
Kapolres Probolinggo Kota Cup 2026 yang berlangsung pada Minggu (14/06) di Lapangan Sepak Bola SMAN 4 berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Ajang yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Bhayangkara ke-80 tahun 2026 tersebut mendapat perhatian besar dari komunitas perkutut karena dibuka langsung oleh Kapolres Probolinggo Kota AKBP Rico Yumasri, S.I.K., M.I.K.
Kehadiran Kapolres yang didampingi Wakapolres serta sejumlah pejabat Polres Probolinggo Kota menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah padatnya agenda tugas kepolisian, kehadiran mereka di arena konkurs menunjukkan dukungan terhadap kegiatan masyarakat sekaligus mempererat hubungan dengan para kungmania yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Kapolres Probolinggo Kota Cup Jadi Wadah Sinergi Polri dan Masyarakat
Kapolres Probolinggo Kota Cup 2026 tidak sekadar menjadi arena adu kualitas burung perkutut. Ketua panitia, Kompol Fauzi, ID.S.A.P., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian resmi dalam menyemarakkan Hari Bhayangkara ke-80.
Menurut Kompol Fauzi, kegiatan yang melibatkan komunitas seperti konkurs perkutut menjadi sarana efektif untuk membangun komunikasi yang lebih dekat antara Polri dan masyarakat.
Kapolres: Keamanan Butuh Dukungan Semua Pihak
Dalam sambutannya, AKBP Rico Yumasri, S.I.K., M.I.K., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya konkurs yang dinilai memiliki persiapan matang dan dukungan organisasi yang lengkap.
Menurutnya, kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata sinergi antara Polri dan masyarakat yang perlu terus dibangun.
“Kita sebagai anggota Polri tidak sepenuhnya menjalankan sendiri tentang menjaga keamanan. Kita membutuhkan dukungan, sinergi, komunikasi dan support dari masyarakat. Saya yakin jalinan seperti ini akan membantu menjaga kondusivitas dan ketertiban sehingga tidak sampai terjadi gangguan kamtibmas,” ujar AKBP Rico Yumasri.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta dan tamu undangan yang hadir.
Konkurs Berkualitas, Silaturahmi Semakin Kuat
Keberhasilan penyelenggaraan Kapolres cup Probolinggo Kota 2026 menjadi bukti bahwa dunia perkutut mampu menjadi media yang efektif untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi, sekaligus memperkuat sinergi antara masyarakat dan aparat keamanan.
Dengan dukungan penuh dari Polres Probolinggo Kota serta antusiasme peserta dari berbagai daerah, gelaran ini tidak hanya menghadirkan persaingan berkualitas di arena lomba, tetapi juga membawa pesan penting tentang kebersamaan, ketertiban, dan semangat menjaga kondusivitas lingkungan.
Tiga kelas yang dipertandingkan, yakni Piyik Bebas, Piyik Yunior, dan Piyik Hanging, menghadirkan persaingan yang sangat menarik. Sejumlah nama besar berhasil mempertahankan reputasinya, sementara beberapa pendatang baru sukses mencuri perhatian.
Piyik Bebas: Rasa Sayang Tak Terbendung
Di kelas Piyik Bebas, burung bernama Rasa Sayang milik Agus TP dari Surabaya tampil paling stabil sejak awal penjurian. Mengandalkan ring Legowo, Rasa Sayang berhasil mengumpulkan performa terbaik dan mengunci posisi puncak.
Posisi runner-up diraih Desy Ratnasari Reborn milik Dede Primarasa Bandung yang kembali menunjukkan kualitas trah IBO. Sementara podium ketiga menjadi milik Kapten Srobot andalan H Fauzi Dibyanto dari Probolinggo yang tampil impresif di hadapan publik sendiri.
Tak kalah menarik, nama-nama seperti Purnama, Saigon, hingga Bintang Krian juga beberapa kali menjadi perhatian juri berkat materi suara yang menjanjikan. Penampilan apik rasa sayang membuat darah tinggi naik, cak rubut untuk menjadi yang terbaik di Cirebon.
Tiga Besar Piyik Bebas
- Rasa Sayang – Agus TP/Surabaya
- Desy Ratnasari Reborn – Dede Primarasa/Bandung
- Kapten Srobot – H Fauzi Dibyanto/Probolinggo
Piyik Yunior: Blantika Ade Surya Bersinar Terang
Kelas Piyik Yunior menjadi salah satu kelas paling ramai peserta. Persaingan berlangsung ketat karena banyak burung muda potensial yang sedang naik daun.
Di tengah ketatnya persaingan, Blantika Ade Surya milik Dede Primarasa Bandung tampil luar biasa dan berhasil mengamankan posisi juara pertama. Burung ini mampu menjaga kestabilan kerja hingga akhir penjurian.
Posisi kedua diraih Putra Timur milik H. Budi Harsono dari Probolinggo yang tampil sangat kompetitif. Sedangkan Alenteng milik Rosi, Tim Al Madani Paiton, sukses mengamankan podium ketiga setelah menunjukkan performa yang konsisten.
