
Mr. Widyaka Nusapati membuat aktivitas yang mengusik perhatian sebagian kungmania Nusantara. Bukan sekadar kembali menambah koleksi materi jawara, tapi kali ini langkah yang diambil jauh lebih serius. Sebanyak 60 petak kandang ternak di Rumah Khayangan Depok disiapkan untuk menggarap proyek breeding dengan pola yang lebih terarah, terukur, dan memiliki target jangka panjang. Dan yang serunya, ketika memutuskan untuk kembali “ngulik trah darah” . Mr. Widyaka Nusapati langsung meng take over sepaket idukan wat revolusi. Burung bergelang Naura ini digeser ke Depok sebagai langkah awal untuk membenahi faktor mental anakan di farmnya. Meski banyak yang mencibir langkah ini, mereka tidak mengerti kenapa pilihan harus ke revolusi.
Bagi sebagian kungmania, nama Mr. Widyaka Nusapati mungkin terdengar asing. Karena di kalangan penghobi perkutut, sosok ini jauh lebih dikenal dan familier dengan nama Nunu Pesona Depok. Ya, Mr. Widyaka Nusapati dan Nunu Pesona Depok adalah satu sosok yang sama. Nunu merupakan nama yang selama ini lebih lekat dan akrab di telinga kungmania.
Kembalinya Mr Nunu ke dunia ternak perkutut juga bukan sekadar nostalgia. Ia pernah serius menekuni hobi ternak sebelum kesibukan profesional membuat aktivitas tersebut harus dikesampingkan.
SEMPAT VAKUM KETIKA SIBUK DI PELINDO
Sekitar 2018, ketika kesibukan profesionalnya sebagai Direktur Keuangan Pelindo 2 semakin padat, perhatian Nunu terhadap hobi ternak perkutut ikut berkurang. Waktu dan energi lebih banyak tercurah untuk menjalankan tanggung jawab pekerjaan.
Kandang ternak yang sebelumnya menjadi salah satu tempat menyalurkan hobinya pun tidak lagi mendapatkan perhatian seperti sebelumnya.
Kini situasinya berbeda.
Ketika kesibukan mulai lebih longgar dan waktu untuk kembali menikmati hobi semakin terbuka, Pak Nunu kembali mengutak-atik kandang ternak. Kandang ditata kembali, konsep breeding mulai disusun, dan yang paling menarik, ia kembali rajin berburu indukan.
Satu demi satu, materi berkualitas mulai diburu. Namun kali ini bukan sekadar mengoleksi. Ada konsep yang ingin dibangun.
60 PETAK KANDANG, BABAK BARU DI RUMAH KHAYANGAN
Di Rumah Khayangan Depok, sebanyak 60 petak kandang ternak telah disiapkan.
Bagi Nunu, jumlah tersebut bukan sekadar angka. Puluhan kandang itu menjadi ruang untuk menjalankan proses breeding secara lebih terpola—mulai dari pemilihan indukan, penjodohan, pengamatan karakter, hingga evaluasi hasil turunan.
Pengalaman panjang sebagai kungmania lomba dan peternak menjadi modal penting.
Namun, ada satu prinsip yang tetap dipegang: teori breeding tetap relevan selama acuannya adalah galur dan karakter ternak.
Bukan sekadar memasangkan dua burung bagus, lalu berharap mendapatkan anakan bagus.
Bagi Mr. Nunu, setiap indukan harus dibaca. Garis keturunan, karakter suara, kualitas materi, hingga potensi yang mungkin diturunkan harus menjadi pertimbangan.
MEMPERKAYA LITERASI BREEDING, NGEREMPI BERJAM-JAM
Untuk memperkaya literasi breeding-nya, Nunu tidak hanya mengandalkan pengalaman pribadi. Ia justru senang berdiskusi, ngerumpi, dan bertukar pikiran berjam-jam dengan sejumlah peternak.
Baginya, dunia breeding terlalu luas untuk dipelajari sendirian. Setiap peternak memiliki pengalaman, formula, serta cara membaca materi yang berbeda-beda.
Salah satu sosok yang cukup sering diajak berdiskusi adalah Anang Teratai Semarang. Bahkan obrolan mereka bisa berlangsung lama, mulai dari membahas galur, karakter indukan, pola penjodohan, sampai bagaimana membaca potensi seekor burung.
mr Nunu merasa cocok berdiskusi dengan Anang Teratai karena memiliki pengalaman yang menurutnya menarik. Anang pernah memberikan materi yang secara harga tergolong “tidak mahal”, namun justru dari materi tersebut berhasil mencetak burung-burung bagus.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran tersendiri.
Bahwa breeding tidak selalu identik dengan mahalnya harga indukan. Materi dengan mahar tinggi memang memiliki nilai dan kualitas tersendiri, tetapi kemampuan membaca galur, karakter, serta potensi turunan sering kali justru menjadi pembeda.
Tak heran jika obrolan bersama Anang Teratai kemudian menjadi salah satu cara Mr Nunu memperkaya sudut pandangnya.
Kalau sudah bertemu, ngopi bisa berjam-jam, ngerempis bisa lupa waktu, dan topiknya hampir pasti kembali ke satu hal: bagaimana mencetak burung bagus.
BASIC IDALA BASUDEWO TP 12 MMC 2
Salah satu fondasi yang digunakan dalam proyek breeding ini adalah Basudewo TP 12 MMC 2.
