Piala Bergilir Gowa Cup keren—Makassar kembali bergolak. Bukan karena harga cabai naik, bukan pula karena pertandingan sepak bola, melainkan karena suara “kung… kung…” para jawara perkutut yang siap mengguncang arena Liga Perkutut Sulawesi Selatan 2026 Seri ke-2 bertajuk Gowa Cup.
Event kali ini bukan sekadar lomba biasa. Panitia membuat gebrakan yang membuat para penghobi perkutut mendadak rajin memandikan burung sejak subuh. Sebuah Piala Bergilir eksklusif didatangkan langsung dari Pulau Jawa untuk diperebutkan di kelas paling bergengsi, yaitu kelas Dewasa.
Konon, begitu kabar piala tersebut menyebar, beberapa perkutut elit Sulawesi langsung meminta menu pakan premium dan jam istirahat tambahan. Mereka sadar, kali ini bukan hanya soal juara, tetapi juga soal gengsi dan sejarah.
Menariknya, urusan menu premium tersebut ternyata bukan sekadar candaan. Di arena Gowa Cup nanti, para penghobi tidak perlu bingung mencari pakan berkualitas karena produk pakan Golden Voice dikabarkan sudah tersedia dan siap melayani kebutuhan para peserta melalui reseller Sulawesi Selatan, Inoe Godbles BF. Situasi ini tentu membuat para pemilik burung semakin percaya diri. Burung siap tempur, pakan siap stok, tinggal menunggu waktu gantangan dibuka.
Wakil Ketua P3SI Sulsel, Ahmad Adnan, menjelaskan bahwa kehadiran piala bergilir ini sengaja dipersiapkan untuk membakar semangat para penghobi.
“Supaya teman-teman semakin termotivasi untuk hadir dan menurunkan burung terbaiknya di Gowa Cup,” ujarnya.
Dan memang benar adanya. Begitu foto piala beredar di grup-grup WhatsApp perkutut, suasana langsung berubah. Para pemilik burung yang biasanya santai mendadak sibuk mengecek kondisi kandang, mengganti pakan, hingga berdiskusi serius tentang strategi gantangan.
Bahkan ada yang berseloroh, “Kalau pakan Golden Voice sudah tersedia di lapangan, alasan burung kurang vitamin sudah tidak berlaku lagi. Tinggal burungnya yang harus mau kerja keras.”
Namun, lebih dari sekadar perebutan trofi mewah, Gowa Cup menjadi simbol perkembangan hobi perkutut di Sulawesi Selatan yang semakin menggembirakan.
Ketua P3SI Sulsel, Wisnu Wibawa, menyampaikan bahwa kemajuan dunia perkutut tidak mungkin tercapai tanpa dukungan para penghobi.
“Hobi ini bisa berkembang karena partisipasi teman-teman semua. Tanpa kebersamaan, tidak mungkin perkutut Sulawesi, khususnya Makassar, bisa tumbuh sebesar sekarang.”
Pernyataan tersebut bukan sekadar basa-basi. Dalam beberapa tahun terakhir, gairah perkutut di Sulawesi memang menunjukkan peningkatan signifikan. Gantangan semakin ramai, pemain baru terus bermunculan, dan kualitas burung lokal mulai berani menantang dominasi nama-nama besar dari luar daerah.
Yang membuat Gowa Cup semakin menarik adalah banjir hadiah yang telah disiapkan panitia. Selain piala dan penghargaan prestisius, peserta juga berkesempatan membawa pulang berbagai doorprize menarik mulai dari sangkar, perangkat elektronik, hingga pakan burung.
Dengan kata lain, pulang dari Gowa Cup bisa jadi membawa dua kemungkinan: membawa pulang gelar juara atau membawa pulang hadiah elektronik. Kalau beruntung, bisa keduanya. Kalau belum beruntung, minimal membawa pulang pengalaman dan cerita untuk dibahas sampai seri berikutnya.
Namun, yang paling diburu tentu saja adalah Piala Bergilir Gowa Cup. Sebab trofi ini bukan sekadar pajangan lemari. Ia adalah simbol supremasi, lambang prestise, dan bukti bahwa seekor perkutut berhasil menjadi yang terbaik di antara para terbaik.
Kini pertanyaannya tinggal satu:
Siapakah yang akan menjadi pemilik pertama Piala Bergilir Gowa Cup dan mengukir namanya dalam sejarah Liga Perkutut Sulawesi Selatan 2026?
Jawabannya akan terungkap di arena gantangan. Karena di dunia perkutut, semua boleh percaya diri, semua boleh sesumbar, tetapi yang menentukan tetap suara burung di atas gantangan.
