Liga Perkutut Jabar : TIM PRIMARASA Selamatkan JABAR dari Terjangan TSUNAMI.!!

SARITOMO REBORN CUP NYARIS DIKUASAI KUNG MANIA JABODETABEK

Liga Perkutut Jabar Berkibar 2026 Putaran ke-3 (LPJB-3) SARITOMO REBORN CUP di Lapang Sindang Taman Sumedang berlangsung panas dan penuh tensi tinggi. Serbuan pemain-pemain elit Jabodetabek benar-benar membuat persaingan di setiap kelas terasa seperti laga nasional.

Bahkan banyak penghobi di pinggir lapangan menyebut andai tidak ada perlawanan sengit dari Tim Primarasa, bukan tidak mungkin posisi juara pertama di hampir seluruh kelas akan diborong oleh kekuatan Kung Mania Jabodetabek.

Sejak babak awal, burung-burung kiriman Jabodetabek tampil agresif bak gelombang tsunami dari Laut Batavia. Namun, di tengah gempuran tersebut, Tim Primarasa tampil menjadi benteng terakhir kebanggaan Jawa Barat di Liga Perkutut Jabar.

Burung orbitan Tim Primarasa sukses mematahkan dominasi lawan di kelas hanging dan menjaga harga diri Jabar tetap berkibar di kandang sendiri.

Tidak sedikit penghobi menyebut perjuangan Tim Primarasa kali ini sebagai bentuk pengorbanan tanpa lelah demi menjaga nama besar Jawa Barat di kancah nasional.

Di tengah panasnya persaingan, muncul pula sisipan komentar santai namun penuh makna dari Koh Henry Manila yang menjadi perhatian penghobi:

“Yang namanya suara perkutut itu ada masanya bagus, ada masanya rusak. Jadi ya biasa saja. Kadang hari ini di atas, besok bisa turun. Itu hal biasa dalam dunia perkutut dan harus diakui perkutut jabodetabek sedang diatas rata-rata, kita bukan ngalah tapi memang kalah kualitas.”

Kutipan tersebut seolah menjadi penyejuk di tengah panasnya rivalitas Jabar dan Jabodetabek. Karena sekeras apa pun persaingan di gantangan, para penghobi sejatinya tetap memahami bahwa dunia perkutut selalu penuh dinamika.

Putaran ketiga Liga Perkutut Jabar kali ini memang terasa berbeda. Kehadiran pemain-pemain elit Jabodetabek sebagai kunjungan balik dari Liga Batavia membuat aura lomba berubah menjadi pertarungan gengsi antarwilayah.

Meski sebagian peserta Jabodetabek datang dalam kondisi lelah usai menghadiri Tugumuda Cup Semarang, kualitas burung yang mereka turunkan tetap menakutkan. Hal itu membuktikan bahwa persaingan perkutut nasional kini semakin merata dan sulit ditebak.

Rudy AF, hingga Haji Jamil JML, salah satu peserta Jabodetabek, sebenarnya masih dalam kondisi lelah usai menghadiri event nasional Tugumuda Cup di Semarang. Namun demi menjaga persaudaraan dan ikatan antarpenhobi, mereka tetap memaksakan diri untuk hadir di Sumedang pada gelaran Liga Perkutut Jabar.

“Kita datang ke Sumedang ini memang sebagai bentuk kunjungan balik karena teman-teman Jabar juga selalu hadir ke Liga Batavia. Salah satu yang konsisten hadir itu Team Primarasa, jelas rudy af. jadi Walaupun kami masih capek pulang dari Semarang menghadiri Tugumuda Cup, demi persaudaraan dan ikatan emosional antara Jabar dan Jabodetabek, kita tetap berusaha hadir. Memang burung belum benar-benar siap, dan benar adanya kita pulang tanpa besi ditempel stiker. Tapi kita tetap pulang membawa senyuman, jelas h jamil sambil terkekeh kekeh.”

