Rodtang Gandeng Starla Kubur Jagoan Jabar.#1

PANAS DI LANUD SULAIMAN! 🔥 Liga Perkutut Jabar 2026 Seri #2 Jadi Ajang “Pamer" kung mania jabodetabek

Rodtang Koncer Tiga Hitam—Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Minggu, 19 April 2026—yang seharusnya menjadi panggung kejayaan burung-burung hasil ternak Jawa Barat atau jagoan kung mania Jabar justru berubah menjadi arena pemakaman AMBISI  si tuan rumah.   Dua jagoan tamu dari Jabodetabek, Rodtang dan Starla, adalah pelaku yang berhasil mengubur ambisi jabarnya untuk tampil jadi yang terbaik di kelas bergengsi dewasa.

rODTANG

Sejak awal , tensi sudah terasa panas. Publik tuan rumah berharap dominasi, namun realitanya justru pahit. Rodtang milik Mr. Akang Nusa (Bogor) dan Starla milik Azis Semprul (Bekasi) tampil tanpa kompromi—mengacak-acak peta kekuatan yang selama ini diagung-agungkan di tanah Jabar. Kedua burung ini justru berduel sendiri.

💥 DUEL KERAS: STARLA VS RODTANG
Babak demi babak jadi saksi duel kelas berat antara keduanya.
Di babak pertama hingga ketiga, Starla tampil beringas, memiting pergerakan Rodtang yang memang dikenal dengan mental tarung yang luar biasa. Namun, di bawah tekanan, Starla Irama Rodtang sempat tenggelam, tak mampu mengeluarkan lagu terbaiknya. Penonton pun mulai yakin—ini hari Starla.

Namun ,di sinilah mental juara diuji.

Masuk babak keempat, Rodtang bangkit seperti ayam aduan loncat dari tungku kuah opor. Suara Rodtang balik irama  pukulan istimewanya dan pukulan demi pukulan dilancarkan tanpa ampun. Hingga akhirnya…
🔥 KONCER TIGA HITAM! Ditancapkan dan
Rodtang mengunci kemenangan untuk merebut podium pertama dengan penuh wibawa.

Starla? Tetap tampil luar biasa, tapi harus puas jadi runner-up dalam duel yang nyaris jadi miliknya.

⚠️ TAMU MENANG, TUAN RUMAH TERLUKA
Yang bikin panas,bukan sekadar kemenangan Rodtang. Tapi fakta bahwa:
➡️ Burung-burung tuan rumah tak mampu membendung dominasi luar daerah
➡️ Bahkan burung pemilik nomor satu di jagad kung mania Jabar—ikut tersungkur

Ini bukan sekadar kalah lomba.
Ini tamparan keras. Early warning system badai tsunami diaktifkan dan sudah seharusnya dilakukan regenerasi jagoan-jagoan sebagai  berkelas nasional.

📉 KRISIS REGENERASI?
Liga Jabar yang mestinya jadi etalase kualitas ternak lokal, atau paling tidak ajang pamer kekuatan burung terbaik milik Jabar

Liga pemain sembarangan, tapi oleh dua jagoan tamu dari Jabodetabek: Rodtang dan Starla.

Sejak awal, tensi sudah terasa panas. Publik tuan rumah berharap dominasi, namun realitanya justru pahit. Rodtang milik Mr. Akang Nusa (Bogor) dan Starla milik Azis Sempril (Bekasi) tampil tanpa kompromi—mengacak-acak peta kekuatan yang selama ini diagung-agungkan di tanah Jabar.

💥 DUEL NERAKA: STARLA VS RODTANG
Babak demi babak jadi saksi duel kelas berat.
Di ronde pertama hingga ketiga, Starla tampil beringas, memiting pergerakan Rodtang. Irama Rodtang sempat tenggelam, tak mampu mengeluarkan lagu terbaiknya. Penonton pun mulai yakin—ini hari Starla.

Namun, di sinilah mental juara diuji.

Masuk babak keempat, Rodtang bangkit seperti singa terluka. Tekanan di balik. Irama kembali tajam. Pukulan demi pukulan dilancarkan tanpa ampun. Hingga akhirnya…
🔥 KONCER TIGA HITAM!
Rodtang mengunci kemenangan mutlak dan merebut podium pertama dengan penuh wibawa.

Starla? Tetap tampil luar biasa, tapi harus puas jadi runner-up dalam duel yang nyaris jadi miliknya.

Meski belum berhasil meraih juara pertama, Azis tetap menunjukkan rasa puas dan antusiasme yang tinggi. Bahkan, sesaat setelah lomba usai, ia langsung menghubungi tim GoldenVoiceNews untuk berbagi ceritanya.

“Alhamdulillah, saya justru senang sekali. Ini burung baru yang saya ambil, belum lama di tangan, tapi sudah bisa langsung tembus juara dua di event sebesar ini. Buat saya ini luar biasa,” ujar Azis dengan nada penuh semangat.
Ia juga menambahkan bahwa performa Starla di lapangan sudah sesuai harapan, bahkan sempat memberikan tekanan kuat kepada lawan di awal babak.

“Tadi sempat enak mainnya di awal-awal, sempat pegang ritme juga. Walaupun akhirnya di babak akhir kalah, tapi saya puas. Artinya potensi burung ini besar, tinggal dimatangkan lagi saja.”
Bagi Azis, hasil ini capaian luar biasa.

