LPJI SERI 5: Regenerasi Juri Warnai Kemenangan Jagoan Gusti Prabukusumo

LPJI – Phoenix Cup #5 Karanggayam, Minggu, 23 Agustus 2026, berlangsung semarak dan penuh persaingan. Tiga kelas yang dipertandingkan, yakni Dewasa, Piyek Yunior, dan Piyek Hanging, menghadirkan pertarungan menarik dengan sejumlah nama baru maupun jagoan yang sudah diperhitungkan.

Tidak hanya soal perebutan juara, lomba kali ini juga memiliki catatan penting bagi perkembangan perkutut di wilayah DIY. Di tengah panasnya persaingan di gantangan, berlangsung pula penyerahan Surat Keputusan (SK) juri junior yang sebelumnya telah mengikuti pendidikan dan pelatihan juri yang digelar Pengda Sleman.

Dengan demikian, Phoenix Cup #5 bukan hanya menjadi panggung pembuktian kualitas burung, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat regenerasi perjurian.

Dewasa: Bintang Baru Tancap Gas di Puncak

Kelas Dewasa menjadi salah satu pertarungan paling bergengsi di Phoenix Cup #5. Nama-nama jawara dari berbagai daerah berkumpul dan membawa ambisi masing-masing untuk mengamankan posisi terbaik.

Dari persaingan tersebut, Bintang Baru milik H. Prabukusumo dari Jogja, gantangan 108 dengan ring Kedaton, berhasil keluar sebagai juara.

Bintang Baru menjadi nama yang paling bersinar di kelas Dewasa. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan kekuatan materi H. Prabukusumo di arena Karanggayam.

Yang menarik, posisi kedua juga ditempati wakil Jogja melalui Ali Baba milik PM Suyanto, gantangan 72 dengan ring Batusangkar.

Artinya, dua posisi teratas langsung dikuasai jagoan asal Jogja. Persaingan papan atas pun semakin menarik karena Satria Kembar milik Dr. Mahmud IBF dari Salatiga menyusul di posisi ketiga.

Satria Kembar yang turun dengan gantangan 118 dan ring Ratu berhasil membawa nama Salatiga ke podium.

Posisi keempat ditempati Scudeto milik Raizun dari Cilacap, sementara Sido Muncul milik Beni Kurniawan dari Sleman berada di posisi kelima.

Dr. Mahmud IBF kembali menempatkan wakilnya melalui Logos di posisi keenam. Ini menjadi catatan menarik karena IBF Salatiga berhasil menempatkan dua nama di 10 besar kelas dewasa.

Papan 10 besar kemudian dilengkapi dengan Pringgondani milik Hendrik dari Jogja di posisi ketujuh, Limosin milik Kent BF dari Bantul di posisi kedelapan, Sultan milik Hidayat dari Muntilan di posisi kesembilan, dan Harbin Kalady milik H. Budi Kalady dari Bantul di posisi ke-10.

Komposisi tersebut menunjukkan betapa ketatnya persaingan. Jogja tampil kuat, Salatiga ikut menggigit, sementara Cilacap, Sleman, Bantul dan Muntilan juga mampu menempatkan wakilnya di papan atas.

 

Piyek Yunior: Bondan Jadi Bintang Generasi Penerus

Kalau kelas Dewasa menjadi panggung para jagoan matang, Piyek Yunior justru menjadi arena untuk melihat calon-calon jawara masa depan.

Di kelas ini, Bondan milik Sunu Baskoro dari Bantul, gantangan 52 dengan ring Fairy, berhasil merebut posisi pertama.

Bondan menjadi nama yang paling menonjol dalam persaingan generasi muda. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan piyek semakin menarik dan kualitas materi muda semakin berani menunjukkan taji.

Posisi kedua ditempati Kim Jong Un milik H. Prabukusumo dari Jogja, gantangan 42 dengan ring Top.

H. Prabukusumo pun kembali mencatatkan namanya di papan atas setelah sebelumnya Bintang Baru menjadi juara kelas Dewasa.

Sementara Seruling Dewa milik Kent BF dari Bantul mengamankan posisi ketiga dengan gantangan 46 dan ring Kedaton.

Posisi keempat menjadi milik Tendangan Sudut milik Nugroho dari Magetan, disusul Sengon milik Kent BF di posisi kelima.

Nugroho kembali menempatkan wakilnya melalui Rasa Sayang di posisi keenam.

Persaingan papan tengah kemudian ditempati Bintang Mas milik PLH BF Cilacap di posisi ketujuh dan Mendoan milik Hartoyo dari Jogja di posisi kedelapan.

Sinar Mas milik PLH BF Cilacap berada di posisi kesembilan, sedangkan Vladimir Putin milik Opik/Sigit dari Sleman menutup 10 besar.

Kent BF dan PLH BF sama-sama menunjukkan kekuatan dengan menempatkan dua wakil di jajaran 10 besar.

Piyek Hanging: Terlena Kuasai Puncak

Persaingan tidak berhenti di dua kelas sebelumnya. Piyek Hanging juga menghadirkan pertarungan yang menarik.

Pada akhirnya, Terlena milik Bambang dari Bantul, gantangan 1 dengan ring Pisces, berhasil merebut posisi pertama.

Terlena menjadi penguasa kelas Piyek Hanging setelah berhasil mengungguli para pesaingnya.

Posisi kedua ditempati Paku Bumi milik H. Kemat dari Salatiga, gantangan 13 dengan ring Hummer.

