Hobi Sultan, Pantang MUNDUR Meski Kertas Terus TERBAKAR.

Ketika Perkutut Bukan Lagi Sekadar Burung, Tapi Industri “Bunyi” Bernilai Ratusan Juta

Hobi sultan, Mas Bro—Kalau ada yang bilang hobi perkutut itu mahal, mungkin mereka belum benar-benar masuk ke dalamnya. Sebab di dunia kung mania nasional, istilah “mahal” kadang sudah tidak relevan lagi. Yang lebih cocok mungkin: hobi rasa industri elit.

Di saat orang lain sibuk menghitung cicilan rumah, penghobi perkutut justru sibuk menghitung jadwal lomba, biaya tiket, ongkos kru, biaya setting burung, sampai sewa kendaraan antarkota demi memastikan jagoannya tetap tampil di podium nasional.

Dan uniknya, semua itu dilakukan hanya demi satu hal sederhana:
Mendengar burung berbunyi bagus selama beberapa detik di atas kerekan.

Tapi justru di situlah letak candu dunia perkutut.

Satu ekor burung kualitas nasional dengan kategori 3 warna hitam hingga 4 warna hari ini bisa dihargai ratusan juta rupiah. Bahkan beberapa nama papan atas konon sudah menyentuh angka Rp700 juta lebih. Namun, membeli burung mahal ternyata baru pembukaan. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga burung itu tetap bunyi, stabil, dan rutin menjadi juara.

Masalahnya, perawat burung level nasional jumlahnya sangat sedikit. Akibatnya, muncul fenomena baru: tim-tim elit dengan sistem rawatan profesional, multi-titik, lengkap dengan kru pengawal, armada khusus, bahkan strategi lomba layaknya tim balap profesional.

Masalahnya, burung mahal belum tentu juara.
Perkutut kelas nasional butuh tangan dingin. Dan orang yang benar-benar bisa merawat burung juara jumlahnya sangat sedikit. Karena itulah muncul fenomena “tim rawat elit” yang kini jadi tulang punggung dunia kompetisi nasional.

Salah satu yang paling fenomenal tentu Tim CARPENTER Lombok milik Big Boss Cokro Hindoyo, kung mania tulen asal Kudus. Tim ini punya dua titik kekuatan: Lombok dan Gresik. Di Gresik, jagoannya dititipkan di markas salah satu suhu perawat terbaik Indonesia. Dari situlah armada Tim CARPENTER Lombok  berputar keliling Nusantara memburu podium LPI.

Kalau targetnya sudah Liga Perkutut Indonesia, urusannya bukan lagi “ikut lomba”, tapi misi nasional.

Biayanya?
Tidak usah dihitung sambil berdiri; bisa lemas duluan.

Di Semarang ada Titi ALF. Tim ini dikenal punya mobilitas tinggi dan sangat menikmati atmosfer lomba. Burung-burungnya sebagian dititipkan di suhu H Cholil Hdl, nama yang juga masuk daftar elit perawat papan atas. Menariknya, Koh Titi  tidak gengsi turun di event kecil sekalipun. Filosofinya sederhana: burung juara harus sering sparring. Dan ketika seseorang  seperti Koh Titi yang pernah membeli burung Rp400 juta, publik tentu paham bahwa tiket lomba bukan lagi persoalan besar.

Dari luar Jawa, ada nama Agus Tardi Tanjung Pinang. Dua tahun terakhir, tim ini rutin menyeberangkan ambisi ke Pulau Jawa. Burungnya dirawat Bang Taufik Jombang demi target utama: keliling seri LPI. Satu titik rawatan saja sudah luar biasa mahal, apalagi kalau bicara biaya perjalanan tahunan.

Di Yogyakarta milik “tim kent bf”.  Tim milik pensiunan jenderal angkatan  laut ini terkadang bisa mendaftar hingga puluhan ekor di lomba LPI. Soal perawatannya, kenf bf  membagi amunisi di dua titik rawatan sekaligus: Jogja dan Sampang. Sekali berangkat ke lomba, bisa membawa lebih dari 15 burung dengan dua armada dan 4-6 kru pengawal. Ini bukan touring biasa. Ini ekspedisi suara nasional.

Di Semarang, ada Atlas BF milik Koh Hendri yang terkenal dengan “hobi daftar banyak.” Bedanya, burung dirawat sendiri. Tapi jangan salah, setiap pekan rata-rata lebih dari 8 ekor turun lomba. Kalau tiket Rp100 ribu dan total bulanan bisa tembus 30-40 gantangan, hitung sendiri berapa uang yang “terbang” hanya untuk tiket. Belum solar, tol, kopi kru, dan makan enak setiap habis lomba dalam sebulan.

Kolaborasi elit juga terlihat dari JBM Malang dan Liga BF Cirebon. Duet senior-junior ini dikenal fokus memburu event besar. Burung seperti Mahabharata dan Eskobar sudah berkali-kali mencicipi podium nasional. Saat turun lomba, kru bisa mencapai lima orang dengan jumlah burung lebih dari enam ekor. Kadang tembus sepuluh. Biaya ekspedisi suara pun tembus puluhan juta setiap bulan.

