El Zero Meido

BANTUL – Konkurs Seni Suara Alam Burung Perkutut memperebutkan Piala KGPAA Paku Alam X 2026 sukses digelar di Kompleks Pasar Angkruksari Baru, Jalan Parangtritis KM 21, Bantul, Minggu (14/6/2026). Sejak pagi, arena lomba telah dipadati peserta dan penghobi perkutut yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan persaingan para jawara terbaik.
KGPAA Paku Alam X 2026 menjadi bukti bahwa hobi perkutut masih memiliki magnet kuat di tengah masyarakat. Dukungan penuh dari P3SI Pengwil DIY bersama Dinas Pariwisata DIY membuat gelaran tahunan ini berlangsung meriah dengan menghadirkan kelas Piyik Hanging, Piyik Yunior, Piyik Bebas, hingga kelas Dewasa.
Atmosfer persaingan langsung terasa sejak sesi awal. Puluhan burung terbaik yang telah dipersiapkan secara khusus oleh para pemiliknya tampil bergantian menunjukkan kualitas suara, irama, dan kestabilan kerja di bawah pengawasan tim juri. Setiap poin yang diberikan juri menjadi penentu penting dalam perebutan gelar juara sekaligus Piala KGPAA Paku Alam X 2026 yang menjadi incaran para peserta.
Selain menyajikan persaingan ketat di atas gantangan, gelaran ini juga menjadi ajang silaturahmi para penghobi perkutut dari berbagai daerah. Tak sedikit peserta yang memanfaatkan momentum tersebut untuk bertukar pengalaman mengenai perawatan, pemilihan pakan, hingga persiapan burung menuju arena lomba.
Piala KGPAA Paku Alam X yang berbentuk mahkota raja memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para kung mania. Simbol kejayaan dan prestise tersebut menjadikan trofi ini sebagai salah satu target paling bergengsi yang ingin dibawa pulang para peserta. Tak mengherankan jika sejumlah tim papan atas rela meluangkan waktu dan menurunkan jagoan terbaiknya demi memburu mahkota kebanggaan tersebut.
Nama-nama besar seperti Punto Carpenter dan Jupiter tercatat ikut meramaikan persaingan di Bantul. Kehadiran mereka semakin menambah gengsi kompetisi sekaligus menjadi bukti bahwa Piala KGPAA Paku Alam X masih menempati posisi istimewa dalam kalender konkurs perkutut. Bagi para penghobi, kemenangan di arena ini bukan sekadar menambah koleksi piala, melainkan juga pengakuan atas kualitas burung dan konsistensi perawatan yang telah dijalankan selama ini.
Tak heran, sejak pagi suasana arena dipenuhi optimisme dan harapan. Setiap peserta datang dengan ambisi yang sama, yakni mengantarkan jagoannya tampil maksimal dan mengukir sejarah sebagai peraih mahkota bergengsi KGPAA Paku Alam X 2026.
E Zero Meido Tak Terbendung, Carpenter BF Lombok Taklukkan Piala KGPAA Paku Alam X 2026

 Piala KGPAA Paku Alam X 2026 kembali membuktikan statusnya sebagai salah satu trofi paling bergengsi di dunia perkutut nasional. Mahkota raja yang menjadi simbol kejayaan para kung mania sukses menyedot perhatian pemain-pemain terbaik dari berbagai daerah yang rela menempuh perjalanan jauh demi menorehkan prestasi di arena Kompleks Pasar Angkruksari Baru, Bantul, Minggu (14/6/2026).
Nama-nama besar seperti Tim Punto Jakarta, Carpenter BF Lombok, hingga sejumlah pemain papan atas dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY hadir dengan kekuatan terbaiknya. Persaingan sengit pun sudah terasa sejak sesi awal penjurian.
Sorotan utama datang dari kelas Dewasa Bebas, tempat berlangsungnya pertarungan para burung mapan yang telah memiliki jam terbang tinggi. Di kelas inilah drama sekaligus kisah heroik lahir melalui penampilan EL ZERO MEIDO milik Cokro Hindoyo dari Lombok dengan ring Pratama.
Kemenangan Meido terasa begitu spesial. Pasalnya, Carpenter BF datang ke Bantul tanpa kehadiran sang big bos yang sedang kurang sehat dan berhalangan hadir. Namun, absennya sang pemilik tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap memburu mahkota juara.
Bahkan beberapa hari sebelum lomba, kondisi Meido sempat membuat tim waswas. Betina pasangan burung tersebut dikabarkan sempat dihajar hingga kondisi bulunya berantakan. Situasi itu membuat Gus Yogi yang menangani Meido diliputi keraguan.
