Grand Master Bf Boyong Ring ATLAS – Minggu lalu, tepatnya 26 April 2026, saat sebagian besar kung mania masih sibuk berburu “besi ditempel stiker” di lapangan yang panas, suasana berbeda justru diperlihatkan Koh Tiek Gwan, atau yang akrab dikenal Pak Purwanto, sosok Ketua RT di kawasan elit Taman Gapura Gwalk Citraland Surabaya.
Pria yang dikenal sebagai peternak senior itu diam-diam melakukan manuver besar ke Semarang. berburu materi indukan berkualitas.
Kunjungan ke Semarang sejatinya untuk menghadiri hajatan besar sang sahabat sekaligus big bos Carperter Lombok, Pak Cokro Hindoyo, pemilik El Zero Meido yang sukses memuncaki LPI 2025. Putri beliau menikah di Semarang dan menjadi ajang silaturahmi tokoh-tokoh kung mania papan atas.
Namun, siapa sangka, di sela agenda kondangan itulah Koh Tiek Gwan memanfaatkan momentum untuk melakukan “serangan senyap” ke Atlas BF Semarang milik Koh Henry.
Didampingi Koh Yacop LY, Pak Rusman Gresik, Pak Teguh, dan Om Yanto SNR, rombongan langsung memantau kandang demi kandang Atlas BF. Hasilnya benar-benar bikin geleng kepala.
Dalam sehari saja, Koh Tiek Gwan berhasil memboyong sekitar 10 ekor materi kandang terbaik Atlas BF!
Bukan burung sembarangan. Semuanya dipilih langsung untuk kebutuhan regenerasi kandang Grand Master Surabaya yang dulu pernah menjadi salah satu kiblat perkutut nasional.
“Saya cocok dengan produk Atlas. ANAKAN-AKAN SEBELUM-NYA bagus-bagus. Bahkan beberapa sudah dibooking karena ada yang juara,” ujar Koh Tiek Gwan.
Ia juga menegaskan kalau materi Atlas sebelumnya sudah terbukti nyetel dengan darah Grand Master miliknya.
“Di kandang Grand 10 A dan Grand 11 A, hasil silangan Grand ketemu Atlas BBB ternyata sangat menjanjikan. Makanya saya sering meremajakan ternak dengan ring Atlas,” lanjutnya.
Kung mania lawas pasti tahu bagaimana kedahsyatan nama Grand Master pada era keemasan. Saat itu, kandang Grand benar-benar jadi magnet nasional. Bookingan produk grand master mengular panjang meski harga tembus Rp10 juta hingga Rp30 juta per ekor.
Dan salah satu produk ternakan grandmaster yang jadi legenda dan masih sering dibicarakan sampai sekarang adalah Terajana, burung fenomenal yang sukses menjadi juara kelas dewasa di usia baru sekitar 5 bulan, rawatan almarhum Cak Syukur, milik H. Gunawan, mtg. Sebuah pencapaian yang pada zamannya dianggap “susah diikuti”.
Kini, ketika Koh Tiek Gwan mulai serius memasukkan darah Atlas BF ke jantung kandang Grand Master, banyak pihak mulai berbisik:
Apakah Surabaya akan kembali melahirkan monster arena?
Koh Henry sendiri mengaku bangga produknya dipercaya peternak sekelas Koh Tiek Gwan.
“Saya senang sekali karena produk Atlas dipakai dan dikembangkan OLEH peternak legend seperti Koh Tiek Gwan. Beliau pakar memadukan suara perkutut dan hoki ternaknya luar biasa,” ungkap Koh Henry.
Menurutnya, masuknya darah Atlas ke markas Grand Master Surabaya menjadi kebanggaan tersendiri.
“Harapan saya Atlas bisa berkembang sempurna di Surabaya. Ini markas peternak besar yang dulu sangat terkenal mencetak jawara nasional,” tambahnya.
Menariknya, selama berada di Atlas BF, rombongan juga dijamu berbagai kuliner khas Semarang yang membuat suasana berburu indukan makin hangat dan penuh cerita.
Menu yang paling menjadi perhatian tentu saja tengkleng rica khas Atlas BF yang langsung membuat rombongan ketagihan. Aroma rempah yang kuat dipadukan dengan sensasi pedas rica ternyata sukses bikin para tamu Surabaya berkeringat sekaligus nambah nasi berkali-kali.
“Wah, ini luar biasa. Pantesan tamu-tamu yang ke Semarang banyak suka menu tengkleng rica ini,” ujar Koh Tiek Gwan sambil tertawa.
Komentar senada juga datang dari rombongan lain yang mengaku jarang menemukan olahan tengkleng dengan cita rasa sekuat itu. Suasana makan siang pun berubah jadi ajang cerita nostalgia perkutut era lawas sambil membahas materi kandang incaran.
Selain tengkleng rica, rombongan juga menikmati kuliner khas Semarang lainnya, yakni lunpia yang memang sudah terkenal sebagai ikon kota lumpia. Kombinasi wisata ternak dan wisata kuliner itulah yang membuat kunjungan kali ini terasa lengkap.
Namun, perjalanan Semarang ternyata belum selesai sampai di situ.
Selain memborong indukan Atlas BF, rombongan juga sekalian belanja kebutuhan pakan ternak” dan pilihanya tetap pakan perkutut golden voice yang memang pusat produksinya berada di Semarang.
Menariknya, Koh Tiek Gwan mengaku sudah cukup lama memakai produk Golden Voice untuk ternaknya.
“Golden Voice itu praktis dan kualitasnya oke. Jadi lebih mudah untuk perawatan harian,” katanya.
Pernyataan itu langsung diamini Koh Yacop LY yang juga dikenal cukup selektif dalam urusan pakan.
“Saya juga pakai Golden Voice KHUSUSNYA pakan superman dan Memang cocok,” ujar Koh Yacop singkat.
Sementara para pemain lama fokus membangun fondasi utama:
Genetik indukan, kualitas suara, dan kesinambungan trah. Pemain baru, peternak baru, sibuk berburu label ternakan.
Dan kalau benar racikan Grand Master bertemu Atlas BF kembali meledak…
bisa jadi beberapa tahun ke depan arena makin “panas” dan tetap berwarta seputar hobi perkutut bersama web site kung mania nusantara.



