Titi Alf Pamer kekuatan Trump dan Big Show—Gelaran Liga Perkutut Salatiga Seri 2 yang berlangsung di Lapangan Burung Dukuh Sidomukti, Salatiga, berlangsung dalam kondisi cuaca cerah cenderung terik. Namun uniknya, meski panas, karakter udara khas Salatiga tetap sejuk dan sedikit dingin. Kondisi demikian memang membuat nyaman pemilik burung, tapi justru memberikan efek tidak nyaman terhadap performa burung perkutut yang sedang dikerek.
Biasanya, perubahan mencolok terlihat dari karakter suara yang keluar di lapangan. Banyak burung yang biasanya tampil rapi; kali ini cenderung berubah ritme dengan dominasi suara “noklak”. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, baik bagi peserta maupun tim juri dalam melakukan penilaian.
Menurut Mas Wiwid, yang juga bertugas sebagai juri perumus, secara kuantitas peserta memang terjadi sedikit penurunan dibanding seri sebelumnya, khususnya di kelas hanging. Namun demikian, secara keseluruhan masih berada dalam batas target panitia. Kekurangan di kelas hanging berhasil tertutup dengan meningkatnya jumlah peserta di kelas piyek bebas yang justru menunjukkan antusiasme tinggi.
Hal senada juga disampaikan oleh panitia pendaftaran, Mr. Ronny. Ia mengakui bahwa distribusi peserta di beberapa kelas memang tidak merata. Ada kelas yang di bawah target, namun ada pula yang justru membludak. Bahkan, untuk kelas piyek bebas, lonjakan peserta memaksa panitia menambah jumlah trofi dari 10 menjadi 15 sebagai bentuk apresiasi terhadap tingginya partisipasi.
Dari sisi penyelenggara, Ketua Pengda sekaligus penanggung jawab liga, Pak Mahmud, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta dan pencinta perkutut yang tetap hadir dan meramaikan event ini. Menurutnya, konsistensi kehadiran peserta menjadi bukti bahwa Liga Perkutut Salatiga tetap memiliki daya tarik kuat di tengah padatnya agenda lomba.
Sementara itu, ada sedikit penyesuaian dari sisi teknis, khususnya pada tiket pendaftaran yang mengalami kenaikan dari Rp75.000 menjadi Rp100.000. Menurut Mas Asep, keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan untuk meningkatkan kualitas konsumsi bagi peserta agar lebih nyaman selama mengikuti lomba.
Yang tak kalah menarik, panitia juga telah menyiapkan hadiah akhir liga yang sangat bergengsi, yakni 2 unit sepeda motor bagi para juara umum di akhir musim. Hal ini tentu menjadi pemantik semangat tambahan bagi para peserta untuk terus berburu poin di setiap seri.
Secara keseluruhan, Liga Perkutut Salatiga Seri 2 tetap berlangsung sukses dan kompetitif. Meski diwarnai tantangan cuaca dan dinamika performa burung, semangat para peserta tidak surut. Justru dari sinilah terlihat kualitas sejati para pemain dan burung-burung terbaik yang mampu beradaptasi dalam segala kondisi. Dan tim alf yang disupport penuh oleh Titi menjadikan event-event regional ini untuk uji setingan sebelum turun di event yang lebih dahsyat LPI.
.
🐥 PIYEK BEBAS: “DONALD TRUMP” BUKAN CUMA OMON-OMON, INI ANCAMAN NYATA!
Nama Donald Trump memang kontroversial, tapi itu kalau merujuk pada Trump sebagai presiden USA. Tapi Trump di sini adalah nama burung milik Titi Alif Semarang yang dalam 2 kali lomba burung ini selalu tampil dominan.
Mengulang penampilan sebelumnya di lapangan yang sama, Trump kembali bunyi maksimal, suara khas besar dengan ujung ndlewer selalu dilantunkan di setiap nyanyianya. Trump kali ini show tidak sendirian, tapi ditemani koleganya “Big Show”. Burung bandrol beli 150jt yang sangat disukai si big bos titi ini mampu tampil apik mengimbangin Trump. Meski secara kualitas burung bergelang nusa ini lebih syahdu, namun penilaian di lapangan juga ditentukan oleh kegacoran burung, dan ini yang belum dimiliki “Big Show”.
Kemampuan menjuarai peringkat ke-1 dan ke-2 di kelas yang sama membuktikan kalau ini bukan sekadar menang… ini dominasi terang-terangan! Yang dilakukan Titi Alf menjelang LPI Caruban.
Dari Lombok, Cokro Handoyo kirim dua amunisi:
El Zero Miedo sang juara lpi 2025, mitra sekaligus rival Trump dan Big Show di setiap kontes.
