Ponorogo siap meledak—gelaran yang katanya “sekadar latihan dinilai” itu ternyata jauh dari kata santai. Halal Bihalal Cup, Minggu (26/04) di Lapangan Pujangga, Siwalan, Ponorogo, berubah jadi ajang adu gengsi yang panasnya lebih mirip final liga. Kungmania tumplek blek, bukan cuma dari Ponorogo, tapi juga dari luar kota—semuanya datang bukan sekadar silaturahmi, tapi membawa misi: pembuktian kualitas.
Ketua panitia, Imron Zubaidi, boleh saja menyebut ini sebagai agenda rutin pasca Lebaran. Tapi yang terjadi di lapangan jelas bukan rutinitas biasa. Tiket Rp50 ribu tidak menyurutkan animo—justru jadi “filter alami” bahwa yang hadir memang pemain serius. “Alhamdulillah, meriah dan lancar,” ujarnya. Tapi kalau melihat tensi di gantangan, kata “meriah” terasa terlalu halus—yang tepat: meledak.

Dan ada satu pemicu yang bikin suhu makin naik: efek panjang dari suksesnya Liga Perkutut Nasional Caruban beberapa waktu lalu. Euforia itu belum turun—justru berubah jadi bara. Dada kungmania Caruban dan sekitarnya masih panas, masih “gatal”, pengin adu kualitas. Mereka datang ke Ponorogo bukan sekadar hadir, tapi mencari panggung untuk membuktikan dominasi. Dan ya, getaran itu terasa jelas di setiap kerekan—Ponorogo jadi medan pelampiasan birahi berlomba.
Masuk ke kelas piyik Yunior, nama Black Bull langsung bikin arena gaduh. Debutan milik Bambang IOT Caruban ini tampil seperti tanpa beban, tapi justru mematikan. Dengan kerekan 85, Black Bull bukan cuma menang—dia menampar ekspektasi.
Birawa (80) dan Superwangi (59) sebenarnya sudah tampil maksimal, tapi hari itu mereka seperti dipaksa mengakui: ada pendatang baru yang levelnya beda. Tim IOT Caruban pun makin pede—dua kelas disikat, bukan kebetulan.
Lanjut ke kelas paling “kejam”, piyik hanging. Di sini, nama James Bond 19 milik Supriadi (Magetan) benar-benar bikin lawan kehilangan arah. Gantangan 288 bukan angka biasa—itu dominasi. Cara mainnya dingin, stabil, tapi menghancurkan.
Naga Alam (225) dan Brawijaya (219) bukan tanpa perlawanan, tapi gap yang tercipta jadi bukti: James Bond 19 sedang berada di level yang belum tersentuh rivalnya hari itu.
Kesimpulannya sederhana tapi pedas:
Ini bukan lagi latihan, ini ajang seleksi alam.
Euforia Caruban belum padam; justru menyulut arena lain ikut terbakar.
Dan kalau pola seperti ini terus berlanjut, satu hal yang pasti—
Harga burung bakal naik lebih cepat dari logika pasar.
terlepas siapa yang jaura namun satu kata yang tidak boleh lupa adalah rawat dengan maksimal perkutut dirumahmu, dan berikan pakan yang terbaik, meski tidak harus memakai pakan perkutut golden voice





