TRUNOJOYO CUP 2026 MELEDAK! 1.000 Perkutut Guncang LPI “PENGORBANAN” Sampang.

MADURA KEMBALI TEGASKAN DIRI SEBAGAI KANDANG RAKSASA KUNGMANIA NASIONAL

 TRUNOJOYO CUP 2026, lanjutan Liga Perkutut Indonesia (LPI) Seri ke-3 ini  benar-benar menjadi lautan perkutut. Sejak pagi buta, Sabtu (30/05), Lapangan Karapan Sapi Karang Dalem, Sampang, Madura, dipadati ribuan kungmania yang datang membawa harapan, kebanggaan, dan tentunya burung-burung andalan terbaik mereka.

Tak kurang dari 600 ekor  dari total seribuan lebih perkutut memadati arena pada hari pertama lomba. Enam blok Kelas Piyik Bebas, enam blok Kelas Piyik Yunior, serta empat blok Kelas Piyik Hanging nyaris tanpa celah kosong. Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa gairah dunia perkutut di Pulau Garam masih berada pada level yang sangat tinggi.

Yang menarik, sekitar 95 persen peserta berasal dari Madura dan Jawa Timur. Sementara peserta dari luar provinsi memang hadir, jumlahnya relatif sedikit. Bahkan jika seluruh peserta dari luar Jawa Timur dikumpulkan, jumlahnya diperkirakan tidak mencapai satu blok penuh. Fakta ini semakin mempertegas bahwa Madura saat ini merupakan salah satu episentrum kekuatan perkutut nasional.

Lebih mencengangkan lagi, sekitar separuh peserta yang hadir merupakan kungmania asli Madura. Dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep, seluruh penjuru Pulau Garam seakan tumpah ruah ke arena Trunojoyo Cup. Mereka datang membawa kebanggaan daerah sekaligus membuktikan kualitas hasil ternak yang selama ini menjadi perbincangan di tingkat nasional.

Momentum LPI Seri ke-3   TRUNOJOYO CUP kali ini juga terasa sangat istimewa karena bertepatan dengan suasana Hari Raya Idul Adha. Di tengah tradisi masyarakat Madura yang dikenal sangat menjunjung tinggi momen berkumpul bersama keluarga saat Lebaran Haji, ribuan kungmania justru memilih menghabiskan waktunya di lapangan lomba.

Sebuah pengorbanan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ketika sebagian besar masyarakat menikmati suasana kurban, aroma sate, dan kebersamaan keluarga, para pecinta perkutut memilih berdiri di bawah terik matahari, mengawal burung-burung kesayangan mereka agar meraih prestasi terbaik. Besi yang ditempel  stiker  menjadi saksi betapa besar kecintaan mereka terhadap dunia perkutut.

Pengorbanan yang sama juga ditunjukkan oleh peserta dari luar daerah. Sejumlah kungmania harus meninggalkan kota asal sejak Kamis malam, bahkan dini hari, menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju Madura. Mereka rela mengorbankan waktu libur bersama keluarga demi menjadi bagian dari salah satu seri paling bergengsi dalam kalender Liga Perkutut Indonesia.

Cuaca panas khas Madura yang menyengat sepanjang hari pertama pun tak mampu meredam semangat peserta. Justru suasana itulah yang menghadirkan atmosfer persaingan sesungguhnya. Burung-burung terbaik dipaksa menunjukkan mental juara di bawah kondisi lapangan yang menuntut stamina dan performa maksimal.

Kesuksesan penyelenggaraan TRUNOJOYO CUP 2026 juga mendapat apresiasi luas. Salah satu panitia pelaksana, Deni Sampang, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta, sponsor, panitia, dan pihak-pihak yang telah memberikan dukungan sehingga gelaran ini dapat berlangsung dengan baik.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, sponsor, dan semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya lomba ini. Tanpa kebersamaan dan dukungan teman-teman semua, acara sebesar ini tidak mungkin berjalan sukses. Kami juga memohon maaf apabila dalam penyambutan dan pelayanan kepada tamu dari luar daerah masih terdapat kekurangan. Selamat berlomba dan semoga seluruh peserta mendapatkan hasil terbaik,” ujarnya.

