Arung binang tasyakuran– baca kemenangan arung binang

Jika ada burung yang mampu membuat tiga ekor kambing menyerah tanpa perlawanan, maka burung itu bernama Arung binang.
Tentu kambing-kambing tersebut bukan kalah di gantangan, melainkan “gugur dengan hormat” dalam acara tasyakuran yang digelar Haji Sularno 3F sebagai bentuk rasa syukur atas prestasi fenomenal sang jawara. Bukan hanya pernah menjadi juara nasional, Arung Pinang juga sukses mengukir sejarah dengan meraih koncer bendera 4 warna di kelas Dewasa Senior, sebuah pencapaian yang sampai hari ini masih membuat banyak kung mania menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Itu burung apa mesin?”
Sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan, Haji Sularno menggelar potong kambing sebanyak tiga ekor di lokasi calon markas besar 3F yang baru. Sebuah lahan seluas kurang lebih 8.000 meter persegi yang kalau dipakai main petak umpet, kemungkinan peserta baru ketemu tahun depan.
Acara ini dihadiri hampir seluruh pengurus Pengwil Jabodetabek, para juri dari tingkat junior hingga nasional, serta para kung mania dari berbagai daerah. Namun, dari sekian banyak tamu yang hadir, ada satu sosok yang justru menjadi pusat perhatian melebihi aroma gulai kambing yang mengepul dari dapur.
Ya, siapa lagi kalau bukan Mang Ableh.
Kung mania senior Jabodetabek yang belakangan ini lebih sulit ditemukan dibanding burung juara nasional itu tiba-tiba muncul di lokasi acara. Kehadirannya langsung membuat suasana pecah.
Belum sempat duduk nyaman, Mang Ableh sudah menjadi sasaran tembak bercandaan dari segala penjuru. Mulai dari pertanyaan kapan terakhir datang ke lomba, apakah masih ingat jalan menuju gantangan, hingga dugaan bahwa dirinya sedang menjalani program pensiun dini dari dunia perkutut.
Namun, seperti biasa, Mang Ableh tetap santai. Senyum sana-sini. Tertawa sana-sini. Diledek dari pagi sampai sore tetap kuat. Mungkin karena sudah kenyang pengalaman atau mungkin karena sudah kenyang gulai.
Dan memang itulah salah satu keindahan komunitas perkutut.
Di dunia ini, ejekan-ejekan justru menjadi pupuk persahabatan. Saling ledek, saling bully, saling serang dengan candaan kelas berat, tetapi begitu acara selesai, tetap pulang sebagai saudara. Tidak ada yang baper, tidak ada yang ngambek. Semua paham bahwa asap pertemanan harus terus mengepul sebagaimana asap gulai yang hari itu memenuhi lokasi syukuran.
Menariknya lagi, meskipun tamu yang hadir sangat banyak, makanan yang tersedia ternyata jauh lebih banyak lagi.
Bahkan hingga acara usai, gulai kambing masih tersisa dalam jumlah yang cukup membuat para tamu mulai mencari plastik kresek. Akhirnya banyak yang pulang membawa oleh-oleh gulai sebagai bekal perjalanan. Sebagian bahkan diduga makan gulai lagi saat sampai di rumah.
Calon markas besar 3F ini sendiri berada persis di samping markas ternak AF Farm milik pengacara kondang Mas Arie yang dikelola bos Rudi. Kombinasi dua peternakan besar yang berdampingan ini membuat kawasan tersebut berpotensi menjadi “Segitiga Bermuda” bagi para penghobi perkutut. Sekali masuk, pulangnya bisa lupa waktu.
Dalam sambutannya, Haji Sularno menyampaikan bahwa di lahan tersebut nantinya akan dibangun sekitar 100 tiang gantangan untuk latihan. Tidak hanya itu, lokasi tersebut juga dipersiapkan menjadi pusat berbagai aktivitas organisasi, mulai dari latihan, rapat pengurus, gacuri hingga kegiatan-kegiatan resmi Pengwil Jabodetabek.
Pernyataan tersebut langsung disambut antusiasme para tamu undangan. Sebab selama ini biaya kegiatan sering menjadi tantangan tersendiri. Dengan adanya fasilitas permanen, banyak agenda organisasi yang nantinya bisa berjalan lebih efektif dan efisien.
