Malza Bird Farm Kembali Heboh! 5 Besar Adu Gengsi, Casanova Tampil Paling Garang di Burneh Bangkalan

Kung Mania Padati Burneh Bangkalan, Ajang Tahunan Malza Bird Farm Kembali Melahirkan Calon-Calon Jawara Nasional

Aroma persaingan burung perkutut kembali membakar Pulau Madura. Lapangan Malza Bird Farm, Jambu Burneh, Bangkalan, Minggu (2 Agustus 2026), dipenuhi lautan kung mania dari berbagai penjuru Jawa Timur. Sejak pagi, kendaraan peserta terus berdatangan hingga area parkir nyaris tak mampu menampung lonjakan penghobi yang ingin ambil bagian dalam Latihan Dinilai (Latnil) Malza Bird Farm 2026.

Bukan sekadar latihan biasa, agenda tahunan besutan KH. Abdul Malik Hasyim ini kembali membuktikan diri sebagai salah satu magnet terbesar bagi hobi perkutut di Madura. Tiket habis terjual jauh sebelum lomba dimulai. Bahkan, sejumlah peserta harus rela pulang karena seluruh nomor kerekan dan gantangan sudah terisi penuh.

Menurut KH. Abdul Malik Hasyim: kegiatan tersebut memang sengaja digelar secara rutin sebagai bentuk komitmen untuk menjaga denyut perkembangan hobi perkutut di Bangkalan.

“Latihan Dinilai ini sudah menjadi agenda tahunan kami. Hobi akan terus hidup apabila ada wadah berkumpul, belajar, sekaligus berkompetisi secara sehat. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus memberi semangat bagi kung mania,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Malik Al Ishaqi itu menambahkan bahwa keterbatasan peserta bukan disengaja. Saat ini lapangan baru mampu mengakomodasi satu blok kerekan dan dua blok gantangan, sementara sebagian area masih dalam tahap penataan sehingga belum bisa dimanfaatkan.

Meski hanya membuka Kelas Piyik Bebas dan Piyik Hanging, kualitas burung yang tampil benar-benar membuat arena hidup sepanjang empat babak penilaian.


Profesionalisme Juri Jadi Pondasi Utama

Sebelum lomba dimulai, seluruh perangkat penjurian mengikuti briefing yang dipimpin Ketua Bidang Penjurian H. Busro bersama juri nasional Sueb.

Dalam arahannya, H. Busro kembali mengingatkan pentingnya menjaga independensi dan integritas juri agar hasil lomba benar-benar mencerminkan kualitas burung di lapangan.

“Juri harus bekerja sesuai aturan, profesional, dan tidak boleh ada rekayasa ataupun intervensi dari pihak MANAPUN. Kepercayaan peserta adalah modal terbesar sebuah lomba,” tegas H. Busro.

Sementara itu, Sueb juga mengingatkan seluruh juri agar menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, profesionalisme penjurian adalah fondasi utama agar setiap peserta memperoleh hasil yang adil sesuai kualitas burung yang ditampilkan.

Pesan tersebut terbukti dijalankan dengan baik. Empat babak penjurian berlangsung tertib, sportif, dan minim protes. Cuaca Bangkalan yang cukup terik justru membuat pertarungan antarpeserta semakin sengit hingga babak terakhir.


Lima Besar Piyik Bebas, Pertarungan yang Membuat Arena Bergemuruh

Persaingan Kelas Piyik Bebas menjadi sajian paling panas sepanjang hari. Hampir di setiap babak terjadi saling salip nilai sehingga membuat para penonton berkali-kali menoleh ke arah kerekan para kandidat juara.

🥇 Casanova, Raja Baru dari Nofa BF

Tak terbantahkan, Casanova milik Abdul Wahid asal Keleyan Socah tampil luar biasa. Produk Nofa BF tersebut seolah datang dengan satu misi: menaklukkan arena Burneh.

Karakter suara depan yang bersih, irama mengalun panjang, serta kestabilan sejak babak pertama membuat Casanova akhirnya dinobatkan sebagai Juara 1 Piyik Bebas. Penampilannya mendapat banyak pujian dari kung mania yang memadati pinggir lapangan.

🥈 Lintas Samudra Nyaris Membalikkan Keadaan

Runner-up diraih Lintas Samudra, orbitan Mr. Chotim CRV hasil ternak MHR. Burung ini menjadi rival terberat Casanova sepanjang lomba.

Kualitas angkatan suara yang rapi membuat duel keduanya menjadi salah satu tontonan terbaik hari itu. Selisih performanya sangat tipis dan beberapa penonton menyebut duel ini sebagai “final sebelum final”.