Dengan hadiah bergengsi, poin LPI 150, serta doorprize spektakuler berupa sepasang sapi, dua sepeda listrik, dan berbagai hadiah elektronik lainnya, TRUNOJOYO CUP 2026 kembali membuktikan bahwa Madura bukan hanya sukses sebagai tuan rumah, tetapi juga menjadi barometer kekuatan perkutut Indonesia.

Dan ketika ribuan perkutut berkumandang bersamaan di bawah langit Sampang, satu pesan seolah menggema ke seluruh penjuru negeri: Madura masih menjadi rumah besar para kungmania Indonesia.

 

PERTARUNGAN RAKSASA BLOK BARAT! BLANTIKAN TAKLUKKAN JAGOAN STAR BOY  ITS BOGOR DALAM DUEL PANAS PIYIK JUNIOR TRUNOJOYO CUP 2026

Salah satu pertarungan paling menyita perhatian pada hari pertama TRUNOJOYO Cup 2026 terjadi di kelas Piyik Junior. Arena seakan terpusat pada duel dua kekuatan besar Blok Barat, yakni burung andalan milik tim Dede Primarasa melawan jagoan besutan tim ITS Bogor yang dikawal Danu dan Uda Itas.

Sejak babak pertama, kedua burung langsung menunjukkan kualitas sebagai calon bintang masa depan. Irama angkatan, pembawaan suara, hingga kestabilan kerja membuat keduanya silih berganti menjadi pusat perhatian para pengamat lapangan. Banyak penonton bahkan menyebut duel ini layaknya “final champion Arsenal vs psg” karena mempertemukan dua materi terbaik yang turun di kelas tersebut.

Secara kualitas penilaian, kedua burung nyaris tak memiliki jarak. Para juri memberikan apresiasi yang relatif berimbang karena masing-masing mampu mempertahankan performa pada level yang sama sepanjang perlombaan. Tidak sedikit kungmania yang kesulitan memprediksi siapa yang bakal keluar sebagai pemenang hingga babak-babak akhir.

Namun, lomba perkutut bukan hanya soal kualitas sesaat. Konsistensi menjadi faktor yang sangat menentukan. Di sinilah Blantikan, amunisi andalan tim Dede Primarasa, menunjukkan kelasnya.

Burung muda yang tengah naik daun tersebut mampu menjaga ritme permainan sejak babak pertama hingga babak keempat. Meski lawannya terus memberikan tekanan dan beberapa kali menghasilkan kerja yang memancing decak kagum, Blantikan tetap tampil stabil dan efektif mengumpulkan poin.

Keunggulan aggregate nilai yang terus terjaga selama empat babak akhirnya menjadi pembeda utama. Saat rekapitulasi dilakukan, Blantikan berhasil mempertahankan keunggulan tipis namun krusial atas rival beratnya, star boy dari ITS Bogor.

Kemenangan ini sekaligus mempertegas reputasi Blantikan sebagai salah satu piyik paling prospektif yang saat ini dimiliki kubu Dede Primarasa. Di sisi lain, penampilan burung andalan Danu dan Uda Itas tetap layak mendapat apresiasi tinggi karena mampu memberikan perlawanan sengit hingga akhir perlombaan.

Duel dua raksasa Blok Barat ini menjadi bukti bahwa persaingan di kelas Piyik Junior kini semakin ketat. Tidak lagi sekadar adu kualitas suara, tetapi juga adu mental, konsistensi, dan kemampuan menjaga performa dari babak ke babak.

