia perkutut menjadi alasan mengapa ikhtiar breeding-nya terus dipermudah hingga mampu melahirkan trah-trah berkualitas nasional.
Tidak heran jika hingga hari ini nama Ababil Bird Farm tetap menjadi salah satu kiblat breeding perkutut Madura. Sebab di kandang inilah lahir filosofi yang mulai langka di era sekarang: mencetak burung juara yang tidak hanya hebat saat muda, tetapi juga tetap berkelas saat usia menua.
Keluarga besar Golden Voice turut mengucapkan selamat atas sukses dan konsistensi Ababil Bird Farm dalam melahirkan burung-burung juara nasional. Semoga terus menjadi inspirasi bagi kung mania Indonesia dalam menciptakan perkutut berkarakter, stabil, dan berkualitas lintas generasi.
Pastikan tetap bersama website idola kung maniadimana berita seputar hobi perkutut tak lagi garing.



