Liga Pantura Seri 2 yang berlangsung di Lapangan Binamarga Batang sukses menjadi magnet bagi pecinta perkutut (kung mania) lintas daerah. Di bawah komando Pengda Batang, ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari gerakan besar kebangkitan hobi perkutut yang kini mulai merata di berbagai daerah.
Liga ini merupakan implementasi nyata dari hasil Rakerwil Jateng 2026 yang menyepakati pentingnya kompetisi berjenjang untuk menjaga gairah dan kualitas hobi. Dampaknya mulai terasa: jumlah peserta meningkat, kualitas burung semakin kompetitif, dan interaksi antar-pengda semakin intens.
Liga Pantura: Kolaborasi Lima Pengda
Liga Pantura sendiri merupakan gagasan kolaboratif lima pengda: Brebes, Tegal, Pekalongan, Pemalang, dan Batang. Meski untuk wilayah Tegal masih bersifat tentatif, semangat kebersamaan tetap terjaga.
Salah satu juri senior yang juga dikenal sebagai penggagas konsep liga, Mas Slamet, menegaskan bahwa Liga Pantura bukan sekadar kompetisi:
“Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita menjaga ekosistem hobi perkutut tetap hidup dan berkembang. Liga ini adalah wadah konsistensi.”
Dukungan Sponsor: Dari Peternak hingga Penghobi Nasional
Yang menarik, Liga Pantura tidak hanya ditopang oleh pengda, tetapi juga mendapat dukungan luas dari para peternak dan penghobi. Sponsor datang dari berbagai lini, baik internal pengda maupun luar daerah.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Agil dari Liga BF Cirebon, yang dikenal dermawan dalam mendukung kegiatan kung mania. Dalam seri ini, ia menghadirkan kejutan berupa hadiah sepeda listrik untuk peserta.
Langkah ini dinilai bukan hanya sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga sebagai simbol adaptasi terhadap kondisi global.
Di tengah isu krisis energi akibat konflik Timur Tengah, hadiah sepeda listrik menjadi pesan bahwa komunitas juga bisa berpikir maju dan adaptif.
Apresiasi dari Tuan Rumah
Ketua Pengda Batang, H. Dul “Nova BF’, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat:
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh kung mania yang telah hadir dan berpartisipasi, baik dari dalam maupun luar daerah. Apresiasi setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada sponsor utama maupun sponsor pendukung yang telah membantu terselenggaranya Liga Pantura Seri 2 ini.”
Ia juga secara khusus menyoroti kontribusi dari rekan-rekan Semarang:
“Terima kasih kepada Atlas BF dan Teratai BF Semarang. Kehadiran Pak Henry Atlas dan Anang Teratai, meskipun hanya dua peserta, namun dengan membawa sekitar 20 ekor burung, rasanya seperti menghadirkan lima kung mania sekaligus dari Semarang.”
Atmosfer Kompetisi: Ketat, Namun Penuh Kekeluargaan
Di arena gantangan, persaingan berlangsung ketat. Burung-burung terbaik dari berbagai daerah menunjukkan performa maksimal. Namun, di balik itu, nuansa kekeluargaan tetap terasa kuat—ciri khas komunitas perkutut yang sulit tergantikan.
Liga Pantura kini mulai menunjukkan identitasnya sebagai liga daerah yang serius namun tetap membumi.
Kelas Utama Piyek Bebas: Duel Ketat, Elvis Unggul Tipis atas Putra Maros.
Kelas utama Piyek Bebas pada gelaran Liga Pantura Seri 2 benar-benar menyuguhkan pertarungan panas yang menjadi pusat perhatian kung mania pagi itu. Duel sengit terjadi antara burung di kerekan nomor 43 ELVIS milik H. Umar (Majalengka) dan kerekan nomor 70 PUTRA MAROS milik H. Abu SNO (Makassar).
Sejak awal babak, keduanya tampil dalam ritme permainan yang hampir berimbang. Bahkan hingga akhir penilaian rehat waktu, kedua burung sama-sama mengoleksi nilai 3 warna dalam dua babak, menandakan kualitas yang benar-benar selevel di atas gantangan.
Elvis: Unggul Tipis, Menang Kualitas Kerja
Meski secara angka terlihat imbang, Elvis menunjukkan keunggulan pada aspek baking nilai. Burung ini mampu menambah poin krusial berupa 3 warna tambahan serta dua warna hitam yang menjadi pembeda signifikan dalam sistem penilaian berjenjang 4 babak dengan 2 babak utama sebagai poin krusial.
Performa Elvis dinilai lebih stabil dan konsisten dari awal hingga akhir babak. Memang sudah wajar menjadi yang terbaik. Melawan burung gacor itu tidak hanya mengandalkan suara bagus, tetapi juga intensitas bunyi menjadi poin penting untuk bisa menyandang podium terbaik.
Putra Maros: Kualitas Suara Istimewa, Tapi…
Di sisi lain, Putra Maros sebenarnya tampil sangat meyakinkan dari segi mutu suara. Karakter vokalnya dinilai istimewa dan berkelas, bahkan beberapa pengamat menyebutnya sebagai salah satu yang terbaik di kelas ini.
Namun, satu catatan penting menjadi pembeda:
Kuantitas bunyi masih belum maksimal.
Dalam beberapa fase babak, Putra Maros terlihat kurang aktif, sehingga kehilangan peluang menambah poin. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi tim H. Abu SNO untuk meningkatkan konsistensi frekuensi bunyi di laga berikutnya.
Dewa Guci: Kuda Hitam yang Sempat Menggebrak
Kejutan hadir dari kerekan nomor 68 DEWA GUCI milik Mirza (Tegal), yang sukses merebut posisi juara ketiga.
Burung ini sempat leading di 10 menit awal, menunjukkan potensi besar dan keberanian tampil di depan. Namun, faktor usia yang masih muda—baru naik dari kelas piyek—membuat performanya belum stabil.
Setelah start gemilang, Dewa Guci sempat mengalami penurunan intensitas dan lebih banyak diam di tengah babak. Meski begitu, menjelang babak ke-4 berakhir, burung ini kembali menunjukkan kerja cukup untuk mengamankan posisi di tiga besar.

