Golden Tempo Piyek 3 Bulan, TUMBANGKAN PIYEK “JADI” !

h jamil dengan tongkat kemenangan

Golden Tempo Piyek 3 bulan kembali membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menjadi bintang. Burung piyek milik H. Jamil (JML Depok) ini sukses mencuri perhatian setelah merebut Juara 1 kelas Hanging pada ajang KLH Cup, seri lanjutan Liga Perkutut Indonesia (LPI).

Prestasi tersebut terasa istimewa. Pasalnya, Golden Tempo baru berusia sekitar tiga bulan, namun sudah mampu mengalahkan burung-burung hanging yang sebagian besar sebenarnya sudah tergolong “jadi”. Dengan kata lain, lawan yang dihadapi bukan lagi sesama piyek belia, melainkan burung yang sudah matang .

Ironisnya, bagi para pesaing, justru banyak burung yang lebih tua harus rela mengibarkan koncer merah, tanda perjalanan mereka di kelas hanging harus berakhir lebih cepat alias kena dis gacor dan mbekur. Sementara si bocah ajaib bernama Golden Tempo terus melaju hingga berdiri di puncak podium.

Kalau diibaratkan sebagai dunia sepak bola, Golden Tempo seperti pemain akademi yang baru promosi ke tim utama, lalu langsung mencetak hat-trick di laga final. Datang sebagai yang paling muda, pulang sebagai juara.

Burung Golden Tempo Piyek 3 bulan  bernomor ring 26-45 dari trah JML K.31 itu memang sedang menjadi buah bibir di kalangan penghobi perkutut se-Jabodetabek. Bukan hanya karena usianya yang sangat muda, tetapi juga karena konsistensinya yang luar biasa sejak pertama kali turun ke arena.

Golden Tempo Bikin H. Jamil Haru di Atas Podium

 Golden Tempo Piyek 3 bulan  juga menghadirkan momen emosional bagi sang pemilik. Saat menerima piala juara pertama di KLH Cup, raut bahagia tak bisa disembunyikan dari wajah H. Jamil.

Impian yang selama ini ditunggu akhirnya terwujud. Setelah berkali-kali tampil impresif, Golden Tempo akhirnya benar-benar menembus podium tertinggi di pentas Liga Perkutut Indonesia.

“Ada rasa haru, bangga, bahagia, dan rasanya mau menangis saja karena akhirnya Golden Tempo tembus juga ke juara satu,” ungkap H. Jamil kepada GoldenVoiceNews.com.

Bagi H. Jamil, kemenangan ini bukan sekadar tambahan koleksi piala. Lebih dari itu, hasil tersebut menjadi bukti bahwa proses panjang merawat burung muda dengan penuh kesabaran akhirnya membuahkan hasil manis.

Golden Tempo Nyaris Juara Sejak LPI Cirebon

Sebenarnya,  Golden Tempo pada seri sebelumnya di Cirebon sudah berhasil naik podium sebagai runner-up. Bahkan, menurut H. Jamil, saat itu peluang menjadi juara pertama sebenarnya sangat terbuka.

Namun, faktor usia membuat keberuntungan belum berpihak.

Ibarat penerimaan murid baru pada sistem zonasi, peserta yang usianya lebih tua lebih dahulu mendapat prioritas. Sementara Golden Tempo yang masih “anak baru” harus rela berada satu tingkat di bawah, meski kualitas suaranya sudah mampu bersaing.

Kini, semua penantian itu terbayar lunas. Di KLH Cup, Golden Tempo tidak lagi sekadar menjadi kandidat juara. Ia benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.

Mental Baja dari Darah Juara

Kehebatan Golden Tempo ternyata tidak datang begitu saja.

BurungGolden Tempo Piyek 3 bulan  ini merupakan hasil persilangan JML K.31 dengan 3F Berlioz, kombinasi darah yang kini mulai menunjukkan kualitasnya di lapangan.

Yang paling membuat H. Jamil kagum bukan hanya kemampuan suara, melainkan mental bertandingnya.

Sejak pertama kali diturunkan ke lomba, Golden Tempo hampir selalu finis di posisi pertama. Satu-satunya pengecualian hanyalah saat menjadi runner-up di LPI Cirebon.

Rekor tersebut membuat namanya semakin diperhitungkan oleh para penghobi dari berbagai daerah.

Ditawar Berkali-kali, H. Jamil Tetap Menolak

Prestasi yang terus menanjak membuat Golden Tempo berkali-kali mendapat penawaran.

Namun, hingga kini, H. Jamil memilih tetap mempertahankan burung kesayangannya.

Alasannya sederhana, tetapi sangat mengena.

Menurutnya, memiliki burung berkualitas bukan hanya soal mengejar prestasi. Ada kebahagiaan lain yang tidak bisa dibeli dengan uang.

“Kalau Golden Tempo saya jual, saya tidak punya alasan untuk memaksa diri pergi lomba ke luar kota. Saya senang bisa BERKUMPUL, bakar-bakar kertas, ketemu teman-teman. Masa saya cuma jadi joki mistikus saja? Nah, kalau saya punya burung yang layak juara, itu baru asyik,” tutur H. Jamil sambil tertawa menutup perbincangan melalui sambungan telepon dengan GoldenVoiceNews.com.

Ucapan tersebut menunjukkan bahwa bagi H. Jamil, dunia perkutut bukan hanya soal menang dan kalah. Persahabatan, perjalanan, dan cerita di setiap arena justru menjadi bagian paling berharga dari hobi yang telah lama ia tekuni. H. Jamil juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh sahabat yang menyupport Golden Tempo, khusus buat pakan perkutut Golden Voice, terima kasih sudah selalu menyupport pakan terbaiknya buat ternakan jml di Depok.

h jamil dan rudy af

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news