Kutipan tersebut menggambarkan bahwa dunia perkutut sejatinya bukan hanya soal mengejar juara dan prestasi, tetapi juga tentang menjaga hubungan, persahabatan, dan rasa saling menghormati antarpenhobi lintas daerah.

Kemegahan event semakin lengkap dengan hadirnya Mr. Dede Primarasa, Big Bos Team Primarasa yang selama ini dikenal aktif mendukung perkembangan dunia perkutut nasional.

Turut hadir pula Ketua Pengwil Jabar, Bpk. Suhartono SH (Koh Akim) memberikan apresiasi atas suksesnya LPJB musim ini yang dinilai semakin solid dan penuh kekeluargaan.

DOORPRIZE MEWAH TAMBAH SEMARAK

Selain pertarungan panas di gantangan, suasana lapangan juga semakin hidup dengan banjir hadiah doorprize.

Hadiah utama Liga Perkutut Jabar yang paling menyita perhatian antara lain:

  • 1 Unit Sepeda Motor dari sponsor Team Primarasa
  • 1 Unit Sepeda Listrik persembahan Uki Palu
  • Berbagai hadiah menarik lainnya dari sponsor pendukung

Momen pengundian hadiah berlangsung meriah dan menjadi hiburan tersendiri bagi peserta serta penonton.

LPJB BUKAN LAGI SEKADAR LOMBA

SARITOMO REBORN CUP menjadi bukti bahwa Liga Perkutut Jabar Berkibar kini sudah naik level menjadi arena pertarungan prestise antardaerah.

Di satu sisi, ada semangat mempertahankan harga diri wilayah. Di sisi lain, persaudaraan antarpenhobi tetap terjaga kuat.

Dan di tengah ancaman “tsunami” Kung Mania Jabodetabek, Tim Primarasa berhasil menunjukkan bahwa Jawa Barat masih punya taring dan belum habis di kandang sendiri.

KELAS DEWASA BEBAS

RODTANG MENGAMUK, HENRY MANILA BIKIN JABAR TETAP BERNAFAS

Kelas paling bergengsi di Liga Perkutut Jabar ini menjadi arena perang para burung matang dengan mental tempur nasional. Amunisi milik Mr. Akang Nusa Bogor, Rodtang, tampil luar biasa dan sukses merebut podium utama dengan 150 poin.

Rodtang tampil stabil sejak awal babak. Irama kerja rapat dan angkatan panjang membuat lawan sulit mengejar. Dominasi Bogor bahkan semakin terasa setelah Rocket Nusa milik tim yang sama ikut masuk papan atas di posisi tujuh.

Posisi runner-up diraih Starla milik H. Wahyu Bekasi yang tampil agresif dan konsisten menjaga tekanan.

Namun, penyelamat harga diri Jawa Barat di kelas dewasa liga perkutut jabar datang dari Marimas, orbitan Henry Manila Bandung. Burung ini tampil ngotot dan sukses mengamankan posisi tiga besar di tengah gempuran Jabodetabek.

Kehadiran Surakarta milik Koh Akim Suhartono Cirebon serta Komeng orbitan H. Nono Ganesha Majalengka membuat dominasi Jabar masih tetap terasa di papan atas.


KELAS PIYIK BEBAS

MANANTA TAK TERBENDUNG, JABAR TERDESAK TOTAL

Inilah salah satu kelas yang paling terasa “tsunami” Jabodetabek-nya. Mananta milik H. Sularno 3F BSD tampil sangat dominan dan nyaris tanpa lawan. Burung ini benar-benar tampil matang untuk ukuran piyik bebas.

Posisi kedua direbut Deep Sea milik Akian Jakarta yang tampil stabil dan disiplin menjaga irama suara.

Sementara posisi ketiga justru diamankan oleh pemain luar Jawa Barat lainnya lewat Bintang Samudra milik Dwi Handoko Malang.

