Tim Carperter & Tim Alf Semarang—menjadi juara di hobi perkutut, apalagi di kancah nasional seperti Liga Perkutut Indonesia (LPI)— bukanlah perkara mudah. Di balik gemerlap piala dan sorak-sorai penonton, tersimpan realitas biaya yang fantastis, baik untuk mendapatkan burung berkualitas maupun perawatannya. Biaya perjalanan, biaya beli jagoan, biaya perawatan adalah faktor-faktor yang menentukan kesuksesan para kuNGmania (pecinta perkutut) di kompetisi bergengsi ini, sebagaimana diwartakan GoldenVoice News.
Burung Juara: Investasi Miliaran Rupiah
Kualitas seekor burung perkutut sangat menentukan potensinya di lapangan. Untuk burung dengan kualitas tiga warna ke atas, harga belinya saja sudah meroket.
“Kalau belinya sudah piyek saja, sudah mahal, kisaran di atas 25 juta. Apalagi kalau belinya sudah jelas-jelas juara nasional atau dia bisa konser 3 item, tentu harganya di atas 150 juta,” ungkap Anang Teratai, seorang narasumber dunia medsos.
Angka ini belum termasuk biaya perawatan yang tak kalah menguras kantong. Memiliki burung berkualitas saja tidak cukup; perawatan yang optimal adalah kunci.

Perawatan Spesialis: Jasa Mahal Para Maestro
Perawatan burung perkutut juara bukan sekadar memberi makan, minum, dan menjemur. Dibutuhkan perlakuan khusus yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang benar-benar berkecimpung di dunia lomba burung.
“Perawatan yang bagus ini tidak hanya kasih makan, minum, jemur, tapi juga butuh perlakuan-perlakuan khusus,” jelas narasumber tadi. “Perlakuan-perlakuan khusus ini memang harus diperhatikan setiap hari. Biasanya yang bisa adalah mereka yang memang berkecimpung di lomba burung atau di perawatan burung perkutut. Butuh ketelatenan, kepekaan, dan kedisiplinan untuk melakukan itu semua.
Sayangnya, akses terhadap para perawat spesialis ini tidaklah murah. Biaya jasa mereka bisa mencapai jutaan rupiah per bulan, tergantung kesepakatan.
“Untuk memakai jasa perawat itu butuh biaya 5 juta ke atas, tergantung kesepakatan,” ungkap Anang kembali. “Tentu, supaya bisa dirawat oleh perawat yang terbaik, pasti biayanya jauh lebih mahal.”
Anggaran Tahunan: Ratusan Juta Rupiah untuk Kompetisi Nasional
Dengan realitas biaya beli burung dan perawatan yang tinggi, tak heran jika anggaran tahunan untuk mengarungi kompetisi LPI bisa mencapai ratusan juta rupiah.
“Untuk mengarungi kerasnya kompetisi Liga Perkutut Indonesia secara khusus dan secara umum lomba-lomba burung di nasional, maka satu kumania itu harus menyiapkan budget dalam setahun yang luar biasa. Tidak cukup satu juta. Apalagi kalau dia mengikuti satu putaran liga, sudah pasti biayanya tembus di atas 100 juta,” papar Eyaka, bf narasumber medsos lainnya.
Angka ini tentu menjadi penghalang bagi banyak kumania untuk berkompetisi di level tertinggi.
Titi ALF dan Mr. Cokro Hindoyo: Perpaduan Ideal Sang Juara
Di tengah kerasnya kompetisi, muncul sosok Titi ALF dan Mr. Cokro Hindoyo, pemilik Carpetter, yang dinilai memiliki kapasitas lengkap untuk menjadi juara.
“Beliau berdua ini, Titi ALF dan Mr. Cokro Hindoyo, paling top di Indonesia untuk hari ini,” ujar narasumber. “Burung mereka punya bagus. Perawat kita sudah tahu. Perawat burung sudah jelas : Abah Kholil dan Gus Yogi. Dan siapa yang tidak kenal perawat nasional ini? Berapa puluh ekor burung nasional yang diorbitkan dari tangan beliau.”
Kemampuan Abah Kholil dan Gus Yogi dalam merawat dan “menyihir” burung menjadi jawara nasional memang tak diragukan lagi. Namun, untuk mendapatkan sentuhan magis mereka, tentu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Namun lagi-lagi “Karena kedekatan kekeluargaan di antara mereka, antara Titi ALF , Mr. Cokro dan Abah Cholil, sudah pasti ada win-win solution,” tambah narasumber. “Intinya, ketiganya ini adalah sosok yang memang paling ideal untuk menjadi yang terbaik.”
Tantangan Lapangan: Keberuntungan dan Performa Burung
Meskipun memiliki modal, burung berkualitas, dan perawat terbaik, faktor keberuntungan dan performa burung di lapangan tetap menjadi penentu.
“Tinggal bagaimana kemampuan burung di lapangan. Karena bagaimanapun burung ini ada sisi uniknya,” kata Anang dengan jelas. “Contohnya, beberapa pekan lalu burungnya Titi ALF Donuld Trump dan Big Show itu benar-benar meyakinkan mampu tampil apik di saat kontes di kegiatan pra-LPI. Namun kenyataannya, ketika di pembukaan LPI Caruban, kedua burung milik Titi ini gagal perform tidak seperti sebelumnya.”
Kendala-kendala seperti ini memang sering terjadi. Namun, secara keseluruhan, kekuatan Titi ALF dan Mr. Cokro Hindoyo saat ini dinilai sebagai yang terdepan untuk meraih gelar juara LPI 2026.
“Apakah keberuntungan atau rezeki tadi berpihak pada mereka? Tentunya hanya takdir waktu yang bisa memastikan.
Dengan segala kompleksitas dan biaya yang terlibat, menjadi juara di Liga Perkutut Indonesia bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah investasi besar yang membutuhkan dedikasi, strategi, dan tentu saja, modal yang tidak sedikit, jadi sudah sewajarnya diberikan penghargaan dan perlakuan terbaik oleh pihak yang berwenang memberikannya. namun apapun kondisinya jangan lupa pakan burungnya tetap memakai pakan perkutut golden voice


