Liga Jogja Istimewa Seri 2 bertajuk Phoenix Cup sukses menghadirkan atmosfer kompetisi yang hangat sekaligus penuh gengsi. Bertempat di lapangan Pengda Kulon Progo di kawasan Pasar Hewan, event ini tak sekadar menjadi arena adu kualitas burung perkutut, tetapi juga momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antarkungmania pasca perayaan Lebaran.
Sejak pagi hari, peserta dari berbagai daerah mulai memadati lokasi. Nuansa halal bi halal alan ngayogjokarto terasa kental, dengan para penghobi yang saling bersalaman, berbagi cerita, sekaligus mempersiapkan gacoannya untuk tampil maksimal di gantangan. Meski bersifat kompetitif, aura kekeluargaan tetap menjadi warna utama dalam gelaran kali ini.
Kehadiran Ketua Pengwil, Bapak Susri, menjadi perhatian tersendiri. Ia secara langsung meninjau jalannya perlombaan sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai standar penilaian yang berlaku. Ditambah lagi, dukungan sponsor baru dari pakan burung Phoenix memberikan energi positif bagi perkembangan liga ke depan.
Dalam keterangannya, Bpk. Susri menyampaikan:
“Pelaksanaan Liga Jogya Istimewa Seri 2 ini berjalan sangat baik, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Kami melihat ANTUSIASME peserta tetap tinggi meski masih dalam suasana Lebaran. Ini menunjukkan bahwa perkutut bukan sekadar hobi, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya silaturahmi yang terus terjaga.”
Sementara itu, Ketua Pengda Kulon Progo, Bpk. Arif Sadewa BF juga memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Ia menekankan kualitas teknis dan kesiapan panitia lokal dalam mengemas event berskala liga:
“Kami berupaya menghadirkan lomba yang tidak hanya ramai peserta, tetapi juga berkualitas dari sisi penilaian dan kenyamanan gantangan. Liga Jogja Istimewa ini menjadi barometer penting bagi pemain lokal untuk mengukur performa burungnya sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi.”
Secara keseluruhan, Phoenix Cup menjadi bukti bahwa Liga Jogja Istimewa terus berkembang, baik dari sisi peserta, kualitas burung, maupun kemasan event. Kombinasi antara persaingan ketat dan nuansa kekeluargaan menjadikan gelaran ini tidak hanya dinanti, tetapi juga dirindukan oleh para kung mania di berbagai daerah.
Tak hanya menjadi ajang halal bi halal pasca Lebaran, tetapi juga menyajikan pertarungan sengit di kelas Dewasa/LPJI. Atmosfer kekeluargaan yang terasa sejak pagi perlahan berubah menjadi tensi kompetisi tinggi seiring dimulainya penilaian di gantangan.
Para peserta yang datang dari berbagai daerah tampil dengan persiapan matang. Burung-burung terbaik diturunkan, menghasilkan kualitas suara yang relatif merata dan membuat persaingan berjalan sangat ketat hingga akhir sesi.

Kelas Dewasa : Produk Batu Sangkar makin terdepan.
Persaingan Liga Jogja istimewa terlihat tidak terlalu ketat. Burung bernama ALI BABA milik PM Suyanto dari Jogja dengan mudah mengalahkan rivalnya. Penampilan Ali Baba yang dijoki langsung duet Big Brother atopik Amin terlihat terlalu perkasa untuk dikalahkan. Kodisi demikian memudahkan juri dalam memilih siapa pemenangnya.
Di posisi runner-up diraih PANGLIMA milik BMS dari Kebumen. Meski sempat memberikan perlawanan sengit, sepanjang penilaian burung ini susah menempel pada perolehan nilai Alibaba. Sementara itu, posisi ketiga diamankan oleh HARBIN KALADY milik H. Budi Kalady dari Bantul yang tampil impresif dengan karakter suara yang kuat dan stabil.
Persaingan tidak berhenti di tiga besar. Nama-nama seperti DISTROYER, PEGASUS, hingga PECCO BAGNAIA milik Bapak Agus Samirono bf, di mana beliau sering belanja pakan Golden Voice Superman guna menjaga kesinambungan gizi perkutut di kandang ternaknya, pakan Superman free ongkir . Sementara UNICORN dan AGUNG SEDAYU juga menunjukkan potensi besar meski harus puas di posisi sepuluh besar. Selisih performa yang tipis di antara peserta menjadi bukti bahwa kualitas burung yang turun di seri ini benar-benar merata.