Tuan rumah baru bisa bernapas lewat Bintang Ganesha milik H. Nono Ganesha Majalengka yang sukses bertengger di posisi lima besar. Selain itu, Goong Java orbitan STP Bandung dan Pelangi milik Nanang PMB Bandung turut menyelamatkan muka Jabar agar tidak benar-benar habis di kandang sendiri.

Menariknya, Al-Hadid milik Uki Team Palu juga sukses mencuri perhatian dengan masuk posisi enam besar.


KELAS PIYIK YUNIOR

BINTANG BANJAR BERSINAR, DEN REUEUS LAWAN PALING KERAS

Kelas ini menjadi salah satu kelas paling ramai dan ketat sepanjang lomba. Bintang Banjar milik Apau Jakarta tampil luar biasa dan sukses merebut podium utama dengan performa yang sangat stabil.

Namun, kemenangan tersebut tidak didapat dengan mudah. Den Reueus orbitan H. Adang MK Bandung benar-benar memberikan tekanan ketat hingga akhir babak. Banyak penonton menyebut pertarungan keduanya layaknya final nasional.

Posisi ketiga diamankan Tajimalela milik Jimat Team Ciamis yang tampil rapi dan konsisten sejak awal.

Sementara itu, Gembala Orbitan Henry Manila Bandung kembali menunjukkan kualitas orbitannya dengan menembus posisi empat besar.

Kelas ini juga menjadi bukti kuatnya regenerasi piyik Jawa Barat. Nama-nama seperti Pandan Wangi, Super Messi, hingga Sinarmas milik Dede Primarasa menunjukkan bahwa stok burung muda Jabar masih sangat menakutkan untuk musim-musim berikutnya.


KELAS PIYIK HANGING

SURYALAYA JADI TEMBOK TERAKHIR JABAR

Inilah kelas yang paling banyak mendapat sorotan. Saat pemain-pemain Jabodetabek mulai menguasai banyak podium di kelas lain, Tim Primarasa akhirnya tampil sebagai penyelamat Jawa Barat lewat aksi Suryalaya.

Burung milik Dede Primarasa Bandung ini tampil sangat panas dan sukses merebut juara pertama dengan poin sempurna 150.

Kemenangan ini terasa sangat penting karena menjadi simbol perlawanan Jawa Barat terhadap gempuran Kung Mania Jabodetabek.

Posisi kedua direbut Joko Tole milik Roni Pakansari Bogor yang tampil konsisten, sementara Joaoquen milik Apau Jakarta harus puas di posisi tiga.

Kelas ini juga menghadirkan kejutan dari Viking milik H. Umar Mar Majalengka yang tampil cukup stabil hingga menembus papan atas.

Sementara Sabila Kencana BF Ciamis sukses menempatkan dua burung sekaligus, yakni Nagageni dan Moscow, membuktikan kualitas kandang orbitannya mulai diperhitungkan.

Kemenangan Suryalaya sendiri langsung disambut riuh penonton. Banyak penghobi menyebut bahwa andai Team Primarasa gagal mencuri podium utama di kelas ini, kemungkinan besar dominasi Jabodetabek akan benar-benar sempurna di Sumedang.


LPJB MAKIN PANAS, PERSAINGAN MAKIN SERU

SARITOMO REBORN CUP membuktikan bahwa persaingan Liga Perkutut Jabar Berkibar musim 2026 sudah memasuki level sangat keras. Pemain-pemain elit dari Jabodetabek datang dengan kekuatan penuh, sementara kubu Jawa Barat terus berjuang mempertahankan marwah daerahnya.

Namun seperti kata Koh Henry Manila:

“Yang namanya suara perkutut ada masanya bagus, ada masanya rusak. Jadi ya biasa saja.”

Kalimat sederhana itu seolah menjadi pengingat bahwa di dunia perkutut, kemenangan dan kekalahan hanyalah bagian dari perjalanan panjang para penghobi sejati. (foto bang roy, zn bf, fb)  tetap bercanda bersama web site kung mania indonesia

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news