Piyek Yunior: Banyak Prospek Hebat, Tapi “Kerja” Jadi Penentu Kemenangan
Kelas Piyek Yunior pada gelaran Liga Pantura Seri 2 Michaela Cup Batang menghadirkan dinamika yang berbeda dibandingkan dengan kelas utama. Jika di kelas PIYEK BEBAS pertarungan berlangsung ketat dan stabil, maka di kelas yunior justru diwarnai oleh banyak burung prospek yang belum maksimal dalam kerja.
Sejak awal gantangan, terlihat sejumlah burung memiliki kualitas dasar yang menjanjikan—baik dari irama maupun karakter suara. Namun, persoalan klasik kembali muncul: kuantitas bunyi yang belum stabil.
Jalannya Lomba: Naik-Turun, Minim Konsistensi
Memasuki 10 menit awal, beberapa burung sempat menunjukkan potensi dengan membuka kerja lebih dulu. Namun, memasuki pertengahan babak, ritme mulai tidak stabil. Banyak burung yang:
- Sempat tampil bagus di awal, lalu turun intensitas
- Terlalu lama diam di tengah babak
- Baru kembali kerja saat mendekati akhir penilaian
Kondisi ini membuat jalannya lomba terasa “naik-turun” dan tidak ada dominasi mutlak dari satu burung.
Komentar Juri: Banyak Calon Naik Kelas
Koordinator juri, Mas Slamet, memberikan pandangan menarik terkait kualitas peserta di kelas ini:
“Sebenarnya banyak burung yang prospek naik ke level 3 warna, seperti di kerekan 8 dan kerekan 7. Secara materi suara sudah ada, tinggal dimatangkan saja.”
Namun, ia menegaskan bahwa faktor utama yang masih menjadi penghambat adalah:
“Kuantitas bunyi. Ini yang sering jadi pembeda: “KENAPA BURUNG BAGUS TIDAK SELALU MENANG?”
Artinya, meskipun kualitas suara sudah memenuhi standar, tanpa didukung intensitas kerja yang konsisten, poin maksimal sulit diraih.
Peta Juara: Yang Stabil yang Bertahan
Di tengah kondisi lomba yang fluktuatif, burung-burung yang mampu menjaga ritme kerja paling stabil akhirnya berhasil mengisi posisi juara.
Juara pertama diraih oleh Tirto Moyo milik Rohadi (Brebes), yang tampil relatif lebih konsisten dibandingkan dengan pesaing lainnya. Disusul Daud, milik RKN, dan Basmana, milik Wawan Basmana, yang juga mampu menjaga performa hingga akhir babak.
Sementara itu, beberapa burung unggulan seperti di kerekan 8 dan kerekan 7 harus puas belum maksimal, meski secara kualitas digadang-gadang sebagai prospek masa depan.
Kelas Piyek Hanging : Santapi Mengamuk, Dominasi Cirebon Tak Terbendung.
Liga Pantura Seri 2 Michaela Cup Batang benar-benar menghadirkan peta persaingan yang tajam. Selain kelas piyek bebas, persaingan juga terjadi di kelas piyek yunior. Ini tidak hanya soal kualitas burung, tetapi juga adu strategi antarkandang besar yang mulai menunjukkan dominasi wilayah.
Sorotan utama tertuju pada Santapi milik Agil Marsono (Cirebon) yang tampil tanpa kompromi dan sukses mengunci posisi juara pertama dengan torehan poin sempurna.

