Tolak Miskin yang Kaya Prestasi — Semarang, 2–3 Mei 2026 — Drama lokasi sempat bikin dahi berkerut, tapi pada akhirnya Tugu Muda Cup Seri 2 Liga Perkutut Indonesia tetap mendarat di Lapangan Marina, Semarang. Sempat digoyang wacana pindah ke Salatiga karena isu “ketidaklayakan” lapangan, keputusan berputar dua kali sebelum akhirnya kembali ke Semarang. Panitia pun tak punya banyak pilihan selain tancap gas: kekurangan ditambal, yang penting lomba jalan sesuai dengan kalender pusat.
Dan benar saja—duarr! Sabtu dibuka dengan dentuman kelas Piyek Bebas, Piyek Yunior, dan Piyek Hanging. Kelas Hanging yang sempat dicap “anak tiri” karena awalnya seret peserta, akhirnya ikut bangkit. Dari target minimal yang nyaris mentok di 1 blok (50 ekor), dipaksa buka 2 blok dan tembus 70 ekor. Bukan penuh, tapi cukup untuk menyelamatkan gengsi dan tidak jadi MEMALUKAN SEMARANG.
Cuaca? Panasnya bukan main. Rerumputan yang menyimpan sisa potongan ranting jadi “jebakan Batman” bagi para kung mania yang klesetan. Kaki, bahkan pantat, jadi korban. Sekitar 95% peserta sempat ngedumel soal kondisi lapangan. Tapi seperti biasa, dunia perkutut punya cara sendiri untuk meredam emosi—guyon. Tawa pecah di sana-sini, karena memang tujuan utama datang ke lomba: ketemu kawan, adu kualitas, dan pulang bawa cerita.
Satu momen yang jadi bahan gelak tawa datang dari Big Bos Punto yang nyeletuk serius ke Anang Teratai, “Ini Liga Jateng seri ke berapa?”—padahal jelas ini Liga Perkutut Indonesia. Satire halus yang langsung disambut tawa. Tegang cair, suasana balik hangat.
Namun ketika burung mulai dikerek, semua keluhan langsung menguap. Fokus berpindah ke atas gantangan.
Tolak Miskin Tak Terbendung
Di kelas Piyek Bebas, satu nama melesat tanpa kompromi: Tolak Miskin (No. 151) milik Cokro Hindoyo, Lombok. Burung ring LSJ ini tampil dominan sejak awal, seperti tak memberi ruang bagi rival untuk mendekat. Irama, durasi, dan stabilitasnya seperti paket lengkap—bukan sekadar menang, tapi mengunci lomba.
Rival terdekat, Bintang Krian (No. 107) milik H. Toha, harus puas di posisi kedua. Padahal burung ini bukan kaleng-kaleng—bahkan kabarnya sempat dibanderol ratusan juta. Tapi di Semarang, ia harus mengakui keunggulan Tolok Miskin.
Posisi ketiga diisi Papa Dimitro (No. 125) dari Team Punto Jakarta, disusul Maxwel (No. 89) milik Wondo Arosa. Menariknya, H. Toha kembali masuk 5 besar lewat Tiga Intan (No. 108)—menegaskan bahwa Krian tetap jadi kekuatan serius.
Performa Tolak Miskin makin lengkap karena dikawal langsung oleh “putra mahkota” HDL, Gus Yogi. Kombinasi materi burung LSJ BF dan tangan dingin joki ini membuat banyak mata mulai berbisik: ini calon kuda hitam yang siap mengacak-acak peta persaingan ke depan.
Rekap 20 Besar Piyek Bebas
Dominasi Jakarta, Krian, dan Surabaya cukup terasa, tapi Lombok mencuri spotlight lewat podium utama.
- 1. Tolak Miskin (151) – LSJ – Cokro Hindoyo (Lombok)
- 2. Bintang Krian (107) – BLGM – H. Toha (Krian)
- 3. Papa Dimitro (125) – Discovery – Team Punto (Jakarta)
- 4. Maxwel (89) – Grand BF – Wondo Arosa (Jakarta)
- 5. Tiga Intan (108) – Grand BF – H. Toha (Krian)
- 6. Bagong (122) – Mutiara – Punto (Jakarta)
- 7. Acosta (149) – ALF – Wewe ALF (Malang)
- 8. Rengganis (67) – Ganden 2 – H. Yudi (Jepara)
- 9. Lintang (135) – Akasa – H. Rudi Akasa (Surabaya)
- 10. Santiago (56) – Jupiter – Sony Hartanto (Surabaya)
- 11. El Dorado (150) – P.A – Acek (Semarang)
- 12. Bara Kuda (139) – Mahir Jaya – Kent BF (Yogyakarta)
- 13. Star Bomba (22) – DLK – Samuel BLT (Lombok)
- 14. Cah Bagus (19) – MR Yos – Azis Semprul (Bekasi)
- 15. Karta Suro (43) – Hartono
- 16. Sendang (13) – Wins – Agus TP (Surabaya)
- 17. Sarmila (167) – Light Bhim – Tim Wins (Banjarmasin)
- 18. Sulur Mas (55) – Ababil – Dje Djen (Tangerang)
- 20. Sabila (109) – IMR – Tim Ababil (Sampang)








