BURUNG TERBAIK, KANDANG TERBAIK! HAJI ABU BUKTIKAN DIRINYA SULTAN KUNG MANIA MAKASSAR

KOTA Makassar identik dengan aroma kuliner kelas dewa. Coto Makassar, sop konro, sop iga, ikan bakar sampai palumara kepala ikan kakap merah sudah seperti identitas wajib kota Daeng. Bicara soal palumara kepala ikan, nama yang begitu melegenda di Makassar tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Haji Abu, pemilik warung kepala ikan di kawasan Mapanyukki yang sudah menjadi langganan para pecinta kuliner Sulawesi Selatan.

Namun siapa sangka, di balik sukses besarnya di dunia kuliner, Haji Abu ternyata juga salah satu tokoh paling fenomenal di dunia perkutut Makassar. Di kalangan kung mania Sulawesi Selatan, nama Haji Abu bukan sekadar penghobi biasa. Dia adalah simbol loyalitas, keberanian dan kegilaan dalam berburu burung bagus.

Kalau orang Makassar bicara penghobi yang berani beli burung tanpa banyak hitung-hitungan, nama Haji Abu selalu ada di barisan terdepan. Baginya, ketika telinga sudah cocok mendengar suara, transaksi bisa langsung terjadi saat itu juga. Tidak peduli burung siapa, dari kandang mana, atau berapa risikonya. Prinsipnya sederhana: suka dengar, langsung bayar. Itulah yang membuat sosoknya begitu disegani di arena perkutut Sulawesi.

Menariknya lagi, Haji Abu bukan tipe pemain yang terlalu memikirkan untung rugi. Kalau ternyata burung yang dibeli kemudian tidak sesuai harapan, dia tidak pernah terlalu ambil pusing. Baginya, kenikmatan terbesar ada pada proses berburu dan memiliki burung bagus. Sensasi membeli itulah yang justru menjadi candu.

Tak heran, hampir di setiap era perkutut Makassar, Haji Abu selalu punya burung fenomenal. Nama-nama seperti Kamsia, Stoner, Sniper hingga Pangeran pernah menjadi ikon lapangan dan identik dengan koleksi pribadinya. Namun dari semua nama besar itu, ada satu burung yang sampai hari ini masih dianggap legenda Sulawesi, yakni Nalendro.

Nalendro bukan burung biasa. Di tangan Haji Abu, burung ini menjelma menjadi monster arena yang sukses mengoleksi prestasi bergengsi empat warna di Makassar. Banyak kung mania menyebut Nalendro sebagai salah satu perkutut terbaik yang pernah dimiliki Sulawesi Selatan, bahkan Sulawesi. Aura, kualitas suara dan mental lombanya benar-benar di atas rata-rata.

Meski sempat “disekolahkan” ke Jawa, Nalendro memang belum sempat mencicipi puncak kejayaan nasional. Faktor usia disebut menjadi salah satu penyebabnya. Namun bagi kung mania Makassar, Nalendro tetaplah legenda yang sulit dicari tandingannya.

Yang membuat sosok Haji Abu semakin unik, dia ternyata tidak terlalu tertarik menjadi peternak. Burung-burung juara yang sudah habis masa emasnya justru sering dilepas dengan harga sesuka hati, bahkan kadang diberikan begitu saja kepada teman dekatnya. Ada burung eks juara yang dulu dibeli belasan juta rupiah, namun ketika sudah tidak tampil maksimal malah hanya dititipkan ke rekan kung mania. Bagi Haji Abu, kebahagiaan terbesar bukan menjual mahal, tapi menikmati proses memiliki burung terbaik.

Loyalitasnya terhadap dunia perkutut juga luar biasa. Hampir semua generasi kung mania Makassar pernah satu kerekan dengannya. Sosok almarhum Om Yan bahkan disebut menjadi sahabat seperjuangan paling dekat yang menemaninya puluhan tahun di dunia perkutut. Kehilangan Om Yan menjadi salah satu momen paling emosional dalam perjalanan hobinya.

Meski tidak fokus beternak, Haji Abu tetap membangun kandang umbaran kelas sultan untuk burung-burung koleksinya. Dan di sinilah kegilaannya benar-benar terlihat. Kalau kebanyakan kandang dibuat dari aluminium atau besi biasa, Haji Abu justru memakai stainless premium untuk seluruh konstruksi kandangnya. Proses pengerjaannya bahkan memakan waktu berbulan-bulan hanya untuk sekitar sepuluh petak kandang.

Golden Voice News menyebut kandang milik Haji Abu ini layak disebut salah satu kandang perkutut termewah di Indonesia. Detailnya benar-benar tidak main-main. Semua dibuat dengan standar terbaik karena bagi Haji Abu, burung bagus harus diperlakukan secara luar biasa.

Di tengah era digital saat banyak pemain membeli burung hanya bermodal rekaman suara medsos, Haji Abu sadar betul risiko itu. Dia mengakui sering kecewa karena suara asli tak sesuai ekspektasi rekaman. Tapi itu tidak membuatnya kapok. Baginya, dunia perkutut memang penuh tantangan. Dan selama masih diberi kesehatan, dia akan terus datang ke lapangan, terus berburu dan terus membeli burung bagus.

Sebab bagi Haji Abu, perkutut bukan sekadar hobi. Ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan koleksi barang branded, jaket mahal hingga topi puluhan juta sekalipun masih kalah nilainya dibanding kepuasan saat berhasil membawa pulang burung perkutut yang menurut telinganya benar-benar istimewa.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news