Ada orang yang datang ke dunia perkutut untuk mengejar juara. Ada pula yang datang karena memang jatuh cinta kepada hobinya.
Dr. Mahmud IBF Salatiga tampaknya masuk dalam kelompok kedua.
Namun setelah perjalanan panjang, nama INDONESIA BF kini mulai ikut menghiasi lembar kejuaraan. Bersama joki Carman Ratu Ambarawa, materi-materi I-BF mulai menunjukkan tajinya di arena konkurs Jawa Tengah hingga nasional.
Yang menarik, perjalanan menuju titik tersebut bukan cerita satu atau dua tahun.
Ada kisah panjang sekitar satu dekade yang ikut mewarnai bangkitnya hobi perkutut di Salatiga.
INDONESIA BF, Nama Lama di Jagad Perkutut
Nama Indonesia BF (IBF) sejatinya bukan nama baru dalam jagad perkutut tanah air.
Jejaknya sudah cukup lama dikenal, terutama dalam lingkungan perkutut Bogor dan Salatiga.
Sekitar satu dekade silam, ketika era kepengurusan Pengwil yang dipimpin Inanto, kondisi hobi perkutut di Salatiga sedang tidak seramai sekarang.
Kalau boleh bercanda, kung mania Salatiga saat itu seperti sedang menikmati tidur panjang.
Bahkan bisa dibilang sedang tidur pulas kena “virus flu burung”.
Bukan berarti hobinya hilang.
Hanya saja denyutnya tidak sekuat sekarang.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran Dr. Mahmud di Salatiga membawa warna berbeda.
Dengan modal rasa hobi yang tinggi, beliau pelan-pelan mengajak penghobi baru untuk mengenal dan menekuni perkutut.
Tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Tetapi sabar dan telaten.
Satu orang ikut.
Kemudian bertambah.
Lalu bertambah lagi.
Dari sinilah perlahan geliat hobi perkutut Salatiga mulai bangun dari tidurnya.
Bersama Anang Teratai Menghidupkan Liga Hanging
Salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut adalah ketika Dr. Mahmud bersama Anang Teratai memprakarsai terlaksananya Liga Hanging.
Pada zamannya, konsep tersebut punya arti penting.
Sebab tidak semua daerah sudah mempunyai lapangan kerekan.
Dengan sistem hanging, penghobi dari daerah yang belum mempunyai kerekan tetap mempunyai kesempatan untuk mengikuti kompetisi.
Demak, Jepara, Ungaran, Kendal hingga Kaliwungu ikut merasakan geliat tersebut.
Menariknya lagi, saat itu tiket hanya sekitar Rp50 ribu.
Tetapi panitia mampu menghadirkan hadiah yang membuat peserta tentu tidak keberatan untuk datang lagi: sepeda motor Yamaha Mio baru. (yang kebetulan kenanganya ada di markas teratai bf)
Tiketnya lima puluh ribu.
Hadiah motor.
Kalau sekarang ada panitia membuat konsep seperti itu, mungkin bendaharanya bukan cuma menghitung uang, tetapi juga menghitung napas.
Namun itulah cerita perkutut pada masa tersebut.
Liga hanging akhirnya ikut berkembang ke sejumlah daerah.
Dan dampaknya terasa di Salatiga.
Penghobi lama yang sebelumnya mulai meninggalkan perkutut perlahan kembali memelihara.
Penghobi baru bermunculan.
Lapangan kembali ramai.
Dari situlah fondasi hobi perkutut Salatiga perlahan dibangun kembali.
Salatiga Kini Jadi Salah Satu Panggung Besar
Waktu kemudian berjalan.
Salatiga yang pernah mengalami masa sepi akhirnya kembali menjadi salah satu daerah yang aktif menggelar event perkutut.
Bahkan beberapa kali Salatiga dipercaya menjadi tuan rumah event berskala nasional, termasuk gelaran Liga Perkutut Indonesia atau LPI.
Di balik perkembangan tersebut, ada banyak nama yang ikut bekerja dan bergerak.
Dr. Mahmud adalah salah satunya.
Namun lucunya, ketika orang lain mulai merasakan nikmatnya juara, perjalanan Dr. Mahmud dengan materi burungnya justru belum terlalu banyak mendapatkan keberuntungan.
Bisa dikatakan, beliau cukup lama menjadi orang yang ikut menghidupkan hobinya, tetapi belum banyak menikmati manisnya podium.
Tetapi dunia perkutut memang begitu.
Ada yang cepat menemukan bintang.
Ada yang harus menunggu bertahun-tahun.
Dan ada pula yang baru mendapatkan momentum ketika orang lain sudah mulai lupa bahwa ia sedang menunggu.

Kini Nama INDONESIA-BF Mulai Masuk Lembar Kejuaraan
Babak baru itu mulai terlihat.
Nama IBF kini mulai tercatat dalam hasil kejuaraan regional maupun nasional.
Salah satu catatan yang sudah terlihat adalah penampilan IBF pada LP Jasela Seri 4 DIM LAW Cup di Cilacap, 2 Agustus 2026.
Dalam gelaran tersebut, materi IBF tampil cukup mencolok di kelas Piyik Bebas.
