Ladini Golombo Tetap Ramai di Tengah Padatnya Agenda Lomba, Peternak Temanggung Unjuk Gigi

Padatnya agenda lomba perkutut di Pulau Jawa ternyata tidak menyurutkan antusiasme kung mania untuk hadir di Ladini Golombo Cup yang digelar di Temanggung, Minggu (5/7/2026). Meski pada akhir pekan yang sama berlangsung sejumlah even bergengsi di kota lain, jumlah peserta tetap sesuai target panitia dan lomba berlangsung sukses dengan persaingan yang berkualitas.

Pada akhir pekan tersebut, para penghobi perkutut dihadapkan pada banyak pilihan. Di Semarang berlangsung lomba Sabrum, sementara di Yogyakarta digelar Liga Jasela yang berlangsung hingga Minggu. Kondisi itu memang membuat peserta dari luar daerah sedikit berkurang, namun justru menjadi momentum bagi peternak Temanggung untuk menunjukkan kualitas hasil breeding mereka.

Ketua panitia, Pak Papang, mengaku senang melihat antusiasme peserta yang tetap tinggi meski jadwal lomba sangat padat.

“Justru ini menjadi kesempatan bagi peternak Temanggung untuk menunjukkan kualitas burung hasil ternaknya. Alhamdulillah, hasilnya sangat membanggakan. Temanggung semakin dikenal sebagai daerah yang mampu melahirkan burung-burung juara,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil perlombaan, peternak asal Temanggung tampil dominan di hampir seluruh kelas yang dipertandingkan. Hal itu menjadi bukti bahwa kualitas breeding di daerah tersebut terus berkembang dan semakin mampu bersaing dengan kota-kota lain yang selama ini dikenal sebagai gudang burung prestasi.

Sultan dan Alyx Berjaya di Kelas Utama

Dua kelas utama menghadirkan pertarungan yang berlangsung sengit. Sejak sesi awal penilaian, para peserta saling bergantian menunjukkan performa terbaik sehingga perebutan posisi lima besar baru benar-benar ditentukan pada sesi terakhir.

Di kelas pertama, Sultan milik Hidayat dari Muntilan tampil paling stabil dan sukses meraih gelar juara. Baron milik Galih dari Tulungagung menempel ketat di posisi kedua, disusul Memoro milik Budi C dari Semarang di urutan ketiga. Bintang Asia milik Hamatjaya dari Temanggung finis di posisi keempat, sedangkan Marta milik Waluyo dari Wonosobo menutup lima besar.

Pada kelas berikutnya, dominasi Temanggung mulai terlihat. Alyx, nomor gantangan 110 milik A. Iskandar, tampil sangat konsisten hingga akhirnya merebut podium tertinggi. Posisi kedua diraih Carlos milik King Alexi BF yang juga berasal dari Temanggung. Hoki milik Edi menempati peringkat ketiga, diikuti Progo milik Rodeo BF pada posisi keempat, sementara Siola milik Waluyo dari Wonosobo melengkapi lima besar.

Persaingan yang merata membuat kedua kelas utama berlangsung menarik. Burung-burung terbaik tampil dengan materi suara berkualitas dan konsistensi kerja yang tinggi, sehingga setiap posisi lima besar benar-benar ditentukan melalui pertarungan yang ketat.

Veronika Pimpin Generasi Muda

Kelas P. Yunior juga menghadirkan persaingan yang tidak kalah menarik. Burung-burung muda memperlihatkan kualitas yang menjanjikan dan saling berebut posisi hingga sesi penilaian terakhir.

Veronika, nomor gantangan 41 milik King Alexi BF dari Temanggung, tampil sebagai juara setelah memperlihatkan irama lagu yang stabil dan kerja yang konsisten. Posisi kedua diraih Hasan Besari milik A. Iskandar dari Temanggung, sementara Sodonyono milik Tanbing Kiyat dari Muntilan menempati posisi ketiga.

Di urutan keempat terdapat Tarilem milik King Alexi BF dari Temanggung, sedangkan Parikesit milik Tejo BF dari Muntilan melengkapi lima besar. Hasil ini kembali menunjukkan kualitas regenerasi burung muda dari Temanggung dan Muntilan yang semakin siap bersaing di berbagai arena lomba.

Kelas Piyek Hanging Jadi Bukti Kekuatan Temanggung

Dominasi peternak Temanggung semakin nyata pada Kelas Piyek Hanging. Persaingan berlangsung ketat sejak awal penilaian, namun burung-burung hasil breeding tuan rumah mampu tampil lebih konsisten hingga menguasai papan atas klasemen.

Aldy, nomor gantangan 110 milik A. Iskandar, tampil impresif dan berhasil merebut gelar juara. Dengan performa yang stabil serta materi suara yang meyakinkan, Aldy tidak terbendung hingga akhir penilaian.

Runner-up diraih Carlos milik King Alexi BF, sementara Hoki milik Edi menempati posisi ketiga. Probo milik Rodeo BF finis di peringkat keempat dan Siola milik Waluyo dari Wonosobo menjadi satu-satunya wakil luar Temanggung yang berhasil menembus lima besar.

Dominasi tersebut tidak berhenti di podium. Dari sepuluh besar, tujuh posisi berhasil diamankan burung-burung asal Temanggung melalui Aldy, Carlos, Hoki, Probo, Bergolo, Arjuna, dan Moromo. Hanya Bangsawan milik Hidayat serta Korroseho milik Winn BF dari Muntilan yang mampu menyusup ke jajaran sepuluh besar.

Prestasi itu semakin menegaskan bahwa Temanggung kini tidak hanya dikenal sebagai daerah penyelenggara lomba, tetapi juga sebagai salah satu sentra breeding perkutut berkualitas yang terus melahirkan burung-burung kompetitif. Di tengah padatnya kalender perlombaan nasional, para peternak lokal mampu memanfaatkan momentum untuk menunjukkan bahwa hasil ternak mereka layak diperhitungkan di level nasional. special thank mr wiwid dan panitia

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news