Liga Rasa Metro Mini, Kenyamanan Peserta dipertanyakan.??

BMS CUP – PUSKUD KEBUMEN, RAMAI PESERTA, MENYISAKAN CATATAN SERIUS

    donantur lomba  bms bf foto dengan ketua juri jateng pk henry atlas

Liga Perkutut Jateng Gayeng seri 3 yang diadakan di Lapangan PusKUD Kebumen menjadi saksi membludaknya antusiasme kung mania menghadiri  BMS Cup. Peserta datang dari berbagai kota seperti Semarang, Kebumen, Cilacap, Purwokerto, Yogyakarta, Salatiga, Solo, Sragen, hingga luar provinsi seperti Bandung dan Ciamis. Atmosfer lomba terasa hidup, penuh gairah, dan menunjukkan bahwa denyut hobi perkutut di Jawa Tengah, khususnya di Kebumen, masih sangat kuat.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan BMS Cup di Kebumen kali ini memang berlangsung dengan baik. Fasilitas yang diberikan panitia, mulai dari welcome drink dan uborampe, seperti kacang rebus, pisang, dan ubi, semua enak. Bahkan menu makan siangnya terbilang wah kalau dibandingkan menu di event sejenis di daerah lain. Namun, mengelola animo yang besar ini harus hati-hati, sekaligus menjadi pengingat bahwa euforia tanpa kontrol hanya akan meninggalkan tanda tanya besar bagi masa depan lomba perkutut itu sendiri.

Di balik ramainya peserta, muncul persoalan krusial yang menuai sorotan tajam, khususnya pada kelas piyek bebas. Kelas yang seharusnya diisi 42 kerekan justru membengkak hingga 63 kerekan—sebuah kondisi yang langsung menuai reaksi dari peserta.

“Ini sudah tidak masuk akal. Kapasitas 42 DIPAKSAKAN JADI 63, SEPERTI METRO MINI NGEJAR SETORAN akhir bulan. Yang penting jalan, tanpa memperhatikan kelayakan,” ungkap Anang, salah satu peserta yang hadir siang itu.

Lonjakan jumlah peserta tanpa penyesuaian sistem berdampak langsung pada kualitas penilaian. Banyak burung dinilai tidak terpantau secara optimal, baik dari sisi suara maupun visual. Beban juri dinilai terlalu berat, bahkan untuk satu penancap yang harus menangani blok berlebih.

“Satu penancap jelas kewalahan. Harusnya ada penambahan tukang tancap supaya penilaian tetap maksimal,” usul salah satu peserta .

Dan akhirnya di babak kedua panitia menambah jumlah tukang tancap. Meski demikian, persoalan tidak serta-merta selesai. Yang menjadi sorotan berikutnya adalah jumlah piala yang tidak mengalami penyesuaian. Meski jumlah peserta membengkak, piala tetap dibatasi hanya 10, dengan alasan “seblok”.

“Kami bayar tiket tidak murah, tapi kenyamanan dan keadilan lomba tidak terjaga. Banyak burung tidak terpantau dengan baik. ini jelas merugikan peserta,” tegas  heru wi pesona.

Kondisi ini juga mendapat perhatian dari tokoh kung mania sekaligus bagian dari tim kontes, Om Roy Primarasa.

“Kami menyayangkan kondisi ini. Event sekelas liga seharusnya punya sistem yang rapi dan profesional. Jangan sampai terkesan yang penting setor aman, tapi kualitas lomba diabaikan,” ujarnya.

Meski lomba tetap berjalan hingga tuntas, catatan penting ini menjadi alarm bagi penyelenggara dan pihak terkait. Keberanian untuk menolak kondisi yang tidak ideal—baik dari sisi juri maupun panitia—dinilai sangat penting demi menjaga marwah kompetisi.

Liga bukan sekadar ajang ramai peserta, tetapi juga tentang kualitas, keadilan, dan kenyamanan. Jika hal-hal mendasar ini diabaikan, bukan tidak mungkin kepercayaan peserta perlahan akan terkikis.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan BMS Cup di Kebumen kali ini memang berlangsung dengan baik. Fasilitas yang diberikan panitia, mulai dari welcome drink dan uborampe, seperti kacang rebus, pisang, dan ubi, semua enak. Bahkan menu makan siangnya terbilang wah kalau dibandingkan menu di event sejenis di daerah lain. Namun, mengelola animo yang besar ini harus hati-hati, sekaligus menjadi pengingat bahwa euforia tanpa kontrol hanya akan meninggalkan tanda tanya besar bagi masa depan lomba perkutut itu sendiri.

