DUO LANSIA NALENDRO & CAMELIA MASIH PUNYA GIGI-Gelaran Tugumuda Cup 2 akhirnya resmi usai. Event nasional yang juga menjadi seri kedua rangkaian Liga Perkutut Indonesia 2026 itu meninggalkan banyak cerita, kejutan, hingga kenangan yang sulit dilupakan para peserta.
Di tengah panasnya persaingan burung-burung muda yang sedang naik daun, muncul dua nama lawas yang justru sukses mencuri perhatian. Bukan karena usia muda atau performa yang sedang “meledak”, melainkan karena keduanya mampu membuktikan bahwa kualitas sejati tidak akan lekang dimakan umur.
Dua burung tersebut adalah Camelia dan Nalendro.
Dua nama yang usianya sudah bisa dibilang “kakek-kakek” masih sanggup berdiri di podium nasional.
Camelia sukses merebut juara 5 kelas Dewasa Senior di usia yang sudah menginjak sekitar 5 tahun. Sementara Nalendro, yang lebih senior lagi, berusia sekitar 6 tahun, masih mampu menembus posisi 15 besar nasional. Baca hasil tugumuda cup
Prestasi ini jelas bukan sekadar angka. Di dunia perkutut, usia di atas lima tahun biasanya sudah mulai dianggap memasuki fase senja performa. Namun, DUO LANSIA Camelia dan Nalendro justru membalik stigma tersebut dengan penampilan yang tetap berkelas.
Bagi banyak kung mania, keberhasilan keduanya seperti menjadi pengingat bahwa kualitas suara, mental lapangan, dan darah trah istimewa memang tidak bisa dibohongi.
Peternak Camelia Haji Abdul Azis mengaku sangat terharu melihat performa Camelia di Tugumuda Cup . Menurutnya, pencapaian ini terasa spesial karena Camelia sebelumnya juga sempat tampil luar biasa di Liga Madura dengan merebut juara pertama.
“Camelia ini memang burung penuh kenangan. Umurnya sudah tidak muda, tapi semangat dan kualitas kerjanya masih luar biasa. Saya sendiri sampai kagum melihat dia masih mampu bersaing di level nasional,” ungkap Haji Azis ababil

Tak sedikit peserta yang menyebut Camelia sebagai simbol konsistensi kualitas. Karakter suara yang matang, irama stabil, serta pembawaan tenang membuat burung ini masih sangat layak diperhitungkan meski usia terus bertambah.
Sementara itu, Nalendro milik Haji Abu juga menjadi pembicaraan hangat di arena. Meski hanya finish di posisi bontot juara, kualitas Nalendro tetap menuai pujian dari banyak pengamat lapangan.
Menurut beberapa juri dan pemain senior, Nalendro sebenarnya masih menyimpan materi kelas atas. Hanya saja, performanya kali ini dinilai belum maksimal karena faktor perawatan dan setting harian yang belum benar-benar ideal.
Namun, justru di situlah letak hebatnya Nalendro. Dalam kondisi yang disebut belum top perform sekalipun, burung senior asal Makassar itu masih mampu menembus daftar juara nasional.

Perawat Nalendro, Anang, mengungkapkan bahwa lambatnya Nalendro kembali tampil garang di lapangan disebabkan oleh proses adaptasi setelah pindah ke lingkungan baru. Dalam masa itu, Nalendro bahkan sempat lama tidak mau mbekur sehingga performanya turun drastis.
“Awalnya Nalendro seperti kehilangan karakter tempurnya. Lama tidak mau mbekur karena adaptasi tempat baru. Tapi pelan-pelan mulai balik lagi,” ujar Anang.
Menurutnya, proses tune up rutin menggunakan Golden Voice Prokung Check out di sini free ongkir menjadi salah satu faktor yang membantu mengembalikan mental dan agresivitas Nalendro. Setelah beberapa waktu mendapatkan setting perawatan yang konsisten, Nalendro mulai kembali responsif terhadap lawan jenis hingga akhirnya mampu “boom” bunyi di lapangan.
Perubahan itulah yang kemudian membuat Nalendro perlahan kembali menemukan irama permainannya. Meski belum mencapai top perform seperti masa emasnya, penampilan di Tugumuda Cup 2 dinilai sudah cukup membuktikan bahwa burung senior tersebut belum habis.
Haji Abu sendiri mengaku puas dan bangga dengan capaian Nalendro.
“Bagi saya ini bukan soal juara besar atau kecil. Nalendro di usia sekarang masih bisa masuk daftar juara nasional saja sudah membanggakan. Kualitasnya tidak memalukan,” ujarnya.
Fenomena Camelia dan Nalendro di Tugumuda Cup seolah menjadi tamparan bagi anggapan bahwa burung tua hanya layak jadi penghuni kandang breeding. Faktanya, jika dirawat dengan baik dan memiliki kualitas dasar yang kuat, burung TUA-TUA ini tetap mampu berbicara banyak di arena nasional.
Di balik gegap gempita liga dan persaingan pemain muda, burung tua-tua sepuh ini sukses menghadirkan cerita emosional yang mungkin akan terus dikenang dalam perjalanan Liga Perkutut Indonesia 2026 musim ini. tetap ngopi bersama web site idola kung mania


