
data foto : king alexi, medsos, media online –
Mandatory Fight Liga Perkutut Jateng (LPJG) 2026 resmi memasuki fase paling menentukan. Seri ke-6 yang digelar di Lapangan Sepak Bola Kwagean, Wonopringgo, Pekalongan, Minggu (26/7/2026) bukan sekadar lomba biasa, melainkan menjadi Mandatory Fight, yaitu seri wajib hadir bagi seluruh penghuni 10 besar klasemen sementara.
Aturan ini langsung menjadi rutinitas sebuah liga dan Pengwil P3SI Jawa Tengah menerapkan sanksi potong 50 poin bagi kontestan 10 besar yang tidak hadir. Kebijakan tersebut dibuat agar seluruh peserta papan atas tetap konsisten mengikuti perjalanan liga hingga seri penutup dan tidak memilih event tertentu saja.
Ironisnya, seri yang diprediksi menjadi pertarungan terbesar musim ini justru terasa sedikit antiklimaks. Beberapa nama elit yang menghuni papan atas klasemen memilih untuk tidak hadir.
Yang paling menyita perhatian adalah absennya Rodtang, sang pemuncak klasemen sementara, serta El Zero Meido yang berada di posisi kedua. Keduanya lebih memilih tampil di Liga Batavia Seri 5 Nusa Bird Farm Bogor, arena yang memiliki nilai emosional tersendiri karena menjadi markas tempat Rodtang dilahirkan dan dibesarkan.
Keputusan tersebut membuat Rodtang harus menerima konsekuensi sesuai regulasi, yakni kehilangan 50 poin, begitu pula peserta lain yang masuk 10 besar namun tidak hadir.
Dari deretan penghuni elit klasemen, hanya Ruby Star yang tetap memenuhi kewajibannya untuk tampil melalui Primarasa Bird Farm, menunjukkan komitmen untuk menjaga peluang juara hingga akhir musim.
Henry Atlas: Semua Sama di Hadapan Regulasi
Ketua Bidang Lomba Pengwil P3SI Jawa Tengah, Henry Atlas, menegaskan bahwa aturan ini tidak dibuat untuk menghukum peserta, melainkan untuk menjaga kualitas kompetisi liga.
“Mulai Seri 6 dan seterusnya, penghuni 10 besar klasemen sementara wajib hadir. Jika tidak hadir, maka konsekuensinya adalah potong 50 poin. Aturan ini berlaku untuk siapa saja, termasuk burung milik tim besar. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Liga Jateng kini benar-benar mengedepankan konsistensi, bukan hanya kemampuan mengumpulkan poin pada beberapa seri saja.
Dengan potongan mencapai 50 poin, perubahan klasemen dipastikan akan berlangsung sangat drastis. Selisih poin yang selama ini cukup rapat membuat satu kali absen mampu mengubah peta persaingan secara signifikan.
Besta DH Wonosobo Paling Diuntungkan
Momentum emas ini berhasil dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Tim DH Wonosobo.
Mengandalkan jawara andalannya, Besta, tim asal Wonosobo tampil penuh perhitungan. Walaupun gagal menyapu poin sempurna 150, Besta sukses mengamankan 130 poin melalui posisi runner-up.
Tambahan poin tersebut diprediksi cukup untuk membawa Besta melonjak ke peringkat kedua klasemen sementara, memanfaatkan banyaknya pesaing utama yang terkena pengurangan poin akibat tidak hadir.
Persaingan menuju Seri 7 pun dipastikan semakin panas. Kini setiap seri tidak hanya menjadi ajang adu kualitas suara, tetapi juga adu strategi, konsistensi, dan keberanian menjaga peluang juara.
Pekalongan Tetap Meriah Dihadiri Kungmania Lintas Daerah
Terlepas dari absennya sejumlah jawara papan atas, Mandatory Fight LPJG Seri 6 tetap berlangsung meriah. Kungmania dari berbagai kota di Jawa Tengah hingga luar daerah memadati Lapangan Kwagean untuk menyaksikan persaingan para jawara terbaik.
Ketua panitia, Muhamad Nur, mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, juri, dan pengurus Pengwil Jateng sehingga agenda berjalan sukses.
“Alhamdulillah seluruh rangkaian lomba berjalan lancar. Terima kasih kepada Ketua Pengwil Haji Kemat beserta jajaran, seluruh juri, panitia, dan kungmania yang telah hadir. Selamat kepada seluruh juara yang berhasil meraih podium.”
Sementara itu, Ketua Pengwil P3SI Jawa Tengah, Haji Kemat, kembali menegaskan bahwa Liga Jateng Gayeng menjadi program penting dalam menjaga gairah hobi perkutut di blok tengah.
“Liga ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus pembinaan prestasi. Kami berharap seluruh Pengda terus mendukung sehingga Liga Jateng semakin berkembang dan menjadi contoh bagi daerah lain.”
Hasil Pertandingan: Kejutan Besar di Seluruh Kelas
Kelas Dewasa: Surakarta Tak Terbendung, Besta Amankan Poin Emas
Persaingan kelas dewasa menjadi salah satu yang paling menarik sepanjang seri ini.
Surakarta bergelang SH milik Suhartono (Cirebon) tampil luar biasa sejak awal penilaian. Irama stabil, angkatan kuat, dan materi suara yang konsisten membuat Surakarta mengoleksi 150 poin sekaligus merebut podium juara.
Posisi kedua menjadi milik Besta bergelang Ratu milik DH Team Wonosobo dengan 130 poin. Hasil ini menjadi sangat berharga karena membuka peluang besar bagi Besta untuk naik ke posisi runner-up klasemen sementara setelah banyak pesaing terkena sanksi potong poin.
Podium ketiga ditempati Columbus bergelang Cikeas milik Mahmud IBF Salatiga yang mengumpulkan 110 poin, menjaga peluangnya tetap bersaing di papan atas.