Santapi: superior di antara tetangganya.
Sejak awal gantung, Santapi langsung menunjukkan kelasnya. Irama stabil, tekanan jalan, serta durasi bunyi yang rapat membuatnya unggul jauh dari pesaing.
Dengan poin 100, Santapi praktis tidak memberi ruang bagi kompetitor untuk mengejar. Penampilannya disebut-sebut sebagai salah satu yang paling solid sepanjang gelaran Liga Pantura musim ini.
Cirebon Menggila: Double Strike di Papan Atas
Dominasi Cirebon tidak berhenti di Santapi. Posisi kedua dan ketiga juga diamankan oleh:
- Jambrut Bahari (Wawan – Cirebon) – 90 poin
- Cubung Bahari (Wawan – Cirebon) – 80 poin
Hasil ini menegaskan bahwa kandang-kandang peternak kutut di Cirebon sedang berada di puncak performa, baik dari sisi kualitas materi burung maupun kesiapan turun di lapangan.
Di tengah dominasi Cirebon, konglomerat milik Ali OTL (Pemalang) mencoba memberikan perlawanan dengan menempati posisi keempat (70 poin).
Meski belum mampu menembus tiga besar, performanya cukup stabil dan menunjukkan bahwa kubu Pantura masih memiliki daya saing untuk mengimbangi kekuatan luar daerah.
Tuan Rumah Bertahan: Konsistensi Mbah Doel
Dari kubu tuan rumah Batang, nama Michaela dan Linda Lisa milik Mbah Doel tampil cukup konsisten di papan tengah.
Meski belum mampu bersaing di posisi puncak, performa keduanya menunjukkan kestabilan yang bisa menjadi modal kuat untuk seri-seri berikutnya. Bagaimanapun, kemenangan ini mengobati dahaga capek Mbah Dul dan tim dalam menyiapkan seri 2 Liga Pantura.

Team Teratai Bird farm Semarang bawa 5 tropi.
Konsistensi tim kembali dibuktikan oleh Tim Golden Voice Teratai dalam gelaran Liga Pantura Seri 2 Michaela Cup Batang. Meski belum berhasil menempatkan jagoannya di posisi puncak, tim ini justru tampil impresif dengan memborong 5 piala dari 7 burung yang diturunkan.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan tim tidak hanya bergantung pada satu bintang, tetapi pada kedalaman materi dan kestabilan performa secara keseluruhan.


“Besi Ditempel Stiker”.

Dengan gaya khasnya, Anang Teratai menyampaikan rasa puas atas hasil yang diraih timnya:
“Kami memang belum bisa juara satu, tapi dari 7 burung bisa bawa pulang 5 ‘besi ditempel stiker’, itu sudah sangat kami syukuri.”
Istilah tersebut menggambarkan filosofi sederhana namun penuh makna di kalangan kung mania—bahwa setiap piala adalah hasil kerja keras yang patut dihargai.
Perawatan Jadi Kunci Utama
Menurut Anang, keberhasilan timnya tidak lepas dari faktor paling mendasar dalam dunia perkutut:
Perawatan dan kondisi burung.
Ia menegaskan bahwa burung yang turun lomba harus dalam kondisi fit secara fisik dan mental, karena sekecil apa pun penurunan performa akan sangat berpengaruh di gantangan. Pemakaian jamu Bangkok herbal Check out disini dan pakan banyak berpengaruh.
Pakan: Tidak Semua Cocok, Harus Tepat Karakter
Selain perawatan, Anang juga menyoroti pentingnya pemilihan pakan yang sesuai dengan karakter burung:
“Pemakaian pakan juga jadi faktor penentu. Tidak semua burung cocok dengan racikan yang kita buat sendiri.”
Karena itu, dirinya memilih menggunakan pakan jadi yang sudah teruji:
“Saya pakai pakan perkutut golden voice karena karakternya cocok dengan beberapa burung yang saya lombakan.”


