
Piala raja hb cup 2026 : Yogyakarta kembali menunjukkan kelasnya! Hari pertama Liga Perkutut Indonesia (LPI) Piala Raja HB Cup 2026 yang mempertandingkan kelas piyek berlangsung panas, meriah, dan penuh cerita. Tiket bukan sekadar ludes—peserta sampai harus ditolak karena kuota sudah penuh!
Inilah salah satu bukti bahwa Piala Raja masih mempunyai magnet yang berbeda dibanding event LPI lainnya.
Tidak perlu terlalu sibuk mengumbar hadiah doorprize. Tidak perlu membujuk Kung Mania dengan janji macam-macam. Begitu panitia membuka booking tiket, peserta sudah berdesakan.
Bahkan sejak hari pertama open booking, tiket langsung penuh.
Kalau tiket sampai harus ditolak, berarti yang kewalahan bukan pesertanya, tetapi panitianya!
Dan fenomena seperti ini kembali terjadi di Yogyakarta.
Piala Raja, Magnetnya Sampai Keluar Pulau Jawa
Daya tarik Piala Raja HB Cup 2026 juga terlihat dari asal peserta. Bukan hanya Kung Mania dari berbagai kota di Pulau Jawa yang merapat ke Yogyakarta.
Peserta dari Batam, Palu, Lampung hingga Lombok ikut hadir dan membuat pesta perkutut nasional ini semakin semarak.
Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi satu misi: menguji burung terbaik sekaligus memburu mahkota Piala Raja.
Sebab tropi model kupluk atau mahkota tersebut memang menjadi salah satu benda yang paling diincar Kung Mania.
Boleh pulang tanpa doorprize.
Tetapi kalau bisa membawa pulang mahkota Piala Raja?
Nah, itu cerita yang bisa dibawa pulang sampai rumah!
HB Cup Makin Keren di Tangan Bpk Agus Hendratno
Penyelenggaraan HB Cup tahun ini juga semakin menunjukkan kematangan panitia di bawah nahkoda Bpk Agus Hendratno.
Dan Salah satu yang paling mendapat perhatian adalah urusan konsumsi.
Menu yang variatif membuat peserta tidak gampang bosan. Bahkan pengelolaan konsumsi HB Cup layak disebut sebagai salah satu yang paling keren dalam penyelenggaraan lomba perkutut.
Belum lagi voucher senilai Rp5.000 yang menjadi pembeda.
Ada juga Voucher ditukarkan dengan pakan burung.
Jadi peserta bukan cuma diberi makan, tetapi burung di rumah juga ikut kebagian rezeki.
Yang kenyang pemiliknya, yang dibawa pulang pakannya, yang dicari tetap mahkotanya!
Konsep inilah yang membuat HB Cup semakin istimewa.
Jogja memang istimewa.
Alkid Jadi Panggung Pertempuran Suara
Suasana Alun-Alun Kidul atau Alkid semakin menambah kekhasan Piala Raja.
Bule yang mondar-mandir di pinggir lapangan yang penasaran dengan suasana lapangan, mungkin bule bule tertarik dengan angungan perkutut yang bersahut-sahutan dengan teriakan joki.
Kalau orang awam mungkin menganggapnya ramai.
Tetapi bagi Kung Mania, itu adalah simfoni perjuangan menuju podium!
Dan dari hiruk-pikuk itulah lahir pertarungan paling menarik pada kelas Piyik Bebas.
PIYIK BEBAS: Papa Dimitri dan Soimah Duel Panas, Kusuma Wijaya Rugi Besar.


Salah satu pertarungan yang paling mendebarkan terjadi di kelas ini
Tiga nama tampil mencuri perhatian: Papa Dimitri, Soimah dan Kusuma Wijaya.
Babak pertama benar-benar menjadi arena adu gacor dan adu mutu suara.
Ketiganya tampil agresif sehingga membuat persaingan menjadi sangat menarik. Dua dewan, Mr Zainal dan Mr Ahmad, sama-sama sepakat memberikan koncer tiga hitam kepada ketiganya.
Artinya, tiga burung tersebut sama-sama mampu menunjukkan kualitas yang membuat penilaian berlangsung ketat.
Belum ada yang mau mengalah!
Namun memasuki babak kedua, cerita mulai berubah.
Papa Dimitri dan Soimah tetap ngacir dengan tiga warna. Keduanya terus menjaga penampilan dan membuat pertarungan semakin mengerucut.
Sementara itu, Kusuma Wijaya, yang secara mutu suara dinilai lebih unggul, tapi harus puas pulang membawa kenangannya berupa koncer tiga warna hitam kelas LPI.
Nah, inilah salah satu drama klasik lomba perkutut.
Suara bagus saja belum cukup kalau tidak mau bunyi
Akibatnya, pertarungan yang semula melibatkan tiga burung akhirnya praktis hanya menyisakan Papa Dimitri dan Soimah.
Babak Penentuan: Papa Dimitri Akhirnya Ngacir
Memasuki babak penentuan, Papa Dimitri milik Team Punto bersama joki Om Wasid cs mencoba menuntaskan persaingan.
Dan benar saja.
Hingga akhir laga, Papa Dimitri mampu mempertahankan performanya.
Hasil akhirnya, Papa Dimitri nomor 99, milik Team Punto Jakarta, ring Discovery, dinyatakan sebagai juara pertama Piyik Bebas.
Mahkota Piala Raja pun akhirnya resmi menjadi milik Team Punto.
