Digitalisasi, salah satu perkembangan teknologi yang kian pesat, dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam dunia hobi perkutut di Indonesia. Padahal, digitalisasi diyakini mampu menghadirkan efisiensi sekaligus meningkatkan kenyamanan para penghobi, khususnya dalam hal pendaftaran, pengolahan data, hingga pengumuman hasil lomba.
Hal ini disampaikan oleh pihak Anang Teratai yang menyoroti masih dominannya sistem manual dalam berbagai agenda lomba perkutut. Menurutnya, proses konvensional justru menyisakan banyak persoalan, terutama terkait lambatnya HASIL PERLOMBAAN, yang merupakan bagian dari informasi publik yang menjadi hak bagi peserta.
“Bayangkan data peserta masih dikumpulkan dari tiket kertas, lalu diinput ulang satu per satu oleh panitia. Dari rekap kertas masih dilanjut ke rekap Excel, maka tidak heran kalau proses ini bisa memakan waktu hingga lebih dari 2-3 jam. Jelas tidak efektif,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada para penghobi yang menginginkan hasil lomba dapat segera diakses. Di era media sosial saat ini, kecepatan informasi menjadi kebutuhan utama. Namun, kenyataannya, keterbatasan sistem manual membuat hasil lomba sering terlambat dipublikasikan.
Padahal, menurutnya, tidak selalu diperlukan format data yang rumit seperti file Excel. Hasil lomba dalam bentuk sederhana pun, seperti foto rekap kejuaraan, sebenarnya sudah cukup untuk segera dibagikan melalui berbagai platform digital, mulai dari WhatsApp, FB, tiktok hingga media sosial lainnya.
“Yang penting hak penghobi terpenuhi dulu, yaitu mendapatkan hasil lomba dengan cepat. Soal nanti diolah jadi konten atau berita oleh pihak-pihak yang mengelola akun website atau akun kreator, itu urusan masing-masing,” jelas Anang.
Lebih jauh, ia mendorong adanya terobosan konkret berupa sistem pendaftaran online yang terintegrasi. Melalui aplikasi digital, peserta dapat mendaftarkan burungnya sekaligus melakukan pembayaran secara daring. Data yang masuk pun secara otomatis tersimpan dalam sistem dan bisa langsung digunakan oleh panitia saat lomba berlangsung.
Dengan sistem tersebut, proses rekapitulasi hasil lomba akan jauh lebih cepat. Data peserta yang sudah terinput sejak awal dapat langsung digunakan untuk mengisi hasil kejuaraan tanpa perlu penulisan ulang secara manual.
Tak hanya itu, digitalisasi juga dinilai mampu memperbaiki sistem undian doorprize yang selama ini kerap menuai polemik. Dengan data peserta yang sudah tersimpan dalam sistem, proses undian dapat dilakukan secara otomatis tanpa harus mengandalkan tiket fisik.
“Tidak ada lagi istilah pemborong tiket SISA. Sistem akan lebih adil karena semua peserta punya peluang yang sama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa praktik pemborongan tiket SISA sejatinya bertentangan dengan semangat keadilan dalam lomba. Doorprize seharusnya menjadi bentuk apresiasi bagi seluruh peserta yang hadir, istilahnya sebagai obat capek karena melakukan perjalanan jauh, NAMUN SERING kali DENGAN ALASAN rugi panitia menjual tiket sisa, dan repotnya lagi, yang beli tiket sisa panitia dan yang dapat hadiah utama juga panitia, lengkap sudah penderitaan pelomba yang bermimpi dapat hadiah minyak goreng se kodi.
Di tengah arus perubahan zaman, ia mengajak seluruh pelaku hobi perkutut untuk mulai mengubah pola pikir dan tidak alergi terhadap teknologi. Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan lomba secara keseluruhan.
Lebih jauh, dorongan untuk beralih ke sistem digital bukanlah hal baru. Gagasan ini telah lama menjadi pemikiran internal GoldenVoice News yang kemudian mulai disuarakan ke berbagai pihak terkait.

Dalam sebuah obrolan santai di pagi hari, ide tersebut didiskusikan bersama H. Sularno. Respons yang diberikan menunjukkan sinyal kuat bahwa transformasi digital bukan sekadar wacana.
“Ke depan, website Pengwil DKI ini bisa dimanfaatkan untuk pendaftaran online oleh kung mania. Jadi arah kita memang mulai ke digital,” ujar H. Sularno.
“Sebenarnya tidak susah beralih ke digital. Yang sulit itu sosialisasinya. Banyak yang tidak mau ribet, padahal justru manual itu lebih ribet dan membuang waktu,” tegasnya.
“Kita harus membuka diri. Semua ide dari rekan-rekan pasti kita welcome. Tinggal bagaimana kita kondisikan sesuai kebutuhan. Intinya demi komunitas, silakan beride setinggi mungkin,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, H. Arif Fadillah yang juga dikenal sebagai pemilik Shasha Bird Farm serta mantan Ketua Pengwil Jabodetabek, turut menyampaikan pandangan serupa terkait urgensi digitalisasi.
“Selama sesuatu bisa didigitalkan, SEGERA kita ke sana. Jangan ditunda,” ujar H. Arif Fadillah.
“Di perusahaan kami BP LINES dan BANGUN PUTRA PESAKA, semua sudah online. Ketika satu data diinput, otomatis akan mempengaruhi data lain karena sistemnya terintegrasi. Ini yang membuat semuanya lebih mudah dipantau,” jelasnya.
“Kalau sistemnya sudah terintegrasi, kerja panitia akan jauh lebih ringan dan hasil bisa langsung diketahui. Saya sangat setuju ini segera diwujudkan dalam hobi perkutut,” tegasnya.
Sementara itu, gagasan awal yang disampaikan oleh Anang dari Teratai Bird FARM menitikberatkan pada pentingnya integrasi sistem sejak tahap pendaftaran hingga pengumuman hasil lomba.
“Kalau pendaftaran sudah online, data burung otomatis masuk ke sistem. Jadi, SETELAH LOMBA SELESAI, TINGGAL KLIK. hasil sudah keluar. Tidak perlu input ulang dari kertas,” jelasnya.
“Targetnya sederhana: 5 sampai 10 menit setelah lomba selesai, hasil sudah bisa diakses. Itu hak penghobi yang harus dipikirkan,” ujarnya.
“Kalau semua data sudah online, undian tidak perlu tiket fisik lagi. Tinggal sistem yang menentukan. Tidak ada lagi pemborong tiket; semua peserta punya peluang yang sama,” tandasnya.
Dengan mulai terbangunnya kesamaan visi dari berbagai elemen, transformasi digital dalam komunitas perkutut kini bukan lagi sekadar wacana. Kolaborasi antara ide, dukungan pengurus, dan kesiapan sistem menjadi kunci menuju ekosistem hobi yang lebih modern, efisien, dan profesional. IBARAT KATA, FISIK BOLEH MENUA, tapi ISI KEPALA HARUS TETAP SEGAR BUGAR.


