BG Bird Farm Kendal: 30 Tahun Jadi Kung Mania, Datang Lomba Bukan Cari Piala… Tapi Cari Kuliner!

BG Bird Farm Kendal-Di dunia hobi perkutut, ada dua tipe kung mania. Pertama, yang datang ke lomba dengan target juara. Kedua, yang datang menikmati suasana, bertemu sahabat, lalu pulang membawa cerita. Nah, BG Bird Farm Kendal milik Koh Djiang jelas masuk kategori kedua—meski jangan salah, kalau jagoannya sedang “panas”, lawan-lawan juga bisa dibuat pusing.

Nama Koh Djiang bukan nama baru. Ia termasuk salah satu kung mania senior yang sudah lebih dari tiga dekade setia menghirup aroma gantangan. Saat banyak penghobi datang dan pergi mengikuti zaman, Koh Djiang justru tetap bertahan menikmati hobi yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Baginya, lomba bukan lagi soal mengejar gengsi atau memburu trofi sebanyak-banyaknya. Lomba hanyalah cara paling menyenangkan untuk mengisi waktu luang di sela kesibukannya mengelola Toko Material Kaca Bangun, yang berada di jalur utama tak jauh dari Alun-Alun Kendal.

Kalau ditanya kenapa masih rajin datang lomba?

Jawabannya sederhana, “Biar ketemu teman-teman.”

Kalimat yang terdengar singkat, tetapi menggambarkan filosofi seorang penghobi sejati.

Beternak Santai, Hasilnya Justru Dicari Banyak Orang

Di balik kesan santainya, Koh Djiang ternyata serius dalam urusan breeding. Saat ini BG Bird Farm mengelola sekitar 50 petak kandang ternak, dibantu perawat kepercayaannya yang sudah sangat dikenal di kalangan kung mania, Mas Brewok.

Duet ini terbilang kompak. Satu fokus menentukan kualitas indukan, satu lagi telaten mengurus perawatan harian. Hasilnya, dari kandang BG Bird Farm terus lahir anakan-anakan yang kualitasnya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bahkan, salah satu produk ternakan BG Bird Farm pernah membuat almarhum Koh Tiek Bie jatuh hati hingga rela meminangnya dengan nilai fantastis, sekitar Rp50 juta. Pengakuan dari tokoh besar perkutut tersebut menjadi bukti bahwa kualitas breeding BG Bird Farm memang bukan isapan jempol.

Indukan Mahal, Anakannya Malah Dijual Harga Saudara

Yang membuat banyak orang heran, meski rela mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan indukan berkualitas, Koh Djiang justru dikenal tidak pernah “galak” saat menentukan harga anakan.

Karena lebih mengedepankan rasa persaudaraan sesama penghobi, banyak produk BG Bird Farm dilepas dengan harga yang sangat bersahabat, mulai Rp100 ribu hingga Rp500 ribu untuk kung mania Kendal dan sekitarnya.

Akibatnya bisa ditebak. Stok di kandang hampir tidak pernah menumpuk. Baru saja anakan mulai layak dipinang, biasanya sudah lebih dulu dipesan para penghobi.

Kalau di dunia otomotif ada istilah fast moving, maka di BG Bird Farm istilahnya adalah “belum sempat besar, sudah ada yang booking.”

Percaya Pakan Golden Voice

koh djiang setia dgn pakan golden voice

Selain dikenal sebagai peternak, Koh Djiang juga merupakan salah satu konsumen setia pakan Golden Voice. Menurutnya, kualitas pakan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga performa burung, baik untuk burung ternakan maupun burung yang rutin dibawa ke arena lomba.

“Saya sudah memakai pakan Golden Voice. Menurut saya kualitasnya bagus, burung lebih terjaga kondisinya dan cocok untuk perkutut-perkutut kesayangan saya,” ujar Koh Djiang.

Konsistensi dalam memilih pakan berkualitas menjadi salah satu bentuk keseriusannya dalam merawat burung. Baginya, bibit unggul saja tidak cukup tanpa didukung perawatan dan nutrisi yang baik.

Didukung Istri, Tapi Ada Syaratnya…

Ada satu pemandangan yang hampir selalu terlihat ketika BG Bird Farm hadir di arena lomba.

Sang istri tercinta hampir selalu ikut mendampingi. Dukungan keluarga inilah yang membuat Koh Djiang semakin nyaman menikmati hobinya.

Namun, para sahabat dekat sudah hafal “kode rahasia” keluarga BG Bird Farm.

Kalau lokasi lomba berada di kota yang terkenal dengan wisata kuliner, jangan heran bila beberapa menit setelah burung digantang…

…sang istri sudah menghilang.

Tenang, bukan pulang.

Melainkan berburu kuliner legendaris.

Bahkan, teman-teman sering bercanda, waktu sang istri berada di area gantangan kadang lebih singkat daripada proses penjurian satu kelas. Begitu menemukan rekomendasi makanan enak, misi kuliner langsung dimulai.

Untungnya Koh Djiang sudah sangat memahami hobi kedua sang istri. Burung tetap dipantau, lomba tetap dinikmati, sementara sang istri berburu cita rasa khas kota yang sedang dikunjungi.

Bagi keluarga BG Bird Farm, setiap lomba bukan hanya soal adu kualitas burung, tetapi juga kesempatan menikmati keindahan kota dan wisata kulinernya.

Menikmati Hobi Tanpa Beban

Di usia pengabdian yang sudah melampaui 30 tahun, Koh Djiang mengajarkan bahwa hobi tidak harus selalu diukur dari banyaknya piala ataupun mahalnya harga burung.

Yang lebih berharga adalah persahabatan yang terus terjalin, obrolan hangat di bawah gantangan, perjalanan bersama keluarga, dan rasa syukur karena masih bisa menikmati dunia perkutut yang dicintainya.

BG Bird Farm Kendal menjadi bukti bahwa penghobi sejati bukan hanya melahirkan burung-burung berkualitas, tetapi juga menjaga nilai kekeluargaan di tengah komunitas kung mania.

Karena pada akhirnya, perkutut bukan hanya tentang suara yang indah.

Tetapi tentang persaudaraan yang tetap berkumandang, bahkan setelah lebih dari 30 tahun.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news