Papa Dimitri menang, Soimah harus puas di posisi kedua, sementara Kusuma Wijaya kembali harus bertanya kepada dirinya sendiri: “Kenapa tadi saya malah diam?” 😄
Lima Besar Piyik Bebas
🥇 Papa Dimitri — Team Punto — Jakarta — Discovery
🥈 Soimah — Samuel BLT — Lombok — HDL
🥉 Kapten Srobot — H. Dibyantoro — Probolinggo — Victory
Anggi — H. Abu Bakar / Genius — Pamekasan — TAT
Macan Hitam — H. Yazid / RM — Pamekasan — Mabes
PIYIK JUNIOR: HAITAM MENGAMUK, PRIMARASA KEMBALI NAIK PODIUM
Kalau Piyik Bebas sudah bikin jantung berdebar, kelas Piyik Junior juga tidak mau kalah.
Di kelas ini, Haitam nomor 375 milik Pramando dari BSD Tangerang, ring STYA, berhasil merebut posisi teratas.
Haitam tampil paling efektif di tengah ketatnya persaingan. Burung-burung muda yang turun bukan sekadar datang untuk meramaikan daftar peserta.
Mereka datang membawa ambisi.
Dan Haitam berhasil mengubah ambisi tersebut menjadi angka satu di papan hasil lomba.
Mr pramando akhirnya punya alasan kuat untuk tersenyum di Piala Raja.
Posisi kedua ditempati Kalimaya nomor 278 milik Dede Primarasa dari Bandung, ring PRIMARASA.
Primarasa kembali menunjukkan konsistensinya di panggung besar.
Belum mampu menggulingkan Haitam dari puncak, tetapi runner-up di Piala Raja tentu bukan hasil yang bisa dianggap biasa.
Mahkota memang belum dibawa pulang, tetapi podium sudah diamankan. Jelas bambang bk
Posisi ketiga menjadi milik Mega Trust nomor 335 milik Sholehuddin dari Pamekasan, ring Dewi Anggun.
Pamekasan kembali menunjukkan taringnya.
Mega Trust berhasil membawa nama Pamekasan masuk podium, sementara wakil Pamekasan lainnya juga ikut bercokol di lima besar.
Fecbook dan Bringas Lengkapi Lima Besar
Posisi keempat ditempati Fecbook nomor 403 milik Joni Manik dari Bandung, ring Panorama.
Sementara posisi kelima menjadi milik Bringas nomor 396 milik Dehrah dari Pamekasan, ring Thajam.
Dengan demikian, persaingan Piyik Junior memperlihatkan pertarungan lintas daerah yang sangat menarik.
Lima Besar Piyik Junior
🥇 Haitam — Pramando — BSD Tangerang — STYA
🥈 Kalimaya — Dede Primarasa — Bandung — PRIMARASA
🥉 Mega Trust — Sholehuddin — Pamekasan — Dewi Anggun
Fecbook — Joni Manik — Bandung — Panorama
Bringas — Dehrah — Pamekasan — Thajam
HANGING: Putra Papua Sempat Diangkat sebagai Juara, Malah Kena “Prank” Setelah Foto!
Drama belum selesai.
Setelah Team Punto sukses membawa Papa Dimitri menjadi juara Piyik Bebas, kejutan kembali terjadi di kelas Hanging melalui burung Putra Papua.
Awalnya, Putra Papua sempat dinyatakan sebagai pemenang. Bahkan tim sudah melakukan foto bersama dan menerima tongkat kemenangan.
Kalau sudah begini, tentu wajah Team Punto sudah seperti orang menemukan harta karun.
Foto sudah. Tongkat sudah. Senyum sudah.
Tetapi ternyata itu seperti prank
Karena setelah sesi foto bersama, hasil tersebut kemudian diralat.
Putra Papua akhirnya dinyatakan berada di posisi kedua.
Juara pertama secara hasil akhir adalah Cinderella nomor 94 milik Team HDL Surabaya, ring LY
Tetapi Team Punto tetap bisa tersenyum karena kemenangan Papa Dimitri di Piyik Bebas sudah lebih dulu mengamankan mahkota.
Bahkan kalau dihitung-hitung, mereka tetap pulang dengan membawa cerita yang luar biasa:
menang, foto, pegang tongkat, lalu hasil diralat—namanya juga Piala Raja, dramanya lengkap! 😄
Lima Besar Hanging
🥇 Cinderella — Team HDL — Surabaya — LY
🥈 Putra Papua — Team Punto — Jakarta — LSJ
🥉 Putra Madura — Rizky Zaidan — Pamekasan — Kanjeng Lora
Aruuna — H. Rian Sinar Putra Group — Pamekasan — Tak Nyana
Star Bomba — K’Ros BF / H. Suci — Surabaya — Grand
Hari pertama baru saja selesai.
Papa Dimitri sudah membawa mahkota Piyek Bebas. Haitam menguasai Piyek Junior. Cinderella menjadi Ratu Hanging.
Sementara Team Punto?
Sudah menang, sudah foto, sudah pegang tongkat, lalu kena plot twist—tetapi tetap pulang dengan senyum karena Papa Dimitri sudah lebih dulu mengamankan mahkota.
Inilah Piala Raja HB Cup 2026. Jogja Istimewa, perkututnya bersuara, jokinya berteriak, dan dramanya tidak kalah keras!
Golden Voice News — menyajikan hasil dan cerita lomba perkutut dari lapangan.















