Liga SUMACI : Surakarta Tebas Gong java, Team Uki Gagalkan Hattrick Ketua pengwil.

Liga Sumaci Awards 2025: Penutup Musim yang Sarat Prestise dan Antusiasme Tinggi

Liga Sumaci  Awards 2025 di Lapangan Jatiwangi, Majalengka, Minggu (26/4/2026), menjadi penutup musim yang tidak hanya sarat prestise, tetapi juga memiliki makna strategis. Event ini menjelma sebagai event pendahuluan menuju panggung nasional bergengsi LPI Tugu Muda Cup Semarang yang akan digelar pada 2–3 Mei 2026.

Sejak pagi, atmosfer lomba sudah terasa hidup. Para peserta dari blok Sumedang, Majalengka, hingga Cirebon hadir membawa burung-burung piyik terbaiknya. Tidak sekadar berburu gelar, banyak di antaranya menjadikan ajang ini sebagai uji performa terakhir sebelum turun di level nasional.

suasana lomba

Uji Kualitas dan Persaingan Kelas Bergengsi

Tiga kelas utama yang dipertandingkan—Piyik Bebas, Piyik Yunior, dan Piyik Hanging—menjadi panggung pembuktian kualitas. Burung-burung yang tampil merupakan hasil seleksi panjang dari rangkaian liga, sehingga persaingan berlangsung ketat dan penuh tensi.

Bagi para pemain, Sumaci Awards bukan hanya lomba biasa. Ajang ini menjadi sarana untuk:

  • Mengukur stabilitas kerja burung
  • Menguji mental menghadapi lawan kuat
  • Menentukan setting terbaik jelang event nasional

Tak heran jika setiap gantangan terasa “panas” dengan standar permainan yang sudah mengarah ke level nasional.


10 Besar Klasemen: Konsistensi Berbuah Prestasi

Salah satu momen penting adalah pengumuman 10 besar klasemen Liga Sumaci 2025. Para juara mendapatkan piala eksklusif serta tiket undian hadiah utama, termasuk sepeda listrik dan berbagai hadiah menarik lainnya.

Lebih dari sekadar penghargaan, capaian ini menjadi bukti konsistensi para pemain sepanjang musim. Mereka yang masuk jajaran elit ini otomatis membawa kepercayaan diri tinggi untuk melangkah ke event yang lebih besar.


Komitmen Liga: Bukan Sekadar Lomba

Di balik suksesnya gelaran ini, peran H. Nono Subarno, S.H., sebagai penggagas sekaligus penanggung jawab Liga Sumaci sangat sentral. Ia menegaskan bahwa liga ini dibangun dengan visi jangka panjang untuk kemajuan dunia perkutut, khususnya di kelas piyik.

“Liga Sumaci ini kami hadirkan bukan hanya untuk lomba semata, tetapi sebagai wadah pembinaan dan penguatan kualitas perkutut piyik di daerah. Kami ingin ada kesinambungan sehingga pemain daerah bisa naik kelas sampai ke tingkat nasional.”

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga kepercayaan komunitas:

“Kunci dari liga itu ada di kontinuitas. Kalau berjalan rutin dan kualitas penilaiannya terjaga, kepercayaan pemain akan tumbuh. Dari situ ekosistem ikut berkembang.”

Menurutnya, Liga Sumaci memang diproyeksikan sebagai pijakan menuju event yang lebih besar:

“Kami berharap Liga Sumaci bisa menjadi batu LONCAT sebelum masuk ke event nasional seperti LPI. Jadi bukan hanya ramai, tapi benar-benar melahirkan burung dan pemain yang siap bersaing di level atas.”


Dukungan Komunitas: Tim Primarasa Turut Menguatkan

Kehadiran Tim Primarasa juga menjadi bagian penting dalam semaraknya event ini. Dipimpin oleh Roy Primarasa, tim ini dikenal aktif hadir di berbagai ajang perkutut di Indonesia.

Roy menegaskan bahwa keikutsertaan mereka bukan semata soal prestasi, tetapi bentuk dukungan terhadap keberlangsungan hobi:

“Kehadiran kami di Sumaci Awards ini adalah bentuk support. Prinsipnya, Tim Primarasa selalu berusaha hadir dan mendukung semua event perkutut di Indonesia, dari daerah sampai nasional.”

Ia juga menyoroti pentingnya kebersamaan dalam membangun ekosistem:

“Kalau event-event seperti ini terus hidup dan berjalan baik, otomatis hobi perkutut juga akan semakin berkembang. Kami ingin ikut menjaga itu, bukan hanya sebagai peserta, tapi juga bagian dari komunitas.”


PIYIK BEBAS: Duel Panas, Gengsi Dipertaruhkan!

Kelas Piyik Bebas langsung menyulut tensi tinggi. Nama Surakarta milik Suhartono, S.H., tampil tanpa kompromi—kerja stabil, seolah menegaskan: ini bukan panggung coba-coba.

Namun, kemenangan itu tidak datang tanpa tekanan. Gong Java dari STP BF Bandung terus menempel ketat, memberikan ancaman serius di setiap babak. Bahkan Kuda Hitam milik Soenardi Bekasi tampil seperti “kartu liar” yang nyaris merusak prediksi banyak pemain.