Komitmen Haji Sularno memang tidak perlu diragukan. Selama menjabat sebagai Ketua Pengwil Jabodetabek, dirinya dikenal aktif mengawal berbagai agenda organisasi. Namun, dalam kesempatan itu pula beliau kembali mengingatkan bahwa tahun 2027 akan menjadi akhir masa pengabdiannya sebagai pengurus.
Pertanyaan pun mulai muncul di kalangan kung mania.
Mampukah kepengurusan berikutnya melanjutkan ritme kerja yang selama ini dianggap sebagai salah satu periode paling produktif dalam sejarah perkutut Jabodetabek?
Pertanyaan itu masih menggantung.
Sama menggantungnya dengan impian besar menghadirkan event Presiden Cup yang hingga kini masih menjadi cita-cita besar dunia perkutut nasional. Bukan karena kurang semangat, melainkan karena urusan protokoler dan birokrasi yang memang tidak semudah mengurus burung mabung.
Dalam kesempatan yang sama, juga dibahas persiapan Liga Perkutut Indonesia Seri 5 yang akan berlangsung di Kranggan, Bekasi. Kabar baiknya, persoalan pendanaan disebut sudah hampir tuntas seratus persen. Artinya, tinggal mempersiapkan pelaksanaan agar berjalan maksimal.
Namun, kembali ke tokoh utama hari itu.
Semua sepakat bahwa pesta syukuran tersebut bermula dari pencapaian luar biasa Arung binang.
Di era penilaian Dewasa Senior yang terkenal super ketat, menembus koncer bendera 4 warna bukan pekerjaan mudah. Burung harus mampu tampil stabil, menjaga kualitas suara, mempertahankan durasi ideal, dan mengulang performa secara konsisten hingga tujuh kali. Sedikit saja turun kualitas, peluang koncer bisa langsung menguap.
Karena itulah, ketika Arung Binang berhasil menembus level tersebut di Liga Nasional Sampang, kebahagiaan Haji Sularno tidak bisa diukur dengan angka. Bahkan mungkin lebih sulit dihitung daripada jumlah orang yang meledek Mang Ableh hari itu.
Prestasi tersebut bukan hanya membanggakan keluarga besar 3F, tetapi juga menjadi bukti bahwa kerja keras, kesabaran, dan ketelatenan dalam merawat perkutut pada akhirnya bisa melahirkan sejarah.
Dan sejarah itulah yang kemudian dirayakan bersama tiga kambing, ribuan sendok gulai, tawa para kung mania, serta satu kemunculan langka yang bernama Mang Ableh.
Kalau Arung binang kembali menembus bendera 4 warna di masa depan, jangan kaget kalau jumlah kambing yang tumbang bertambah lagi.
Sebab di dunia perkutut, prestasi boleh dicatat dalam lembar penilaian.
Tapi kebahagiaan selalu dicatat di meja makan.
Momen tasyakuran ini juga dimanfaatkan oleh hampir seluruh tamu undangan yang hadir untuk menyampaikan ucapan selamat secara langsung kepada Haji Sularno atas keberhasilan produk ternakannya bernama Arung Binang. Mulai dari pengurus, juri, hingga sesama kung mania bergantian memberikan apresiasi atas capaian yang dianggap sangat langka tersebut. Maklum saja, di tengah ketatnya sistem penilaian Dewasa Senior saat ini, menembus koncer bendera 4 warna bukanlah perkara yang bisa dicapai hanya dengan keberuntungan. Dibutuhkan kualitas genetik, perawatan, manajemen ternak, serta konsistensi yang luar biasa hingga akhirnya mampu melahirkan seekor perkutut dengan performa sekelas Arung Binang.
Ucapan selamat juga mengalir dari berbagai pihak yang tidak sempat hadir secara langsung. Prestasi Arung Binang dinilai bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga besar 3F, tetapi juga menjadi motivasi bagi para peternak perkutut nasional bahwa hasil ternakan lokal masih mampu mencetak sejarah di level tertinggi kompetisi nasional.
Tak lupa, segenap tim www.goldenvoicenews.com yang hadir meliput langsung kegiatan tersebut, bersama keluarga besar Pakan perkutut golden voice, turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Haji Sularno beserta keluarga besar 3F atas keberhasilan Arung Binang menembus koncer bendera 4 warna. Sebuah pencapaian prestisius yang tidak hanya mengharumkan nama 3F, tetapi juga menambah catatan sejarah dalam perjalanan lomba perkutut nasional di era penilaian modern yang semakin kompetitif.