Kelas Piyek Bebas: Eldorado Tampil Superior
Dominasi mutlak diperlihatkan oleh Eldorado bergelang PA milik Acek Semarang.
Dengan performa impresif, Eldorado mengoleksi poin sempurna 150, meninggalkan para pesaingnya dan memastikan podium juara. Burung milik duet Acek Adi ini memang punya kualitas mumpuni, jadi wajar podium terbaik diraih untuk dibawa pulang ke Hasanudin Semarang.
Posisi kedua diraih Puspita bergelang Ratu milik DH Team Wonosobo dengan 130 poin, sedangkan Samurai bergelang WA milik PLH Cilacap melengkapi tiga besar setelah meraih 110 poin.
Persaingan kelas ini menunjukkan regenerasi jawara muda Jawa Tengah terus berjalan dengan sangat baik.

Kelas Piyek Junior: Star Boy Pertahankan Dominasi
Kelas Piyek Junior menghadirkan duel yang berlangsung ketat sejak babak awal.
Namun, pada akhirnya Star Boy bergelang TKK milik ZNA Bird Farm Bandung tampil paling konsisten sehingga mengamankan 150 poin. Kedatangan tim Bandung yang dikomandani Henry Manila ini tidak sia-sia karena hampir semua burung yang dilombakan pulang membawa piala, meski kehadiran beberapa tim dari Bandung ke Pekalongan ini menyimpan tanda tanya besar karena di saat bersamaan ada ladini di Soreang.
Runner-up ditempati Dragon Star bergelang SPA milik Sie Peng An Banyumas dengan 130 poin, dan ini kali kedua burung milik tim spa hanya kebagian piala ke-2 setelah sebelumnya juga kalah di Liga Jogja Istimewa. Dan kalau kalah lagi untuk ketiga kalinya, rasanya tim spa sudah harus menyiapkan jagoan baru, mengingat tim dari Banyumas ini memang identik dengan podium ke-satu.
Sedangkan podium ketiga berhasil diamankan oleh Gembala bergelang HIN milik Henry Manila Bandung yang mengumpulkan 110 poin, sekaligus memperlihatkan kualitas persaingan yang semakin merata.

Kelas Piyek Hanging: Karbala Sempurna
Di kelas Piyek Hanging, Karbala bergelang Kisanak milik Adi Alonso Bondowoso tampil tanpa cela.
Performa stabil membuat Karbala meraih poin maksimal 150 dan keluar sebagai juara.
Posisi kedua direbut Sabda Alam bergelang Langkap 539 milik Wiwit Brebes dengan 130 poin.
Sementara podium ketiga menjadi milik Boy Minester bergelang rodeo asal Temanggung yang berhasil mengumpulkan 110 poin.

Liga Semakin Sulit Diprediksi
Penerapan aturan Mandatory Fight terbukti langsung mengubah wajah persaingan Liga Jateng Gayeng 2026. Kini setiap peserta papan atas tidak lagi cukup hanya memiliki burung berkualitas, tetapi juga harus menjaga komitmen untuk hadir di setiap putaran liga DAN untuk menjaga stamina perkututnya tidak ada salahnya dicoba dengan pakan perkutut golden voice superman
Seri Pekalongan menjadi bukti bahwa 50 poin bisa menjadi pembeda antara tetap memimpin klasemen dan tergeser dari papan atas. Dengan beberapa seri tersisa, peluang juara masih terbuka lebar bagi banyak kontestan.
Satu hal yang pasti, setelah badai potong poin ini, perburuan gelar Liga Jateng Gayeng 2026 dipastikan akan semakin sengit, dramatis, dan penuh kejutan hingga seri terakhir jadi tetap ikuti informasinya di web site nya kung maniaÂ




