LADINI GOBAN-Kalau biasanya para penghobi perkutut deg-degan sebelum turun di event tiket mahal, suasana berbeda justru terlihat di Lapangan Marina, Semarang. Hari libur yang mestinya dipakai rebahan atau nemenin istri belanja, malah berubah jadi ajang latihan murah meriah penuh tawa. Kung Mania Semarang sukses menggelar kegiatan “ladini goban for 3” yang langsung diserbu peserta hingga tembus lebih dari 100 ekor!
Tiga kelas dibuka sekaligus, mulai dari Piyek Bebas, Piyek Junior, hingga Hanging. Dan menariknya, semua berjalan santai tanpa aroma “bakar kertas” yang biasa bikin dompet megap-megap.
Dengan tiket goban untuk tiga burung alias cuma sekitar belasan ribu per ekor, para penghobi merasa seperti menemukan oase di tengah kerasnya dunia lomba perkutut modern. Tidak sedikit yang menyebut kegiatan ini sebagai “jalan tengah” antara hobi dan kewarasan ekonomi rumah tangga.
“Lumayan mas, gak perlu ngerepotin bini minta dimasakin Indomie rebus pagi-pagi,” celetuk salah satu peserta sambil tertawa. Sebab panitia ternyata juga sudah menyiapkan nasi bungkus untuk para peserta. Jadi selain murah, perut pun aman terkendali.
Yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala, meski tiket super murah, panitia ternyata masih mampu memberi uang jajan untuk tiga juri. Bahkan setelah semua selesai, kas kegiatan masih tersisa sekitar Rp500 ribu. Sebuah bukti bahwa kegiatan komunitas ternyata tetap bisa hidup tanpa harus membuat peserta “sesak napas”.
Namun, gebrakan paling menarik justru datang dari konsep hadiahnya. Tidak ada lagi besi tempel stiker yang kadang berakhir menjadi pajangan gudang. Sebagai gantinya, panitia memberikan piagam digital berbentuk PDF yang langsung bisa diposting ke media sosial.
Konsep sederhana ini malah dianggap sangat relevan dengan zaman sekarang. Sebab siapa tahu, dari postingan juara di media sosial itu malah berujung pada transaksi online.
“Ini ladini goban for 3 benar-benar kegiatan yang tidak membagongkan,” ujar Pak Fatah dari Sifama BF, penghobi sekaligus TikToker live yang ikut meramaikan arena.
Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat membantu penghobi kecil tetap bisa melatih mental burung tanpa tekanan biaya besar.
“Bayangkan ikut 50 ribu tiga aja burungku bisu, apalagi 100 ribu setiket, khan nyesek jadinya,” ucapnya sambil tertawa.
Meski burungnya hari itu masih “membatu”, Pak Fatah mengaku tetap senang karena suasana ladini bisa dijadikan konten live TikTok yang menghibur.
Pandangan menarik juga datang dari Nanang. Menurutnya, kegiatan ngerèk murah seperti ini justru bisa menjadi solusi agar “inflasi komunitas perkutut” tidak semakin liar.
“Kalau ngerèk murah rutin diadakan, istilah bakar-bakar kertas itu gak terlalu mengkhawatirkan lagi,” ujarnya.
Namun, dengan gaya khasnya, Nanang juga sadar dunia perkutut tetap punya banyak warna.
“Tapi kan isi kepala orang gak sama. Jadi biar kelak sama-sama dibutuhkan MBG,” celetuknya sambil disambut gelak tawa teman-temannya.
Karena suasana makin hangat dan penuh kegembiraan, Mr Henry Atlas langsung melempar usulan agar kegiatan seperti ini dibuat rutin dan bergantian dengan Pengcam Tembalang.
Dan uniknya, seluruh penghobi yang hadir langsung kompak menjawab hanya dengan satu kata:
“LAKSANAKAN!”
Lapangan Marina pun sore itu bukan sekadar arena latihan burung. Ia berubah menjadi panggung kebersamaan. Tempat para penghobi melepas penat, melatih jagoan, tertawa bersama, dan membuktikan bahwa dunia perkutut tetap bisa hidup merakyat tanpa harus selalu identik dengan perang uang.








