TIM PRIMARASA KIRIM PESAN KERAS KE NASIONAL SADEWA MENGGUNCANG CARUBAN!
Lapangan Alun-Alun Caruban Reksogati, 11 April 2026, bukan sekadar saksi pembukaan Liga Perkutut Indonesia seri perdana—ini adalah panggung lahirnya ancaman baru di kancah nasional. Tim Dede Primarasa kembali membuktikan diri bukan hanya sekadar peserta, tapi penguasa mental dan kualitas.
Di kelas Hanging, satu nama langsung mencuri perhatian: Sadewa.
Burung rawatan Om Roy Sumedang ini tampil bukan hanya bagus, tapi juga mengintimidasi. Tiga babak dilibas dengan penilaian 3 warna hitam tanpa kompromi. Bukan kebetulan, bukan pula keberuntungan. Ini adalah hasil dari kualitas, mental, dan racikan yang matang.
Sejak awal gantang, Sadewa sudah “berbicara”. Iramanya tajam, durasi kerja nyaris tanpa celah. Di saat burung lain mulai goyah di babak kedua, Sadewa justru semakin “naik panas”. Penampilannya begitu mencolok—membuat juri tak punya pilihan selain mengganjar nilai maksimal.
Komandan tim, Bambang Kancil, bahkan sudah membaca ini jauh hari.
“Mental Sadewa itu bukan kelas regional. Saya sudah bilang, ini burung tinggal tunggu meledak di nasional.”
Dan benar saja—Caruban menjadi panggung pembuktiannya.
Yang membuat kemenangan ini makin “panas”, Sadewa bukan produk dari nama besar yang itu-itu saja. Ia adalah hasil olahan Mang Iyos dari Cirebon—peternak yang bukan pemain baru, tapi juga bukan nama lama yang sering dielu-elukan.
Di sinilah letak kekuatan Tim Primarasa.
Mereka tidak alergi terhadap “produk pinggiran”. Mereka justru menjadikannya senjata utama.
Di saat tim lain sibuk berburu nama besar, Primarasa datang dengan filosofi berbeda: kalau kualitasnya nasional, kenapa harus ragu?
Dan hasilnya nyata.
dari pantauan goldenvoicenews Tim Primarasa bukan cuma konsisten hadir di event besar—mereka juga membuka jalan bagi peternak kecil untuk naik kelas. Memberi panggung, memberi kepercayaan, dan yang terpenting—membuktikan bahwa kualitas tidak selalu datang dari nama yang sudah mapan.
Kemenangan Sadewa adalah tamparan halus—bahwa dominasi bisa datang dari mana saja.
Sekarang pertanyaannya sederhana:
Siap kah peta persaingan nasional berubah?
Karena kalau Sadewa sudah mulai “panas”, bukan tidak mungkin ini baru awal dari gelombang besar yang akan disapu oleh Primarasa di musim 2026. Mau ikut jejak Sadewa? Coba rawat burungnya dengan pakan pakan perkutut golden voice, siapa tahu ikhtiarnya berhasil. (foto: roy)




