
Event HB Cup 2026 yang berlangsung Sabtu lalu menyisakan banyak cerita. Salah satu yang cukup mengundang perhatian datang dari Kusuma Wijaya, terutama karena performanya sempat menempatkan burung tersebut dalam persaingan bersama Soimah dan Papa Dimitri.
Ketiganya sama-sama mampu mengoleksi tiga warna hitam usul. Posisi tersebut membuat peluang Kusuma Wijaya untuk mengejar tiga besar sangat terbuka.
Bagi Mas Puput, kesempatan tersebut tentu sangat menggoda. Kupluk yang menjadi incaran seolah sudah berada di depan mata. Â Mas Puput dan Om Budi Gilang optimistis membawa pulang kupluk setelah tampil spektakuler pada awal lomba.
Dari pantauan GoldenVoiceNews.com sendiri, Kusuma Wijaya menunjukkan penampilan yang spektakuler, terutama pada babak pertama.
Intensitas bunyinya luar biasa. Performa tersebut membuat burung bergelang Pandan Mas ini mampu menarik perhatian dan mengumpulkan nilai tinggi.
Akan tetapi, persoalan muncul ketika lomba memasuki babak berikutnya.
Kusuma Wijaya masih belum sepenuhnya move on dari stelan lama yang membuatnya cenderung tampil maksimal pada awal babak saja.
Ketika tenaga dan kesempatan untuk menambah nilai masih dibutuhkan, performanya tidak mampu dipertahankan secara konsisten.
Akibatnya, raihan warna pada babak berikutnya hanya berada di angka dua warna.
Tiga Hitam Usul Belum Mengantar ke Peringkat
Tiga warna hitam usul memang menjadi modal penting. Namun, dalam persaingan ketat, raihan tersebut belum otomatis mengantar burung ke posisi akhir yang diharapkan.
Kusuma Wijaya sempat mengoleksi nilai tinggi. Sayangnya, tambahan dua warna pada babak selanjutnya membuat perolehan akhirnya tidak cukup untuk mengamankan peringkat.
Padahal, peluang tersebut sebenarnya sudah sangat dekat.
Mas Puput tentu kecewa. Apalagi, berdasarkan situasi di lapangan, Kusuma Wijaya  hanya membutuhkan sekitar 10 kali bunyi lagi untuk membuat peluang membawa pulang kupluk semakin terbuka.
Tetapi kesempatan itu tidak berhasil diwujudkan.
Bukan Burung yang Bisa Dikendalikan dengan Remote
Kekecewaan Mas Puput sangat wajar. Namun, ada satu realitas dalam lomba perkutut yang tidak bisa diabaikan.
Burung bukan mesin yang bisa dikendalikan dengan remote untuk terus berbunyi sesuai perintah.
Ketika berada di lapangan, burung memiliki karakter dan respons sendiri. Karena itu, kemampuan mempertahankan performa selama empat babak menjadi tantangan tersendiri.
Wijaya Kusuma sudah menunjukkan kemampuan luar biasa pada awal lomba. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kemampuan tersebut dapat keluar secara konsisten sampai babak terakhir.
Puput Masih Mencari Stelan
Mas Puput belum menyerah. Ia masih mencari formula stelan yang tepat agar Wijaya Kusuma mampu tampil penuh selama empat babak.
Hal tersebut juga diamini Om Budi Gilang, perawat lawas yang merupakan jebolan dari Bagus BF.
Bagi Budi Gilang, pekerjaan rumah Wijaya Kusuma bukan sekadar membuat burung mau berbunyi. Kemampuan itu sudah terlihat.
Yang dicari adalah pola yang membuat performanya lebih stabil dari awal hingga akhir lomba.
Apalagi, Wijaya Kusuma memiliki modal menarik. Selain bergelang Pandan Mas, burung ini masih membawa trah Sang Legenda Shasha Jakarta.
Dengan kombinasi performa yang sudah pernah ditunjukkan dan darah trah yang dimilikinya, perjalanan Kusuma Wijaya masih menarik untuk ditunggu.

Kupluk Belum Berhasil Dibawa Pulang
HB Cup akhirnya menjadi cerita tentang peluang yang nyaris berubah menjadi kemenangan.
Kusuma Wijaya sudah mampu mengoleksi tiga warna hitam usul. Penampilan awalnya juga spektakuler. Bahkan, peluang membawa pulang kupluk sempat terbuka.
Namun, lomba empat babak membutuhkan konsistensi.
Ketika raihan berikutnya hanya dua warna, peluang tersebut akhirnya menguap. Kusuma Wijaya pun gagal masuk peringkat.
Mas Puput boleh kecewa, tetapi belum ada alasan untuk menyerah.
Justru dari sinilah pekerjaan rumah berikutnya dimulai: menemukan stelan yang mampu membuat Kusuma Wijaya tampil penuh di empat babak.
Kupluk memang batal dibawa pulang dari HB Cup.

Namun, dengan performa yang sudah pernah diperlihatkan, Kusuma Wijaya masih punya cerita yang belum selesai.
Sebagai catatan, Mas Puput memiliki ternakan Lavany BF dan rajin menggunakan Pakan Perkutut Golden Voice Superman.
Bagi kung mania, kisah Wijaya Kusuma menjadi bukti bahwa perjalanan menuju podium tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbunyi, tetapi juga konsistensi, setelan, dan kesiapan burung menghadapi empat babak.
GoldenVoiceNews.com akan terus mengikuti cerita menarik dari balik lapangan, termasuk perjalanan Wijaya Kusuma mencari performa terbaiknya.