Namun, pengalaman panjang mengenal karakter Meido membuat keraguan tersebut berubah menjadi keyakinan. Saat tampil di arena, Meido justru menunjukkan kualitas terbaiknya. Kerja stabil dan penampilan meyakinkan mengantarkannya meraih podium tertinggi dengan mengungguli Bisma milik Tim Punto Jakarta yang harus puas berada di posisi kedua.
Persaingan di kelas Dewasa Bebas memang berlangsung ketat. Selain Meido dan Bisma, nama-nama seperti Monster milik Sony Hartanto Surabaya, Pecco Bagnaia milik Agus Hendratno Sleman, hingga Alibaba milik PM Suyanto Jogja juga tampil memberikan perlawanan sengit.
Sementara itu, pada kelas Piyik Bebas, dominasi Tim Punto Jakarta berhasil dibuktikan melalui penampilan Sandhur ring Kemilau Sutra yang sukses mengamankan posisi juara pertama. Burung tersebut mampu mengungguli Moderator milik Sandi-Musa Caruban dan Bahana Timur milik Nunu Toro Pesona Jombang yang menempati posisi kedua dan ketiga.
Kelas ini menjadi salah satu kelas paling ramai dan kompetitif. Sejumlah burung muda potensial seperti X-Man, Puspita, Indah, hingga Venture menunjukkan kualitas yang menjanjikan sebagai calon-calon bintang masa depan di arena nasional.
Pada kelas Piyik Yunior, kemenangan berhasil diraih Dragon Star milik Sie Peng AN dari Banyumas. Penampilannya yang konsisten membuatnya mampu mengungguli Talenta dan Janoko milik H. Zainal Sidoarjo yang menempel ketat di posisi berikutnya.
Sedangkan di kelas Piyik Hanging, burung Sadewa milik Dede Primarasa Bandung tampil paling menonjol dan berhasil meraih gelar juara pertama. Posisi kedua ditempati Nuansa Medan milik H. Aidil Wallad Medan, sementara Pasopati milik Sunu Baskara Bantul melengkapi tiga besar.
Kesuksesan penyelenggaraan KGPAA Paku Alam X 2026 kembali menegaskan bahwa DIY masih menjadi salah satu pusat perkembangan hobi perkutut nasional. Selain menghadirkan persaingan berkualitas, event ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi para penghobi dari berbagai daerah.
Dengan semakin ketatnya persaingan di setiap kelas, para peserta kini dituntut menjaga konsistensi performa jagoannya. Faktor perawatan harian, kondisi fisik burung, pemilihan pasangan, hingga pemberian pakan yang tepat menjadi kunci penting untuk meraih prestasi. Tidak heran jika menjelang lomba-lomba besar berikutnya, para pemain akan kembali mempersiapkan amunisi terbaik mereka demi memburu prestasi dan mengukuhkan nama di peta perkutut nasional.
E Zero Meido Bawa Pulang Piala Mahkota
Sorotan utama datang dari kelas Dewasa Bebas, tempat berlangsungnya pertarungan para burung mapan yang telah memiliki jam terbang tinggi. Di kelas inilah drama sekaligus kisah heroik lahir melalui penampilan EL ZERO MEIDO milik Cokro Hindoyo dari Lombok dengan ring Pratama.
Kemenangan Meido terasa begitu spesial. Pasalnya, Carpenter BF datang ke Bantul tanpa kehadiran sang big bos yang sedang kurang sehat dan berhalangan hadir. Namun, absennya sang pemilik tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap memburu mahkota juara.
Bahkan beberapa hari sebelum lomba, kondisi Meido sempat membuat tim waswas. Betina pasangan burung tersebut dikabarkan sempat dihajar hingga kondisi bulunya berantakan. Situasi itu membuat Gus Yogi yang menangani Meido diliputi keraguan.
Namun, pengalaman panjang mengenal karakter Meido membuat keraguan tersebut berubah menjadi keyakinan. Saat tampil di arena, Meido justru menunjukkan kualitas terbaiknya. Kerja stabil dan penampilan meyakinkan mengantarkannya meraih podium tertinggi dengan mengungguli Bisma milik Tim Punto Jakarta yang harus puas berada di posisi kedua.
Persaingan di kelas Dewasa Bebas memang berlangsung ketat. Selain Meido dan Bisma, nama-nama seperti Monster milik Sony Hartanto Surabaya, Pecco Bagnaia milik Agus Hendratno Sleman, hingga Alibaba milik PM Suyanto Jogja juga tampil memberikan perlawanan sengit.