Dan seperti pepatah penghobi perkutut:
“Di rumah semua burung juara, di gantangan barulah ketahuan siapa rajanya.”
Satu hal yang pasti: ketika gantangan mulai terisi dan suara perkutut mulai bersahutan, Gowa Cup bukan lagi sekadar lomba. Ia telah menjelma menjadi panggung pembuktian para jawara Sulawesi. Dan di tengah panasnya persaingan itu, stok pakan Golden Voice yang tersedia di lapangan melalui reseller Inoe Godbles BF siap menjadi sahabat para penghobi yang ingin memberikan pelayanan terbaik bagi jagoannya.

Jika sebelumnya Gowa Cup 2026 sudah mencuri perhatian dengan kehadiran Piala Bergilir yang didatangkan langsung dari Pulau Jawa, maka data resmi brosur yang beredar semakin menegaskan bahwa event ini bukan sekadar lomba rutin, melainkan salah satu pesta perkutut terbesar di Sulawesi Selatan tahun ini.
Bertempat di Lapangan Eks Terminal Toddopuli Makassar, Minggu, 14 Juni 2026, para penghobi dari berbagai daerah dipastikan akan memadati arena sejak pagi hari. Bahkan panitia sudah menetapkan start lomba pukul 08.00 WITA hingga selesai. Artinya, para peserta wajib memastikan burung andalannya sudah sarapan lebih dulu agar tidak “masuk angin” saat bertarung memperebutkan poin liga dan tentunya piala bergilir wah.
Empat kelas bergengsi telah disiapkan oleh Pengda Gowa sebagai pelaksana, yaitu Dewasa Bebas, Piyik Bebas, Piyik Junior, dan Hanging. Komposisi kelas ini membuat persaingan dipastikan merata, mulai dari para jawara senior yang sudah kenyang pengalaman hingga amunisi-amunisi muda yang sedang naik daun.
Yang membuat suasana semakin panas adalah hadiah yang disediakan panitia. Tidak tanggung-tanggung, setiap kelas akan memperebutkan piala juara 1 sampai 10, ditambah 150 poin liga yang sangat berharga bagi para pemburu gelar tahunan Liga Perkutut Sulawesi Selatan.
Bagi pemain liga sejati, poin kadang lebih menegangkan daripada hadiah uang. Sebab satu koncer bisa mengubah posisi klasemen, satu kemenangan bisa mengangkat nama burung menjadi perbincangan se-Sulawesi, bahkan satu kekalahan bisa membuat pemilik burung pulang sambil terus mengulang kalimat legendaris:
“Sebenarnya tadi burung saya bunyinya bagus, cuma kurang hoki saja.”
Selain pertarungan di gantangan, panitia juga menyiapkan berbagai doorprize menarik yang siap dibagikan kepada peserta yang beruntung. Mulai dari perlengkapan hobi hingga hadiah-hadiah spesial yang membuat suasana lomba semakin meriah.
Menariknya lagi, tiket lomba masih sangat terjangkau. Kelas Dewasa Bebas dan Piyik Bebas dipatok Rp110.000 sudah termasuk makan siang, sedangkan kelas Piyik Junior dan Hanging cukup Rp100.000. Dengan harga tersebut, peserta bukan hanya membeli tiket lomba, tetapi juga membeli kesempatan untuk mengukir sejarah sebagai peraih Piala Bergilir pertama Gowa Cup.
Di luar arena lomba, para penghobi juga dapat menemukan berbagai kebutuhan perkutut, termasuk pakan premium Golden Voice yang telah siap tersedia melalui reseller Sulawesi Selatan, Inoe Godbles BF. Kehadiran produk ini tentu menjadi kabar baik bagi peserta dari luar kota yang ingin memastikan jagoannya tetap mendapatkan asupan terbaik selama berada di arena.
Kini hitung mundur menuju 14 Juni 2026 telah dimulai. Para joki mulai memanaskan mesin, para pemilik mulai menyusun strategi, dan para burung jawara mulai dipersiapkan untuk tampil maksimal.
Satu hal yang pasti: ketika gantangan mulai terisi penuh dan suara perkutut mulai bersahutan di Eks Terminal Toddopuli, Gowa Cup bukan lagi sekadar perlombaan. Ia akan berubah menjadi panggung adu gengsi para jawara Sulawesi yang sama-sama ingin membawa pulang piala, poin liga, dan tentu saja kebanggaan yang tak ternilai harganya.
Karena pada akhirnya, di dunia perkutut, nama besar tidak ditentukan oleh cerita di warung kopi, melainkan oleh koncer yang berkibar di atas gantangan. selamat berlomba dan nantikan berita lombanya di web site kung mania