Jika performa keduanya terus berkembang, bukan tidak mungkin pertemuan antara Blantikan dan jagoan ITS Bogor akan kembali tersaji pada seri-seri Liga Perkutut Indonesia berikutnya. Dan bila itu terjadi, dunia perkutut nasional dipastikan kembali disuguhi pertarungan elite yang layak disebut sebagai salah satu rivalitas paling menarik di kelas piyik saat ini

Kemenangan Blantikan milik tim Dede Primarasa sekaligus keberhasilan burung andalan tim ITS Bogor menempati posisi teratas di kelas Piyik Junior TRUNOJOYO Cup 2026 menghadirkan catatan menarik bagi dunia perkutut Madura. Sedangkan Star Boy, meski gagal menjadi yang terbaik, prestasi ini membuktikan kualitas ring-nya tak lagi bisa diremehkan.

Di tengah dominasi jumlah peserta yang mayoritas berasal dari Madura dan Jawa Timur, justru podium teratas kelas yang dianggap paling prestisius untuk melihat kualitas calon bintang masa depan berhasil diamankan oleh amunisi-amunisi asal Blok Barat. Fakta ini menjadi sinyal bahwa produk perkutut Madura masih harus terus berbenah apabila ingin bersaing lebih kuat di level nasional.

Selama ini Madura dikenal sebagai salah satu basis kungmania terbesar di Indonesia. Antusiasme, jumlah peternak, hingga populasi pemainnya nyaris tak tertandingi. Namun kompetisi nasional tidak hanya berbicara kuantitas, melainkan kualitas materi yang mampu bersaing secara konsisten melawan produk-produk terbaik dari berbagai daerah.

Meski demikian, ada kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah. Kemenangan Blantikan tidak sepenuhnya lepas dari sentuhan putra daerah. Burung jawara tersebut selama ini dikawal dan dirawat oleh joki muda Madura, Umam, yang dikenal memiliki ketelatenan dan kemampuan membaca karakter burung secara baik.

Peran Umam menjadi bukti bahwa sumber daya manusia perkutut Madura sebenarnya memiliki kualitas yang sangat kompetitif. Jika para peternak lokal mampu terus meningkatkan mutu breeding dan seleksi materi, bukan tidak mungkin pada masa mendatang podium-podium utama level nasional akan kembali didominasi produk asli Pulau Garam.

TRUNOJOYO CUP 2026: PERSAINGAN MEMANAS, TIGA BESAR SETIAP KELAS HADIRKAN CERITA BERBEDA

SAMPANG – Hari pertama Liga Perkutut Indonesia Seri III 2026 “TRUNOJOYO CUP” benar-benar menghadirkan persaingan berkualitas. Dari tiga kelas utama yang dipertandingkan, yakni Piyik Bebas, Piyik Junior, dan Piyik Hanging, lahir sejumlah bintang baru sekaligus menegaskan eksistensi pemain-pemain papan atas nasional.

PIYIK BEBAS: MADURA TUNJUKKAN TAJINYA

Kelas Piyik Bebas yang dipenuhi enam blok peserta menjadi salah satu kelas paling bergengsi. Persaingan berlangsung ketat sejak babak pertama karena banyak burung tampil dalam kondisi prima.

Posisi pertama berhasil direbut TOP UP DOMISOL milik H. Hasan Faisol dari Pamekasan dengan nilai 380. Burung ring BLGM ini tampil stabil sepanjang penjurian. Kelebihan utamanya terletak pada kestabilan irama dan kematangan suara yang mampu dipertahankan hingga akhir lomba.

Runner-up ditempati SINGA BARONG milik H. Yazid RM Bol dari Pamekasan. Burung ring Bintang Agung tersebut beberapa kali menjadi perhatian juri berkat karakter suara yang kuat dan kerja yang cukup konsisten.

Sementara posisi ketiga diamankan LEO GOON milik Nurul Anggun dari Sampang  Meski terpaut cukup jauh dari dua pemuncak, keberhasilan Leo Goon menembus tiga besar menunjukkan kualitas breeding lokal Sampang yang patut diperhitungkan.

