MARIMAS “BANGKIT DARI TIDUR”, MANILA BF LANGSUNG GAS DI HARI JURI CUP SUMEDANG.

Hari Juri Cup Pengwil Jabar yang digelar Minggu, 8 Maret 2026 di Sumedang bukan sekadar lomba biasa. Event yang digagas sebagai bentuk solidaritas dan donasi untuk rekan-rekan juri ini justru berubah menjadi arena pemanasan para kung mania yang membawa jagoan-jagoan mereka, baik amunisi baru maupun burung lama yang sempat “vakum suara”.
Dari sekian banyak burung yang turun, satu nama yang langsung mencuri perhatian adalah Marimas, jagoan milik Koh Henry Manila BF Bandung. Burung yang sempat lama ngadat dan tidak maksimal dalam beberapa penampilannya ini tiba-tiba tampil kembali dengan performa meyakinkan.
Di kelas dewasa, Marimas tampil stabil dari awal hingga akhir penilaian dan akhirnya mengunci posisi juara pertama, mengungguli rival-rival kuat lainnya.
Kebangkitan Marimas jelas membuat sang pemilik sumringah. Kepada GoldenVoiceNews, Koh Henry mengaku cukup terkejut sekaligus bersyukur melihat performa burung kesayangannya kembali seperti dulu.
“Saya bersyukur sekali dengan penampilan Marimas hari ini. Jujur, sebelumnya burung ini sempat ngadat dan beberapa kali tampil tidak maksimal. Tapi kebetulan setelah saya belikan pakan Golden Voice Champion, tiba-tiba Marimas kembali bunyi. Bahkan sebelumnya sudah sempat juara 2 di Nusa BF, dan syukur hari ini di Sumedang juga bunyi lagi dengan poin terbaik,” ungkap koh Henry.
Kemenangan ini seolah menjadi tanda bahwa Marimas belum habis. Di tengah gempuran jagoan-jagoan baru, burung lawas milik Manila BF ini justru kembali menunjukkan kelasnya. baca juga profil
Sementara itu, Surakarta milik Suhartono, S.H. (Bandung), harus puas di posisi kedua setelah memberikan tekanan ketat sepanjang penilaian. Posisi ketiga ditempati Al-Hadid milik UKI Team Palu, yang tampil cukup stabil dan konsisten di papan atas.
Meski berlabel lomba sosial, Hari Juri Cup Sumedang tetap menghadirkan atmosfer kompetisi yang panas. Banyak kung mania terlihat memanfaatkan momen ini untuk mengukur kesiapan burung sebelum turun ke event yang lebih besar.
Namun satu hal yang paling jadi bahan perbincangan di pinggir gantangan hari itu adalah:
“Marimas sudah bangun… apakah Manila BF akan kembali mengguncang arena?”
Kung mania, kita tunggu saja episode berikutnya. baca juga profil Manila bf
MATADOR MENGAMUK DI KELAS PIYEK YUNIOR.
Selain panas di kelas dewasa, kelas Piyek Yunior pada gelaran Hari Juri Cup Pengwil Jabar juga menyajikan persaingan yang tidak kalah seru. Banyak kung mania memanfaatkan kelas ini sebagai ajang uji materi piyek muda yang diproyeksikan menjadi bintang masa depan.
Dari sekian banyak peserta yang turun, Matador milik Shani SZ BF dari Jatiwangi tampil paling menonjol. Piyek muda bergelang ring Shani SZ ini mampu menunjukkan performa stabil dengan karakter suara yang menjanjikan, sehingga berhasil mengunci posisi juara pertama.

Kemenangan Matador sekaligus menjadi sinyal bahwa amunisi muda dari Jatiwangi patut diperhitungkan dalam peta persaingan piyek di Jawa Barat.
Posisi kedua ditempati Si Pinang milik Imam ICA dari Ciamis, yang juga tampil cukup impresif dengan materi suara yang matang untuk ukuran piyek. Sementara Mustang milik Dede Prima Rasa Bandung menempati posisi ketiga setelah tampil stabil sepanjang sesi penilaian.
Yang juga menarik perhatian adalah Kedaton milik UKI Team Palu yang berhasil menembus posisi empat besar. Nama Kedaton sendiri sebelumnya sudah cukup dikenal di kalangan kung mania sebagai salah satu trah yang punya potensi besar di kelas muda.
Sementara itu, Henry Manila BF Bandung juga terlihat menurunkan dua amunisi muda, yakni Bulgary dan Gembala. Meski belum menembus papan atas, keduanya tetap mampu menempel di jajaran 15 besar, menjadi sinyal bahwa Manila BF juga mulai menyiapkan generasi penerus setelah sukses dengan burung dewasa seperti Marimas.
Dengan materi-materi muda yang mulai bermunculan, kelas Piyek Yunior di Sumedang ini seolah memberi gambaran bahwa stok calon bintang masa depan perkutut masih sangat melimpah.
Kelas Piyek Hanging: Jagoan Koh Akim Terbaik!

Persaingan kelas Hanging berlangsung panas sejak awal penilaian. Namun, dari ketatnya persaingan itu, satu nama tampil paling menonjol, yakni Cirebon Trusmi, jagoan milik Suhartono SH dari Cirebon. Burung bergelang ring SH ini tampil meyakinkan dengan karakter suara yang stabil. Cirebon Trusmi akhirnya mengunci posisi juara pertama sekaligus menegaskan kualitasnya di kelas hanging.
Kemenangan ini sekaligus menjadi bukti bahwa amunisi Suhartono SH masih sangat diperhitungkan di berbagai kelas, tidak hanya di level dewasa tetapi juga di kelas hanging yang terkenal ketat.
Di posisi kedua ada Gatot Kaca milik H. Didi dari Tanjungsari. Burung bergelang YM ini sebenarnya sempat memberi tekanan serius di papan nilai, namun harus puas menjadi runner-up setelah kalah tipis dari Cirebon Trusmi.
Sementara Kembang Desa milik Opik dari Ciamis berhasil mengamankan posisi ketiga. Burung bergelang TAT ini tampil cukup stabil sepanjang sesi penilaian dan mampu menjaga posisinya di barisan papan atas.
Persaingan sengit juga terlihat di barisan tengah klasemen. Dede Prima Rasa Bandung menempatkan beberapa jagoannya seperti Larisa, Maringga, dan Sadewa di jajaran 12 besar. Sementara H. Rudy Akasa dari Surabaya juga ikut meramaikan papan nilai lewat Vega Ega Pratama yang berhasil menembus posisi enam besar.
Nama-nama lain seperti Singa Bukit milik Defri Eyaka Cirebon, Bontuna milik Ancu Sunardi, hingga Sakti milik Dani Naluri Bandung juga turut meramaikan ketatnya persaingan di kelas ini.
Kelas hanging di Sumedang kali ini membuktikan bahwa peta kekuatan kung mania Jawa Barat masih sangat dinamis. Banyak burung dengan materi bagus mulai bermunculan dan siap menjadi penantang serius di event-event besar berikutnya. ( foto roy).