Kelas Piyek Yunior: Bintang Baru Bersinar, Regenerasi produk Jogja Mulai Terlihat
Persaingan di kelas Piyek Yunior pada gelaran Phoenix Cup – Liga Jogja Istimewa Seri 2 menjadi salah satu tontonan paling menarik. Meski dihuni burung-burung muda, kualitas yang ditampilkan tidak bisa dipandang sebelah mata. Justru di kelas inilah terlihat jelas bibit-bibit unggul yang siap menjadi bintang masa depan.
Posisi puncak berhasil diamankan oleh BINTANG BARU milik H. Prabukusumo dari Jogja. Sesuai namanya, burung ini benar-benar tampil mencuri perhatian dengan performa stabil dan materi suara yang sudah terbentuk rapi. Dari awal hingga akhir penilaian, BINTANG BARU mampu membuktikan bahwa peternak jojga masih ada.
Perlawanan sengit datang dari BOY JUNIOR milik YIA BF Kulon Progo yang tampil penuh percaya diri di kandang sendiri. Dukungan lokal seolah menjadi energi tambahan, membuatnya terus menempel ketat hingga akhir penilaian. Sementara itu, posisi ketiga ditempati BASUDEWA milik Eddy Fes dari Bantul yang menunjukkan kualitas suara matang dan prospek besar ke depan.
Di posisi berikutnya, nama-nama seperti EKOBAR, DEMANG JODOG, dan TRI SWARA turut meramaikan papan atas dengan performa yang relatif berimbang. Bahkan VLADIMIR PUTIN dan PUJI juga sempat mencuri perhatian lewat karakter suara khas masing-masing, meski harus puas di papan tengah.
Kelas ini semakin menarik karena selisih kualitas antarpeserta sangat tipis. Hal ini menunjukkan bahwa regenerasi perkutut di wilayah Jogja dan sekitarnya berjalan dengan sangat baik. Para pemain muda maupun senior tampak serius dalam mempersiapkan amunisinya sejak dini.


Kelas Piyek Hanging: Kidang Mas Bersinar, Duel Adu Kuat Sesama jagoan Kulonprogo.
Kelas Piyek Hanging dalam gelaran Liga Jogja Istimewa Seri 2 menghadirkan pertarungan yang tak kalah seru dibanding kelas lainnya. Justru di kelas ini, tensi persaingan terasa lebih dinamis dengan banyaknya burung muda yang tampil eksplosif dan berani menunjukkan karakter suara sejak awal penilaian.
Posisi puncak berhasil direbut oleh KIDANG MAS milik Bisri dari Kulon Progo. Tampil di kandang sendiri, burung ini menunjukkan performa yang sangat stabil dengan alunan suara yang bersih dan ritme terjaga. Konsistensinya sejak awal hingga akhir menjadi pembeda utama di tengah ketatnya persaingan.
Menempel di posisi kedua, KUROMI milik YIA BF juga dari Kulon Progo tak kalah impresif. Duel sesama tuan rumah ini menjadi sorotan karena keduanya saling mengejar poin sepanjang sesi penilaian. KUROMI tampil dengan gaya suara yang atraktif dan sempat memberikan tekanan serius kepada pemuncak klasemen.

Sementara itu, posisi ketiga diamankan oleh KRISNA milik Sunyoto dari Bantul yang tampil solid dengan karakter suara kuat dan stabil. Meski harus bersaing dengan dominasi tuan rumah, KRISNA mampu mencuri perhatian juri lewat performa yang konsisten.
Persaingan di papan tengah juga berlangsung ketat. Nama-nama seperti JAMES BOND, SONGGO PITU, dan WISKAS terus menjaga peluang dengan performa yang tidak terpaut jauh. Bahkan JANGKAR BUMI hingga PARANGTRITIS menunjukkan potensi besar meski harus puas di posisi sepuluh besar.
Kelas ini menjadi bukti bahwa kualitas piyek hanging semakin merata. Karakter suara mulai terbentuk sejak dini dan keberanian tampil menjadi nilai lebih yang menentukan. Selain itu, dominasi peserta lokal Kulon Progo juga memperlihatkan bahwa pembinaan di daerah ini berjalan sangat baik, tinggal mengasah mental saja, jelas Mas Kawit. nantikan berita klasement liga jogja istimewa 2026 di web site www.goldenvoicenews.com(foto: mas kawit/kurniawan)