Kelas ini juga menjadi ajang pembuktian sejumlah amunisi muda seperti Bintang Liverpool, Putra Besuki, dan Bunga Desa yang tampil cukup menjanjikan untuk event-event besar berikutnya.
Tiga Besar Piyik Yunior
- Blantika Ade Surya – Dede Primarasa/Bandung
- Putra Timur – H Budi Harsono/Probolinggo
- Alenteng – Rosi Team Al Madani/Paiton
Piyik Hanging: Singapore Pimpin Dominasi Situbondo
Kelas Piyik Hanging menjadi penutup yang sangat menarik. Burung Singapore milik H. Saamsuri Situbondo tampil dominan dan berhasil menjadi yang terbaik setelah memperlihatkan performa stabil sepanjang penilaian.
Posisi kedua ditempati Sinden milik H. Bambang Lumajang yang memberikan perlawanan sengit. Sementara, Soponyono milik Anang Wahyudi Kraksaan sukses mengamankan posisi ketiga setelah tampil konsisten hingga akhir lomba.
Kemenangan Singapore sekaligus mempertegas kualitas amunisi Situbondo yang pada event kali ini mampu berbicara banyak di papan atas.
Tiga Besar Piyik Hanging
- Singapore – H Saamsuri/Situbondo
- Sinden – H Bambang/Lumajang
- Soponyono – Anang Wahyudi/Kraksaan
Probolinggo Kembali Jadi Magnet Pecinta Perkutut
Kapolres Probolinggo Kota Cup 2026 kembali membuktikan diri sebagai salah satu agenda yang mampu menarik perhatian penghobi perkutut dari berbagai daerah. Atmosfer persaingan yang sehat, kualitas peserta yang merata, serta munculnya sejumlah nama baru membuat jalannya lomba menarik dari awal hingga akhir.
Bagi para peserta yang belum berhasil menembus podium, hasil kali ini tentu menjadi bahan evaluasi untuk melakukan persiapan yang lebih matang. Sementara para jawara yang berhasil naik podium diharapkan mampu mempertahankan performanya pada event-event besar berikutnya.
Persaingan masih panjang. Arena berikutnya sudah menanti, dan para jawara hari ini tentu akan kembali menjadi buruan para pesaing yang siap melakukan pembalasan pada lomba selanjutnya
Piyik Bebas Jadi Magnet Utama, Sinyal Kemunduran, atau Tantangan Bersama?
Kelas Piyik Bebas kembali menjadi kelas dengan perhatian terbesar dalam gelaran Kapolres Probolinggo Kota Cup 2026. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Probolinggo, tetapi juga mulai terlihat di berbagai konkurs bergengsi di Tanah Air.
Banyak penyelenggara kini menempatkan kelas piyik bebas sebagai salah satu kelas utama karena tingginya antusiasme peserta. Dari sisi jumlah peserta, kelas ini kerap mengungguli kelas dewasa yang selama puluhan tahun menjadi simbol prestise dalam dunia perkutut.
Di satu sisi, tingginya minat terhadap piyik bebas tentu menjadi kabar baik karena menunjukkan regenerasi burung-burung berkualitas terus berjalan. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi catatan penting bagi dunia perkutut nasional.
Jika ditarik ke belakang, kelas dewasa sejatinya merupakan etalase kualitas sesungguhnya dari seekor perkutut. Burung dewasa menjadi tolok ukur keberhasilan breeding, perawatan, kestabilan performa, hingga kemampuan pemilik dalam menjaga kualitas burung dalam jangka panjang.
Karena itu, ketika perhatian mulai bergeser dan dominasi peserta lebih banyak terjadi di kelas piyik bebas, sebagian pelaku hobi perkutut menilai kondisi tersebut sebagai sebuah kemunduran yang perlu dicermati bersama. Namun, realitas di lapangan membuat penyelenggara tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti tren yang sedang berkembang.
Faktanya, jumlah peserta piyik bebas saat ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kelas dewasa. Situasi inilah yang membuat banyak event besar memberikan porsi lebih besar kepada kelas piyik bebas demi menjaga antusiasme peserta dan keberlangsungan lomba.
Kondisi tersebut sejatinya menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh elemen perkutut, mulai dari peternak, pemain, juri, organisasi hingga penyelenggara konkurs.
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengembalikan daya tarik kelas dewasa tanpa mengurangi perkembangan kelas piyik bebas. Perawatan burung dewasa yang membutuhkan waktu, kesabaran, konsistensi, serta biaya yang tidak sedikit menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius.
Apabila kualitas perawatan burung dewasa terus ditingkatkan dan apresiasi terhadap kelas dewasa dibedakan, maka keseimbangan antara kelas piyik dan dewasa dapat kembali terjaga. Sebab pada akhirnya, dunia perkutut yang sehat ketika mampu meyakinkan penghobi untuk bersaing tanpa kuatir kalah sebelum bertanding, bagaimanapun , burung-burung dewasa berkualitas yang mampu menjadi ikon dan legenda di arena kompetisi.