Dari BSD Tangerang muncul nama 3F Team milik H. Sularno. Tim ini juga dikenal all out demi menjaga performa amunisinya. Bahkan untuk satu agenda lomba saja kadang harus menyewa HiAce Toyota selama tiga hari penuh. Sudah pasti anggarannya tidak kecil. Burung-burung andalan 3F juga dititipkan kepada perawat nasional Deny Sampang. Jadi selain biaya transportasi dan tiket, ada biaya setting dan pengondisian yang levelnya sudah bukan hobi biasa lagi.

Kalau masih terasa “masuk akal”, tunggu sampai melihat Tim Punto Jakarta.
Ini mungkin salah satu tim paling heboh soal mobilitas dan jumlah amunisi. Bayangkan saja, Punto menaruh burung tempurnya di empat titik sekaligus: Jakarta, Sampang, Ambarawa, dan Jombang. Artinya, koordinasi, transportasi, dan biaya rawatan berjalan paralel setiap minggu.

Untuk kelas LPI saja, Tim Punto bisa mendaftarkan lebih dari 20 ekor. Sedangkan jika digabung event regional, total burung yang dilombakan tiap minggu konon bisa menyentuh angka 50 ekor.

Benar-benar tidak masuk di akal.

Kadang perawat handalnya, Wasid Nusantara, harus langsung bergerak dari Sampang menuju Jabodetabek demi memastikan andalan Punto tampil maksimal dan memburu juara satu di Liga Batavia.

Sudah, jangan dihitung lagi total biayanya.
Bisa lemes duluan sebelum berdiri.

Namun, dari semua tim penghobi kutut di atas, ada satu nama yang mungkin paling gokil dan paling fenomenal saat ini: Tim Primarasa milik Dede Primarasa, Big Bos Primarasa Roti & Bakery Bandung.

Tim ini benar-benar kelas “sultan nasional”.

Burung-burung andalannya ditaruh di beberapa titik elit sekaligus: Sumedang, Pamekasan, hingga Bandung. Secara pola permainan, Primarasa sebelas dua belas dengan Team Punto soal jumlah amunisi dan intensitas lomba.

Bedanya, Primarasa sering terlihat lebih “brutal” dalam penyebaran pasukan.

Dengan kru 4 sampai 5 orang, tim ini bisa turun di empat lokasi lomba berbeda dalam waktu bersamaan. Masing-masing kru diberi tanggung jawab khusus untuk mengawal burung andalan Primarasa agar tetap stabil dan siap podium.

Semua dilakukan demi satu hal:
Menjaga eksistensi nama Primarasa di jagad kung mania nasional.

Dan faktanya, mereka berhasil.

Dari sekian banyak tim penghobi perkutut di Indonesia, Primarasa mungkin menjadi salah satu tim paling fenomenal, baik dari sisi biaya lomba, mobilitas, maupun prestasi burung-burungnya.

Hampir di setiap event yang diikuti, nama Primarasa nyaris selalu menghiasi podium 1, 2, atau 3.

Ini bukan lagi sekadar hobi.
Ini sudah seperti “liga profesional” versi dunia perkutut.

Dan menariknya, di luar nama-nama besar tadi, masih sangat banyak kung mania lain yang diam-diam juga menghabiskan “kertas merah” bertumpuk-tumpuk demi mengibarkan syahwat hobinya. Ada yang rela tiap minggu muter kota demi satu kerekan, ada yang diam-diam nombok terus asal burung kesayangannya naik podium, bahkan ada yang lebih hafal jadwal lomba dibanding jadwal pulang ke rumah.

Inilah uniknya dunia perkutut.
Kadang orang luar bingung melihat penghobi rela mengeluarkan uang besar tanpa hadiah fantastis. Tapi bagi kung mania sejati, sensasi ketika burung bunyi stabil lalu dipanggil sebagai nominasi juara itu nilainya memang tidak bisa dihitung dengan kalkulator.

Dari semua cerita itu ada satu kesimpulan penting:
Penghobi-penghobi seperti inilah yang sebenarnya menjaga denyut hidup dunia lomba perkutut nasional.

Mereka datang bukan untuk mengejar hadiah miliaran. Bahkan mayoritas event tidak memberi “feedback material” sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Tapi mereka tetap hadir demi gengsi, prestise, persaudaraan, dan tentu saja sensasi ketika burung andalan naik podium.

Karena itu, sudah selayaknya penyelenggara lomba dan pengurus membuat suasana event yang nyaman, tertib, profesional, dan manusiawi. Sebab di balik satu kerekan penuh peserta, ada biaya besar, tenaga besar, dan kecintaan luar biasa terhadap dunia perkutut.

Dan memang begitulah dunia HOBI SULTAN kung mania.
Kadang suara burung cuma  beberapa  detik…
Tapi biaya persiapannya bisa setara dengan harga mobil keluarga.
carpenter bird farm
TIM CARPENTER LOMBOK
liga perkutut jabar
TIM PRIMARASA BANDUNG

 

3f
TIM 3F
TIM KENT BF YOGYA
TIM ALF
TIM PUNTO

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news