LOGOS, Pembuka Jalan IBF
Nama yang paling mencuri perhatian tentu saja LOGOS.
Logos milik Dr. Mahmud/IBF Salatiga berhasil merebut Juara 1 Piyik Bebas.
Bagi IBF, kemenangan tersebut bukan sekadar angka satu di papan hasil.
Logos seperti membuka pintu yang selama ini sudah lama diketuk.
Setelah bertahun-tahun berkutat dengan hobi dan ikut menghidupkan perkutut di Salatiga, akhirnya nama IBF mulai mendapatkan tempat di lembar prestasi.
Dan ternyata Logos tidak sendirian.
Galileo dan Columbus Ikut Mengawal
Pada lomba yang sama, IBF juga menempatkan dua materi lainnya di jajaran 10 besar.
GALILEO tercatat di posisi 7, sedangkan COLUMBUS berada di posisi 8 kelas Piyik Bebas.
Dengan demikian, IBF tidak hanya membawa satu burung untuk bertarung.
Tiga nama masuk dalam daftar 10 besar.
Logos juara 1, Galileo juara 7, Columbus juara 8.
Kalau ini sebuah rombongan keluarga, ibaratnya satu pulang membawa piala, dua lainnya ikut membawa oleh-oleh dari lapangan.
Tetapi bagi IBF, tiga nama tersebut mempunyai arti penting.
Mereka menunjukkan bahwa materi IBF mulai mempunyai daya saing.
Tangan Carman Ratu Ikut Berperan
Di balik mulai munculnya nama-nama tersebut, ada sosok Carman Ratu Ambarawa.
Joki memiliki peran penting dalam perjalanan seekor burung menuju prestasi.
Materi bagus membutuhkan penanganan yang tepat.
Mulai dari persiapan, membaca karakter burung, memahami kondisi lapangan hingga menjaga konsentrasi ketika pertandingan berlangsung.
Karena itu, kolaborasi Dr. Mahmud IBF dan Carman Ratu menjadi salah satu cerita menarik dalam perkembangan IBF belakangan ini.
Jika sebelumnya Dr. Mahmud lebih dikenal sebagai salah satu sosok yang ikut menghidupkan hobi perkutut Salatiga, kini nama IBF mulai muncul sebagai kekuatan yang ikut berbicara di arena.

HB Cup, Panggung yang Kembali Membuka Cerita
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke arena nasional.
Pada HB Cup pekan lalu, salah satu materi IBF kembali mendapatkan kesempatan untuk bersaing dengan burung-burung papan atas yang datang dari berbagai daerah.
Bagi Dr. Mahmud, panggung seperti HB Cup tentu mempunyai arti tersendiri.
Sebab perjalanan panjang dari Salatiga menuju arena nasional akhirnya mulai menghasilkan cerita yang bisa dibawa pulang.
Dulu mungkin beliau sibuk mengajak orang lain memelihara.
Kini beliau mulai melihat materi sendiri berdiri di atas kerekan dan diperhitungkan.
Dari Penggerak Hobi Menjadi Pemilik Materi Juara
Kisah Dr. Mahmud IBF Salatiga pada akhirnya bukan semata cerita tentang Logos.
Bukan pula hanya soal Galileo atau Columbus.
Ini adalah cerita tentang perjalanan panjang seorang penghobi.
Ketika Salatiga sedang sepi, ia ikut menghidupkan.
Ketika penghobi baru belum banyak, ia ikut mengajak.
Ketika daerah-daerah belum memiliki kerekan, liga hanging menjadi salah satu ruang untuk tetap berkompetisi.
Dan ketika Salatiga akhirnya kembali ramai, event-event besar pun mulai berdatangan.
Kini giliran IBF BF yang mulai menikmati hasil perjalanan tersebut.
Logos sudah mencatat juara 1. Galileo dan Columbus ikut masuk 10 besar.
Dan di belakangnya ada nama Dr. Mahmud serta joki Carman Ratu yang terus mencoba membawa materi IBF naik kelas.
Boleh jadi, perjalanan satu dekade lalu itu baru sekarang mulai memanen hasil.
Karena dalam dunia perkutut, tidak semua benih langsung tumbuh menjadi pohon.
Ada yang harus menunggu musim.
Ada yang harus melewati panas dan hujan.
Dan ketika akhirnya tumbuh, barulah orang sadar bahwa benih tersebut ternyata sudah ditanam sejak lama.
IBF BF Salatiga kini mulai berbicara.
Dari Salatiga menuju arena Jawa Tengah.
Dari arena regional menuju panggung nasional.
Dan tentu saja, cerita Logos, Galileo, Columbus dan materi-materi IBF lainnya masih sangat mungkin terus bertambah. pakan perkutut golden voice juga mengucapkan terimakasih kepada ibf bf yang selalu memakai pakan perkutut produk golden voice
Salam senyum selalu, Kung Mania!
Tetap ikuti cerita, hasil konkurs, drama lapangan dan kisah para jawara perkutut hanya di GoldenVoiceNews.com.
Dan jangan lupa, pakan perkututnya Golden Voice, agar website hiburan ini tetap bisa menemani Kung Mania menikmati serunya dunia perkutut tanah air.