⚠️ TAMU MENANG, TUAN RUMAH TERLUKA
Yang bikin panas bukan sekadar kemenangan Rodtang. Tapi fakta bahwa:
➡️ Burung-burung tuan rumah tak mampu membendung dominasi luar daerah
➡️ Bahkan nama besar—pemilik nomor satu di jagad kung mania Jabar—ikut tersungkur

Ini bukan sekadar kalah lomba.
Ini tamparan keras

📉 KRISIS REGENERASI
Liga Jabar yang mestinya jadi etalase kualitas ternak lokal, namun yang terlihat?

Seri ke-2 ini bukan tentang menang kalah, tapi ini tentang realita: Jabar sedang tertinggal di rumah sendiri.

Kalau di kelas Dewasa Bebas publik Jabar dibuat terdiam oleh invasi Jabodetabek, maka kelas Piyik Bebas jadi panggung keunggulan Jabar.

Dan satu nama langsung mencuat, adalah

💥 BINTANG GANESHA 💥

Jagoan milik H. Nono Ganesha (Majalengka)—yang juga dikenal sebagai stokis dan reseller pakan perkutut Golden Voice—tampil tanpa ampun, seolah membawa misi khusus: menyampaikan pesan bahwa kami masih ada.

Sejak awal penilaian, Bintang Ganesha sudah menunjukkan kelasnya. Lawan demi lawan mencoba menekan, namun hasilnya nihil.

Di posisi runner-up, Montera milik Dede Prima Rasa (Bandung) sebenarnya bukan tanpa perlawanan. Bahkan di beberapa momen, sempat memberikan tekanan yang cukup berarti. Tapi apa daya—
👉 Bintang Ganesha terlalu solid untuk ditembus.

🔥 KEMENANGAN YANG BUKAN KEBETULAN
Ini bukan sekadar menang angka.
Ini kemenangan telak yang menegaskan kualitas—baik dari sisi perawatan, terutama pakan perkututnya.

Dan menariknya, kemenangan ini juga jadi bukti bahwa:
👉 Peran pakan dan manajemen burung modern mulai menunjukkan hasil nyata
Nama H. Nono bukan cuma dikenal sebagai pemain, tapi juga bagian dari rantai distribusi pakan Golden Voice—yang kini makin sering dikaitkan dengan performa burung-burung papan atas.

⚖️ IRONI SEKALIGUS HARAPAN
Di saat kelas Dewasa Bebas memperlihatkan rapuhnya dominasi Jabar,
Kelas Piyik Bebas justru memberi harapan regenerasi yang diragukan tak perlu dikuatirkan.

🔵 KELAS PIYIK YUNIOR

Henry Manila BF  menunjukkan dirinya masih kuat mengangkat piala.

Kelas Piyik Yunior di Liga Perkutut Jabar Berkibar #2 menjadi salah satu sajian paling menarik. Di tengah gempuran amunisi baru dari berbagai farm, justru “burung lama” milik big bos Henry Manila BF tampil sebagai pembeda dan berhasil mengunci kemenangan dengan meyakinkan.

Sejak awal gantangan, amunisi lawas banget bergelang hin  ini langsung menunjukkan kualitasnya. Iangkatan stabil serta gaya main tenang namun menekan. Karakter seperti inilah yang biasanya hanya dimiliki burung yang sudah teruji oleh waktu.

Di posisi kedua, Satria milik ZNA BF tampil cukup impresif. Dan layak meraih posisi runner-up.

Sementara Cirebon Trusmi, besutan Suhartono, S.H., melengkapi podium dengan performa santai.

Di balik kemenangan ini, Henry Manila BF menegaskan filosofi yang tidak semua pemain pahami:

“Memang tidak mudah memiliki perkutut kualitas empat warna. Punya uang saja tidak cukup—harus punya nyali. Tapi punya uang dan nyali pun belum cukup; harus dibarengi pemahaman tentang perkutut. Banyak yang kuat membeli burung mahal, tapi yang didapat justru bukan burung berkelas. Biasanya karena hanya ikut-ikutan, hasil ‘bisikan tetangga.”

Ia juga mengenang momen ketika dirinya bersama rekan koalisinya pernah mengguncang dunia perkutut:

“Dulu kami bikin heboh dengan memboyong dua burung berkelas, Citra Makita dan KPP Pesona Koalisi. Hasilnya bukan cuma juara nasional, tapi juga terjual dengan harga fantastis—ratusan juta.”

🔵 PIYIK HANGING

Cakra Tampil Paling Matang

Berpindah ke kelas Piyik Hanging, karakter permainan berubah total. Kelas ini menuntut kestabilan emosi dan gaya mental karena dengan posisi digantung , tidak semua burung muda mampu tampil  baik.

Cakra milik Tri W. Nardi (Cilacap) muncul sebagai yang paling siap. Stabil dari awal hingga akhir. Tanpa perlu tampil mencolok, justru konsistensi inilah yang mengantarkannya meraih posisi puncak dengan nilai sempurna.

Joko Tole (Roni Pakansari/Bogor) sempat memberi ancaman lewat tekanan kuat, namun kalah halus . Sementara Rumanov (R*Nadi Team/Bandung) tampil cukup impresif, meski belum cukup stabil untuk naik jadi yang terbaik.

Ulasan di website ini hanya hiburan saja, jangan pernah dipermasalahkan narasinya. Yang harus dipersoalkan adalah persoalan itu sendiri. Terima kasih bagi kung mania yang rela berbagi data lomba. Bagaimanapun, komunitas ini butuh kebersamaan. (Foto azis, fauzan, fb)

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news