Bomber
Performa oke, tapi masih kurang “nendang” buat masuk 5 besar. Burung yang di bengkel di tempat yang sama ini kayaknya akan meledak bersama dengan Trump dan Big Show di Cinta Satwa Cup, 2 minggu ke depan.
Di kelas ini sebenarnya turun juga burung juara lpi dewasa yunior seri akhir, yaitu Parvez (Pramando – BSD), namun performanya belum kembali seperti semula, dan oleh jokinya, tim BTS, burung ini juga dalam perawatan sebelum turun di LPI Cinta Satwa.
🐣 KELAS PIYEK YUNIOR: EL MATADOR HATRICK, SEMARANG KUASAI PODIUM!
Kelas Piyek Yunior jadi ajang pembuktian . El Matador (136) milik Tim Alf Semarang tampil tanpa perlawanan berarti. Burung bergelang wk ini melengang menjadi kampiun pertama sekaligus kemenangan ketiga di tempat yang sama. Mental El Matador memang luar biasa sejak awal babak burung yang digadang-gadang bakal menyaingi kakanya Red Bull ini tampil mulus, beberapa kali mengeluarkan suara terbaiknya, jadi wajar sang juri memberikan kemenangan kepada El Matador. Kemenangan ini menjadikan poin Titi Alf melambung ke atas.
Di belakangnya, masih dari Semarang, Golden Song (147) milik Henry Atlas , Duel dua burung ari Semarang ini jelas jadi bukti—kota ini lagi panas!
Yang cukup mencuri perhatian, lamilne Yamal (144) milik Septiyan Solo. Nama boleh “nyeleneh”, tapi performa nggak main-main. 80 poin dan podium tiga jadi bukti kalau Solo nggak datang buat pelengkap penderitaan.
Sementara itu:
El Fonda (Acek – Semarang) tetap konsisten di papan atas (75)
JoLo Sutro (Winono – TMG) tampil ngotot (70)
Galih Jati (Bp. Saniman – Kudus) stabil walau belum meledak (65)
Ada satu slot kosong di posisi 7—ini yang bikin penasaran.
KELAS HANGING: WASAY TERBANG TINGGI, SEPTIYAN MENGINTAI!
Kelas Hanging selalu jadi panggung paling bawah —dan kali ini nggak mengecewakan.
Wasay (102) milik Pramando – BSD Tangsel tampil luar biasa. Dan sukses meraih 100 poin—layak disebut raja gantangan hanging. Kalau nggak salah, ini kemenangan ke-2 bagi Pramando dan menjadi pasangan serius Septian di klasmen liga kelas hanging.
Di belakangnya, Srikandi (104) milik Septiyan Solo terus menunjukkan konsistensi. Skor 90 poin dan kembali jadi ancaman nyata buat Pramando. Septiyan jelas bukan pemain baru—jadi wajar kalau jagoannya sering juara, karena perawatannya cukup baik.
Tuan rumah juga nggak tinggal diam:
Putra Karna (Tim Mawar Hitam – Salatiga) (80)
Morigo (IBF – Salatiga) (75)
Dua nama ini bikin publik lokal tetap punya kebanggaan.
Nama lain yang cukup stabil:
Caraka (ADI – Semarang) (70)
Elsa (Septiyan – Solo) (65)
Kameswara (H. Solikin – Demak) (60)
Liga Salatiga Seri 2 ini bukan sekadar lomba rutin. Ini adalah:
Ajang pembuktian dominasi Semarang
Panggung konsistensi Septiyan Solo
Dan kebangkitan nama-nama seperti Pramando
Satu hal yang pasti:
👉 Standar burung sekarang makin tinggi. Yang biasa-biasa? Siap-siap tersingkir.
🎯 SIAP-SIAP SERI BERIKUTNYA LEBIH PANAS!
Kalau seri 2 sudah sekeras ini, seri berikutnya bisa jadi medan perang sesungguhnya. Semua tim pasti akan melakukan evaluasi, mengupgrade materi, dan datang dengan amunisi baru. (foto/video mas Wiwid, mas Roni genk)
Dan satu pesan keras dari Salatiga:
“Kalau mau menang, jangan setengah-setengah. Di sini, yang ragu… pulang!” rawat lagi perkututnya dengan pakan Golden voice Free ongkir
Selalu update informasinya di Goldenvoice News, bantu share biar web makin berkembang.



🐥 PIYEK BEBAS: “DONALD TRUMP” BUKAN CUMA OMON-OMON, INI ANCAMAN NYATA!