Sementara itu, pada kelas Piyik Bebas, dominasi Tim Punto Jakarta berhasil dibuktikan melalui penampilan Sandhur ring Kemilau Sutra yang sukses mengamankan posisi juara pertama. Burung tersebut mampu mengungguli Moderator milik Sandi-Musa Caruban dan Bahana Timur milik Nunu Toro Pesona Jombang yang menempati posisi kedua dan ketiga.
Kelas ini menjadi salah satu kelas paling ramai dan kompetitif. Sejumlah burung muda potensial seperti X-Man, Puspita, Indah, hingga Venture menunjukkan kualitas yang menjanjikan sebagai calon-calon bintang masa depan di arena nasional.
Pada kelas Piyik Yunior, kemenangan berhasil diraih Dragon Star milik Sie Peng AN dari Banyumas. Penampilannya yang konsisten membuatnya mampu mengungguli Talenta dan Janoko milik H. Zainal Sidoarjo yang menempel ketat di posisi berikutnya.
Sedangkan di kelas Piyik Hanging, burung Sadewa milik Dede Primarasa Bandung tampil paling menonjol dan berhasil meraih gelar juara pertama. Posisi kedua ditempati Nuansa Medan milik H. Aidil Wallad Medan, sementara Pasopati milik Sunu Baskara Bantul melengkapi tiga besar.


Gus Yogi (Tim Carpenter, BF Lombok)
“Alhamdulillah, hasil ini menjadi jawaban atas semua keraguan yang sempat kami rasakan sebelum lomba. Beberapa hari terakhir kondisi pasangan Meido memang kurang ideal, bahkan sempat membuat kami khawatir performanya akan terganggu. Tetapi saya sudah cukup lama mengenal karakter El Zero Meido. Burung ini punya mental yang kuat dan sering memberi kejutan saat tampil di arena besar. Hari ini dia kembali membuktikan kualitasnya. Kemenangan ini kami persembahkan untuk big bos yang tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan. Semoga beliau ikut merasakan kebahagiaan atas keberhasilan Meido meraih mahkota Paku Alam.”
Wasid Nusantara (Joki Bisma, mewakili Tim Punto Jakarta)
“Kami harus mengakui hari ini Meido memang tampil luar biasa. Dari awal penjurian sampai akhir, kualitas kerjanya sangat stabil dan layak menjadi juara. Dalam lomba, menang dan kalah adalah hal yang biasa. Kami menerima hasil ini dengan lapang dada karena memang burung terbaik yang menang. Namun, persaingan belum selesai. Minggu depan masih ada LPI Cirebon dan kami optimistis Bisma bisa kembali tampil maksimal. Jika bertemu lagi dengan Meido, kami siap memberikan perlawanan yang lebih ketat. Justru persaingan seperti ini yang membuat dunia perkutut semakin menarik untuk diikuti.”
Di balik suksesnya pelaksanaan konkurs, panitia KGPAA Paku Alam X 2026 juga layak mendapat apresiasi atas inovasi yang menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Bukan hanya menyelenggarakan lomba berkualitas, panitia juga membuktikan bahwa hobi perkutut mampu menjadi sarana berbagi rezeki dan menggerakkan ekonomi rakyat.
Melalui kerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY, setiap peserta yang membeli tiket mendapatkan voucher konsumsi berupa kupon makan serta voucher belanja senilai Rp5.000 yang dapat ditukarkan di area kegiatan. Sistem sederhana tersebut ternyata memberikan dampak yang luar biasa.
Puluhan pelaku UMKM binaan Dinas Pariwisata DIY yang dilibatkan dalam kegiatan ini merasakan langsung manfaatnya. Sejak pagi hingga acara berakhir, stan-stan kuliner dan usaha kecil tampak ramai dikunjungi peserta maupun pengunjung yang memanfaatkan voucher yang telah disediakan panitia.
Konsep seperti ini menjadi bukti bahwa sebuah lomba perkutut tidak hanya menghadirkan hiburan dan persaingan prestasi, tetapi juga mampu menciptakan perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat. Para penghobi datang membawa hobi dan kecintaannya terhadap perkutut, sementara para pelaku UMKM memperoleh peluang usaha yang nyata.
Langkah panitia KGPAA Paku Alam X 2026 ini pun menuai banyak apresiasi dari peserta. Selain merasa terlayani dengan baik, para kung mania juga merasakan bahwa kehadiran mereka di arena lomba turut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Sebuah konsep yang patut dicontoh oleh penyelenggara konkurs di daerah lain, karena mampu menghadirkan suasana kebersamaan sekaligus memperkuat nilai sosial dari sebuah hobi. tetap bersama web site kung mania