Kelas Dewasa Bebas langsung membuka tensi tinggi sejak babak pertama. Burung Parvez milik Pak Pramando dari tim BTS tampil dominan tanpa celah. Sejak kerekan awal, performanya stabil, ritme bunyi rapi, dan yang paling menonjol adalah kemampuannya memenuhi syarat bunyi 3, 5, 7, bahkan lebih dalam setiap babak. Konsistensi itu terjaga penuh hingga babak keempat—sebuah standar yang jarang bisa diimbangi lawan.

Juri atas Mas Wahyu menegaskan bahwa burung di kerekan 19 ini memang “ngancir dewe”, gacor sendiri tanpa tekanan dari pesaing.

“kerekan no 19 Mentalnya luar biasa, dari awal sampai akhir tidak goyah. Ini tipe burung jadi, bukan sekadar tampil bagus sesaat,” ujarnya.

Satu-satunya potensi perlawanan sebenarnya datang dari burung di kerekan 22 milik Anang Teratai. Secara kualitas, burung ini sangat layak menempel ketat, bahkan berpeluang membuat persaingan lebih hidup. Namun, kendala justru muncul pada pola hitungan bunyi yang terbatas.

“Burungnya bagus, tapi hitungannya cuman hapal di 1 sampai 3. Tidak bisa HAFAL ANGKA 4 keatas JADI YA… MENTOK 2 WARNA. CERITA JURI WAHYU SAMBIL TERSENYUM SETELAH TERIMA amplop dinas.

Alhasil, Parvez melenggang mulus ke podium pertama, disusul Barakuda di posisi kedua dan Venture di posisi ketiga yang tampil cukup stabil meski belum mampu menyamai dominasi sang juara.


Masuk ke kelas Piyik Bebas, tensi justru lebih dinamis. Laming Yamal milik Surawan tampil efektif dan efisien. Tidak terlalu mencolok di awal, namun grafiknya naik stabil dari babak ke babak hingga akhirnya mengunci posisi puncak. Karakter bunyinya bersih dan ritmis, cukup untuk mengungguli Panglima dari tuan rumah BMS BF yang tampil ngotot dengan dukungan penuh publik Kebumen.

Posisi ketiga ditempati Puspita dari DH Team Wonosobo yang tampil konsisten, meski kurang greget untuk menekan dua besar. Sementara itu, nama-nama seperti Kimba dan Bison sebenarnya punya momen, namun kurang stabil dalam menjaga irama sepanjang babak.


Di kelas Piyik Yunior, persaingan berlangsung ketat dan merata. Sengon milik Kent BF Jogja tampil paling siap secara mental dan teknik. Dari babak pertama hingga akhir, burung ini jarang melakukan kesalahan, dengan volume dan durasi bunyi yang solid.

Dragon Star dari Banyumas mencoba menekan lewat gaya agresifnya, namun masih kalah tipis dalam hal kestabilan. Posisi ketiga diraih Si Pinang dari Ciamis yang tampil rapi dan disiplin, meski tidak terlalu eksplosif.

Menariknya, kelas ini memperlihatkan kualitas merata—selisih antarpeserta sangat tipis, sehingga penilaian benar-benar ditentukan oleh detail kecil di setiap babak.


Kelas Piyik Hanging menjadi penutup yang cukup seru. Mahesa milik H. Nunu Pesona tampil dominan dengan gaya main tenang namun efektif. Ia mampu menjaga ritme di tengah kondisi lapangan yang mulai tidak ideal.

Pasopati dari Bantul berada di posisi kedua dengan performa agresif, sementara Al Fatin dari Kebumen melengkapi tiga besar lewat permainan yang cukup stabil.


Secara keseluruhan, Liga Jateng Seri 3 BMS Cup Kebumen menyajikan kualitas burung yang mumpuni di berbagai kelas. Namun, di balik itu, dinamika di lapangan—terutama soal teknis dan kapasitas—tetap menjadi catatan penting. Di sisi prestasi, beberapa burung tampil benar-benar “jadi”, tapi di sisi lain, sistem lomba masih perlu pembenahan agar kualitas penilaian bisa sejalan dengan kualitas pesertanya. tetap bersama dengan www.goldenvoicenews.com (foto: h doso, fb, lung lung). Foto hasil editan, promosi wisata lokal.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news