Dari basic tersebut, Nunu kembali menguji keyakinannya terhadap teori breeding. Baginya, perkembangan zaman boleh berubah dan materi semakin beragam, tetapi prinsip dasar membaca galur dan karakter tidak boleh ditinggalkan.
Sebab breeding bukan sekadar permainan nama besar indukan.
Ada karakter yang harus dipadukan. Ada kelebihan yang ingin dipertahankan. Ada kekurangan yang harus ditutup. Dan ada imajinasi mengenai seperti apa generasi yang ingin dilahirkan.
TRAH ATLAS DAN HIN IKUT MASUK RADAR
Untuk memperkaya materi sekaligus memperkuat fondasi breeding, Nunu juga tidak hanya mengandalkan satu jalur darah. Trah legendaris Atlas dan HIN ikut dimasukkan dalam peta pengembangan ternaknya.
Langkah ini menunjukkan bahwa proyek Rumah Khayangan memang dirancang dengan cakupan materi yang cukup luas. Berbagai trah dengan karakter dan kekuatan masing-masing dikumpulkan, kemudian dipetakan sesuai kebutuhan breeding.
Bagi pk Nunu, semakin lengkap referensi darah yang dimiliki, semakin terbuka pula ruang untuk melakukan eksplorasi.
Namun, ia tidak ingin asal mencampur trah.
Galur dan karakter tetap menjadi kompas utama.
Trah Atlas dan HIN dan lainya diharapkan bisa menjadi tambahan amunisi untuk membangun kombinasi baru. Masing-masing materi akan dilihat berdasarkan karakter yang muncul dan potensi yang dimiliki, bukan semata-mata karena nama besar yang melekat pada trah tersebut.
Dengan masuknya Atlas, HIN, Basudewo TP 12 MMC 2, Revolusi, serta pejantan MLT, peta breeding Rumah Khayangan Depok semakin berwarna.
REVOLUSI & PEJANTAN MLT DIpadukan!
Gebrakan Nunu semakin panas ketika Revolusi dan pejantan MLT masuk dalam peta proyek breeding.
Revolusi dengan karakter iramanya menjadi salah satu materi yang menarik untuk dikembangkan. Sementara pejantan MLT membawa darah dan karakter tersendiri yang membuka peluang untuk menghasilkan kombinasi baru.
Nunu tampaknya tidak sekadar mengejar label jawara. Ia lebih tertarik pada bagaimana karakter dan galur masing-masing materi dapat dipadukan untuk menghasilkan generasi yang lebih komplet.
Targetnya bukan hanya menghasilkan anak dari jawara, tetapi juga bagaimana proses tersebut mampu melahirkan jawara generasi berikutnya.
Di sinilah proyek Rumah Khayangan menjadi menarik untuk disimak.
TELINGA, RASA, DAN IMAJINASI MULAI BERBUAH
Menariknya, hasil dari pola breeding yang mulai dijalankan tersebut perlahan mulai terpantau.
Perpaduan telinga, rasa, dan imajinasi Nunu dalam membaca materi ternak mulai menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Beberapa hasil ternak mulai terlihat maknyus, memperlihatkan potensi dan karakter yang membuat sang pemilik semakin optimistis.
Telinga untuk menangkap kualitas suara.
Rasa untuk membaca apakah sebuah materi memiliki sesuatu yang istimewa.
Dan imajinasi untuk membayangkan, “Kalau materi ini dipadukan dengan itu, bakal jadi seperti apa?”
Tiga hal tersebut kini menjadi bagian dari permainan mr Nunu dalam membangun breeding.
Namun, hasil yang mulai bagus itu tidak langsung dilempar ke arena.
Sejumlah materi yang dianggap memiliki prospek sedang “disekolahkan” kepada perawat lawas, Mas Bilah.
Di tangan perawat berpengalaman tersebut, burung-burung muda itu menjalani proses pematangan. Potensi yang terlihat sejak awal diharapkan bisa dipoles hingga benar-benar siap ketika waktunya turun ke lapangan.
COMEBACK BUKAN SEKADAR HOBI
mr Nunu sendiri sejatinya tetap memiliki kecintaan besar terhadap lomba. Kiprahnya di dunia perkutut sudah dimulai sejak era akhir 1990-an hingga 2000-an. Setelah sempat vakum, ia kembali aktif dalam setahun terakhir.
Sejumlah burung siap lomba yang pernah moncer masih menjadi koleksinya, sebagian disimpan di Jakarta dan sebagian lainnya di Jawa Timur.
Namun kini ada satu permainan baru yang sedang dibangun:
Breeding.
Dan di balik semua itu, Nunu membawa satu keyakinan:
Breeding tidak boleh sekadar mengandalkan keberuntungan. Galur harus dibaca, karakter harus dipahami, kemudian telinga, rasa, dan imajinasi menentukan ke mana arah sebuah materi akan dibawa.
Jika materi-materi yang kini sedang “disekolahkan” bersama Mas Bilah nantinya benar-benar mampu menunjukkan kelasnya di lapangan, maka comeback Nunu bukan lagi sekadar kembalinya seorang kungmania lama ke dunia ternak.
Ini adalah babak baru Mr. Widyaka Nusapati alias Nunu Pesona Depok.
Dan dengan Revolusi serta pejantan MLT ikut bermain dalam skema tersebut, kungmania Nusantara jelas punya alasan untuk menunggu.
Seberapa panas hasil racikan Nunu ketika akhirnya benar-benar turun ke gelanggang? tetap bersama web site lucu lucuan kung mania indonesia