Kemudian Kerto Aji milik H. Murdiyono dari Bantul mengamankan posisi ketiga.

Papan atas berikutnya diisi oleh Sonar Jaya milik Hamdani Jaya dari Jogja di posisi keempat dan Djangkar Bumi milik A. Ali Ma’sum dari Gunungkidul di posisi kelima.

Romantica milik Budi SP dari Semarang berada di posisi keenam, disusul Kalady Samudra milik H. Budi Kalady dari Bantul di posisi ketujuh.

Posisi kedelapan ditempati gantangan 5. Namun, berdasarkan data hasil yang tersedia, nama burung, pemilik, alamat, dan ring tidak tercantum.

Selanjutnya, Lopez milik Kent BF dari Bantul berada di posisi kesembilan dan Banas Pati milik Iswanto dari Bantul mengunci posisi ke-10.

Bukan Hanya Soal Juara, Regenerasi Juri Jadi Sorotan

Ada cerita penting lain yang ikut mewarnai Phoenix Cup #5 Karanggayam.

Lomba kali ini ditandai dengan penyerahan SK juri junior kepada para peserta pendidikan dan pelatihan juri yang sebelumnya digelar oleh Pengda Sleman di bawah asuhan Bapak Agus Hendratno, Samirono BF.

Penyerahan SK tersebut dilakukan oleh Ketua Pengda Sleman dan disaksikan langsung oleh Ketua Pengwil, Bapak Susri.

Momentum ini menjadi bagian penting dalam upaya menjawab kebutuhan regenerasi juri di wilayah DIY.

Pasalnya, stok juri yang selama ini menjadi bagian penting dalam setiap lomba juga membutuhkan regenerasi. Sebagian juri senior yang selama ini aktif sudah memasuki masa yang dinilai waktunya untuk pensiun.

Karena itu, munculnya juri junior menjadi kabar positif bagi keberlangsungan kegiatan perkutut di masa mendatang.

Agus Hendratno: SK Bukan Akhir, Jam Terbang Masih Dibutuhkan

Dalam sambutannya, Bapak Agus Hendratno dari Samirono BF menegaskan bahwa bertambahnya stok juri tidak berarti proses regenerasi telah selesai.

Status mereka masih sebagai juri junior, sehingga proses pembinaan harus terus dilakukan.

“Meski stok juri bertambah, karena statusnya masih juri junior, mereka masih perlu bimbingan dan pengalaman. Jam terbang sangat penting untuk membentuk juri yang matang.”

Pesan tersebut menjadi sangat penting. Pendidikan dan pelatihan memang memberikan dasar pengetahuan, tetapi pengalaman di lapangan akan menjadi proses berikutnya.

Juri junior membutuhkan kesempatan untuk menyaksikan berbagai karakter lomba, menghadapi situasi berbeda, serta belajar mengambil keputusan secara tepat dan konsisten.

Karena itu, keberadaan juri senior tetap memiliki peran penting dalam mendampingi generasi baru.

Regenerasi bukan berarti menggantikan juri senior secara tiba-tiba, tetapi menyiapkan penerus melalui proses belajar yang bertahap.

juri baru terima sk

Ketua pengwil bp susri   Acungi Jempol,  Gerak Cepat Pengda Sleman

Apresiasi juga datang dari Ketua Pengwil, Bapak Susri.

Susri mengacungi jempol atas langkah Pengda Sleman yang dinilai cekatan merespons kebutuhan regenerasi juri di wilayah DIY.

Menurutnya, persoalan stok juri memang harus mendapat perhatian serius karena sebagian besar juri yang selama ini aktif sudah berada pada fase yang mendekati masa pensiun.

Langkah Pengda Sleman melalui pendidikan dan pelatihan juri junior menjadi salah satu jawaban konkret atas kebutuhan tersebut.

Regenerasi pun tidak boleh berhenti pada penyerahan SK. Para juri junior tetap membutuhkan pembinaan, pendampingan dan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin.

Dengan semakin banyaknya jam terbang, diharapkan mereka dapat berkembang menjadi juri yang memiliki kemampuan, ketegasan dan konsistensi dalam menjalankan tugas.

Tiga Juara, Satu Panggung, Satu Pesan

Phoenix Cup #5 Karanggayam akhirnya meninggalkan banyak cerita.

Bintang Baru menjadi penguasa kelas Dewasa. Bondan tampil sebagai juara Piyek Yunior. Sementara Terlena berhasil menaklukkan kelas Piyek Hanging.

Ketiganya membawa cerita berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: menjadi nama yang paling bersinar di kelas masing-masing.

Di sisi lain, lomba ini juga memperlihatkan bahwa masa depan perkutut bukan hanya ditentukan oleh munculnya burung-burung berkualitas.

Regenerasi juri juga menjadi bagian penting dari perjalanan olahraga dan hobi perkutut.

Gantangan membutuhkan jawara baru. Organisasi membutuhkan kader baru. Dan dunia perkutut membutuhkan juri-juri muda yang kelak siap meneruskan tugas generasi sebelumnya.

Phoenix Cup #5 pun menjadi bukti bahwa persaingan di gantangan boleh semakin panas, tetapi regenerasi harus terus berjalan.

Dari Bintang Baru, Bondan, hingga Terlena, para jawara telah memberikan tontonan menarik. Sementara dari sisi organisasi, lahirnya juri-juri junior menjadi sinyal bahwa roda perkutut DIY terus bergerak menuju masa depan. tetap bersama web site kung maniadan pakan pakan perkutut golden voice

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news