Dominasi dua burung asal Pamekasan di posisi teratas membuktikan bahwa wilayah tersebut masih menjadi salah satu sentra penghasil piyik berkualitas di Madura.

PIYIK JUNIOR: DUEL PANAS BLOK BARAT JADI SAJIAN UTAMA

Inilah kelas yang paling banyak dibicarakan peserta dan penonton. Kelas Piyik Junior menghadirkan duel klasik antara kekuatan Bandung dan Jakarta yang berakhir dengan pertarungan sengit hingga babak terakhir.

BLANTIKA  milik Dede Primarasa Bandung keluar sebagai juara pertama . Burung ring Ayun jsk ini tampil nyaris tanpa celah. Konsistensi kerja selama empat babak menjadi kunci keberhasilannya mengungguli para pesaing.

Posisi kedua diraih STAR BOY milik Danu Jakarta  Burung ring ITS ini menjadi rival utama Blantika sepanjang lomba. Secara kualitas keduanya dianggap sangat berimbang, namun aggregate nilai selama empat babak membuat Blantika unggul tipis.

Sementara podium ketiga menjadi milik ADI PUTRO milik Heru NHD dari Sumenep d. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kubu Madura karena mampu menyelip di tengah dominasi dua raksasa Blok Barat.

Kelas ini juga menjadi bahan evaluasi penting bagi peternak Madura. Di tengah dominasi jumlah peserta lokal, dua posisi teratas justru diamankan pemain luar Jawa Timur. Sebuah sinyal bahwa kualitas breeding Madura masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing lebih kuat di level nasional.

Namun kemenangan Blantika juga memiliki sentuhan Madura. Burung tersebut selama ini dikawal dan dirawat oleh joki muda asal Madura, Umam, yang berperan penting dalam menjaga performa sang jawara.

PIYIK HANGING: BALI, BANDUNG, DAN SAMPANG BERBAGI PODIUM

Kelas Piyik Hanging menghadirkan persaingan yang tidak kalah menarik. Banyak burung tampil atraktif dan memaksa juri bekerja ekstra ketat menentukan pemenang.

Posisi puncak berhasil direbut IMANUEL milik Made Mindrajaja dari Denpasar Bali  Burung ring Anak Manja ini menunjukkan kestabilan kerja yang sangat baik dan mampu mempertahankan performanya sepanjang lomba.

Di posisi kedua bercokol SADEWA milik Dede Primarasa Bandung . Keberhasilan Sadewa menambah koleksi prestasi tim Primarasa sekaligus menegaskan bahwa skuad Bandung datang ke Sampang dengan materi yang benar-benar siap tempur.

Sementara posisi ketiga ditempati KAISAR milik M. Jufri dari Sampang . Hasil ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah karena mampu menempatkan wakilnya di podium utama.

PERSAINGAN NASIONAL SEMAKIN MERATA

Jika melihat hasil tiga kelas utama, ada satu kesimpulan menarik yang bisa ditarik dari TRUNOJOYO CUP 2026. Persaingan nasional kini semakin merata.

Madura masih menjadi penguasa dari sisi jumlah peserta dan antusiasme. Bali menunjukkan kualitas lewat kemenangan Imanuel di Piyik Hanging. Bandung tampil impresif melalui Blantika dan Sadewa. Jakarta membuktikan kekuatannya lewat Star Boy. Sementara Sumenep, Pamekasan, dan Sampang tetap mampu mengirim wakil-wakil terbaik ke papan atas.

Inilah yang membuat LPI Seri III TRUNOJOYO CUP menjadi salah satu seri paling bergengsi musim ini. Bukan hanya karena dihadiri hampir seribu ekor perkutut, tetapi karena menjadi panggung pertemuan para jawara dari berbagai daerah yang saling menguji kualitas di jantung Pulau Garam. FOTO TIM PRIMARASA, AZIS, MEDIA ONLINE)

om roy
umam perawat blantika

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news