🥉 Buser Pantang Menyerah

Posisi ketiga diamankan Buser, milik Mawardi Burneh, hasil ternak Tikno. Meski sempat kehilangan ritme pada salah satu sesi, Buser mampu bangkit dan kembali menunjukkan kualitasnya hingga menutup lomba di podium tiga besar.

🏅 Bintang Keberuntungan Mencuri Perhatian

Nama Bintang Keberuntungan milik H. Rohli dari Bangkalan menjadi kejutan. Burung ring AAB itu tampil tenang, stabil, dan mampu menyodok ke posisi empat besar di tengah persaingan yang sangat ketat.

🏅 Hotman Paris Jr Lengkapi Lima Besar

Posisi kelima ditempati Hotman Paris Jr. milik Abd. Manap ring Three-M. Meski belum berhasil menembus podium utama, penampilannya menunjukkan kualitas yang menjanjikan dan berpotensi menjadi ancaman pada event-event mendatang.


Palestine Superior di Piyik Hanging

Persaingan di Kelas Piyik Hanging juga berlangsung panas. Palestine, milik H. Holik JBN asal Galis, tampil sangat dominan sejak awal hingga akhir penilaian.

Dengan karakter suara yang stabil dan irama yang indah, Palestine sukses mengamankan podium pertama.

Di posisi kedua hadir Putra Alang-Alang milik Dus Salam ring Unirace, sementara Laskar Lantek orbitan H. Zaini ring Batu Sangkar berhasil mengunci posisi ketiga.

Persaingan lima besar semakin lengkap dengan hadirnya Suka-Suka milik Edi Permata BF di posisi keempat dan Kidung Pamungkas milik Syamhaji Wafa di urutan kelima. Kelima burung tersebut menunjukkan kualitas yang layak diperhitungkan pada kompetisi berikutnya.


Malza Jadi Arena Pemanasan Menuju LPI Singosari

Di balik ketatnya persaingan dan perebutan podium juara, sebagian besar kung mania ternyata memiliki tujuan yang lebih besar. Latnil Malza Bird Farm dimanfaatkan sebagai ajang mengasah kembali performa burung-burung andalan sebelum menghadapi event “bakar kertas” yang lebih bergengsi.

Para peserta menjadikan Burneh sebagai arena uji coba terakhir untuk melihat perkembangan suara, mental bertanding, hingga kestabilan performa jagoannya. Tidak sedikit burung yang tampil di Malza dipastikan akan kembali turun pada kontes nasional berikutnya.

Sorotan kini mengarah ke Liga Perkutut Indonesia (LPI) Singosari, Malang, yang diprediksi menjadi salah satu event paling panas musim ini. Persaingan di sana dipastikan jauh lebih sengit karena akan mempertemukan jawara-jawara terbaik dari berbagai daerah.

Banyak peserta mengaku sengaja menurunkan burungnya di Burneh untuk mengetahui sejauh mana kesiapan sebelum bertarung di Singosari. Kemenangan memang penting, tetapi yang lebih utama adalah memastikan burung tampil dalam kondisi terbaik ketika memasuki panggung nasional.

Dengan demikian, Latnil Malza Bird Farm bukan sekadar mencari juara, melainkan telah menjelma menjadi barometer kesiapan para kontestan menuju lomba-lomba besar. Penampilan impresif Casanova, Palestine, Lintas Samudra, Buser, hingga sederet penghuni lima besar dipastikan menjadi modal berharga untuk menghadapi persaingan yang jauh lebih panas di LPI Singosari.


Malza Bird Farm Semakin Kokoh Menjadi Barometer Perkutut Madura

Kesuksesan penyelenggaraan Latihan Dinilai tahun ini kembali menegaskan bahwa Malza Bird Farm telah menjadi salah satu pusat perkembangan hobi perkutut di Madura. Tiket yang ludes, antusiasme peserta yang membludak, serta kualitas burung yang terus meningkat menjadi bukti bahwa dunia perkutut Bangkalan sedang berkembang pesat.

Ajang ini bukan hanya melahirkan para juara, tetapi juga memperkenalkan bibit-bibit potensial yang diprediksi akan meramaikan persaingan di tingkat regional hingga nasional.

Di penghujung acara, panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, juri, sponsor, dan kung mania yang telah mendukung suksesnya kegiatan. Permohonan maaf juga disampaikan kepada peserta yang belum memperoleh tiket maupun apabila masih terdapat kekurangan selama penyelenggaraan. sumber media online medsos, tetap bersama web web site idola kung maniadan pakan yang asyik pakan perkutut golden voice

Sampai jumpa di arena berikutnya, ketika para jawara Burneh kembali menguji nyali di panggung bergengsi LPI Singosari.

By Redaksi GoldenVoiceNews.com

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news