Yang paling menarik, dominasi nama-nama besar tidak sepenuhnya aman. Bintang Ganesha dan Komeng dari kandang H. Nono Ganesha menunjukkan kedalaman materi yang tidak bisa dipandang sebelah mata—dua amunisi sekaligus di 10 besar adalah sinyal keras bahwa mereka datang bukan sekadar meramaikan. Moncernya Jagoan Ganesha selain karena kualitas perkututnya yang memang oke juga dalam hal perawatan, H. Nono didampingi Mas Fajar merawat dengan intens perkututnya pakai pakan perkutut Golden Voice. Hal ini wajar adanya karena H. Nono Subarno dengan Ganesha Pet Shop-nya adalah reseller lama pakan Golden Voice. jadi bagi rekan kung mania majalengka sekitarnya bisa menghubungi wa atau fb ganesha pet shop beliau untuk mengkoleksi pakan golden vocie dan tentunya perkutut hasil trnakan ganesha bf jatiwangi yang kualitasnya ciamik

Dan jangan lupakan Montera orbitan Dede Prima Rasa—penampilan berani dan menusuk, meski belum cukup untuk podium puncak. Kelas ini jelas: yang lengah sedikit langsung tergilas.


PIYIK YUNIOR: Panggung Bibit Muda, Tapi Mental Baja!

Kalau ada yang mengira kelas yunior itu “kelas pemanasan”, jelas salah besar. Sultan Fatih dari UKI Team Palu justru membuka mata semua—tampil dingin dan efisien. Ini bukan sekadar menang, tapi pernyataan bahwa regenerasi sedang berjalan serius.

Tekanan datang dari Cirebon Trusmi milik Suhartono, S.H., yang tetap konsisten menjaga nama besar. Tapi kejutan terbesar ada di Amelia (Dede Prima Rasa). Gaya mainnya berani, bahkan cenderung “nekat”, memaksa juri terus memperhatikan.

Di sisi lain, nama-nama seperti Gembala, Embun Pagi, hingga Bintang Kejora memperlihatkan bahwa kelas ini penuh talenta mentah yang siap meledak kapan saja.

Kelas ini bukan soal siapa yang paling terkenal, tapi siapa yang paling siap. Dan jelas, banyak pemain senior mulai harus waspada—bibit muda ini datang dengan mental petarung, bukan penonton.


PIYIK HANGING: Drama, Tekanan, dan Dominasi Cirebon!

Inilah kelas paling “berisik” secara tensi. Dari awal, Marina Bei milik Suhartono, S.H., langsung menggebrak, percaya diri, seperti tidak memberi ruang bagi lawan untuk bernapas.

Namun, drama sesungguhnya ada di bawahnya. Bang Kumis (H. Bowo Pujangga) dan Wijaya Kusumah (Dede Prima Rasa) saling sikut dengan performa yang sulit dipisahkan. Banyak yang menyebut ini sebagai salah satu duel paling ketat hari itu.

Menariknya, dominasi pemain Cirebon begitu terasa. Nama-nama seperti Sriwijaya, Nirwana, hingga Gajah Baru menunjukkan bahwa tuan rumah tidak mau sekadar jadi pelengkap. Mereka menyerang dari berbagai lini.

Tapi jangan abaikan Viking milik H. Umar—penampilannya cukup mengguncang dan jadi ancaman serius di tengah dominasi tersebut.

Kelas ini penuh tekanan, penuh emosi, dan jelas: hanya burung dengan mental baja yang bisa bertahan sampai akhir.

UKI PALU: Pemutus Hattrick, Pengacau Skenario Besar!

Kalau hari itu berjalan “normal”, bukan tidak mungkin semua kelas akan disapu bersih oleh jagoan milik Koh Akim, Suhartono, S.H.—yang juga menjabat Ketua Pengwil Jabar. Dominasi sudah di depan mata, skenario hat-trick terasa begitu dekat… sampai akhirnya satu nama datang merusaknya: Tim UKI Palu.

Lewat Sultan Fatih, UKI Palu bukan sekadar menang—mereka menggagalkan narasi besar yang sudah hampir sempurna. Ini bukan kemenangan biasa; ini interupsi keras di tengah dominasi. Sebuah peringatan bahwa peta kekuatan tidak bisa dimonopoli, bahkan oleh figur sekelas Suhartono, S.H. sekalipun.

Andai tidak ada perlawanan dari UKI Palu, bisa dipastikan podium lintas kelas hanya akan jadi milik satu poros: SH Cirebon. Tapi kenyataannya, UKI hadir sebagai “pengganggu elit” yang merusak rencana bersih tersebut.

Menariknya, justru dari benturan ini muncul optimisme baru. Kemenangan jagoan-jagoan SH bf Cirebon tetap membuktikan kekuatan mereka, sementara keberanian UKI Palu menambah warna persaingan.

Hasil ini membuat Tim UKI Palu dan Tim SH Cirebon sama-sama percaya diri untuk naik level—menatap LPI Tugumuda sebagai panggung berikutnya. Bukan sekadar peserta, tapi duta Kung Mania Jabar yang siap membawa gengsi daerah.

Didukung pula oleh kekuatan Tim Primarasa, konstelasi ini jelas berbahaya:
Bukan lagi soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling siap menghadapi tekanan di level nasional.

Dari Majalengka ke Semarang

Dengan jarak waktu yang sangat dekat menuju LPI Tugu Muda Cup, Sumaci Awards 2025 terasa seperti panggung pemanasan yang sesungguhnya. Kualitas burung, kesiapan pemain, hingga atmosfer kompetisi semuanya sudah berada di level tinggi.

Kini, para jawara dan kandidat kuat bersiap melangkah ke Semarang. Membawa hasil evaluasi, kepercayaan diri, dan ambisi untuk bersinar di panggung nasional.

Majalengka telah memanaskan mesin.
Semarang tinggal menunggu ledakan persaingan sesungguhnya tetap nantikan informasi seputar hobi perkutut di GoldenVoice News (foto: roy,zn bf,ganeshapetshop,fb). foto editan untuk hiburan.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news