Suasana hobi perkutut di wilayah Pantura mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Kung mania dari Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan hingga Batang mulai kembali merapat, berkumpul dan saling mengukur kualitas burung.
Lomba Ladini Brebes, Sabtu, 3 Oktober 2026, menjadi salah satu momentum untuk menyegarkan kembali suasana hobi perkutut di wilayah Pantura.
Event ini bukan sekadar lomba mengejar piala. Ladini Brebes juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus pemanasan sebelum agenda yang lebih besar, yaitu Liga Pantura.
Menurut Slamet Jostt, yang ikut menjadi “seksi sibuk sekaligus seksi ruwet” wilayah Pantura, kegiatan seperti ini sangat penting untuk membuka ruang bagi munculnya kung mania baru.
Harapannya, Ladini Brebes mampu menjadi batu loncatan munculnya kung mania baru di wilayah Pantura.
Apalagi, tiket yang ditawarkan sangat bersahabat, hanya Rp100 ribu untuk tiga ekor. Formula sederhana tetapi jitu: biaya ringan, pemain baru berani turun, lapangan menjadi ramai.
Dan benar saja.
Kung mania pemula mulai berdatangan. Bahkan kejutan langsung terjadi di kelas Piyik Bebas, ketika Mas Wiwit dari Brebes, yang disebut sebagai kung mania anyar, berhasil membawa Bintang Pantura menjadi juara pertama.
Kalau biasanya pemain baru datang untuk belajar, Wiwit justru datang sambil membawa piala.
Pantura: “Selamat datang, pemain baru!”
Wiwit: “Terima kasih, saya langsung naik podium!”
LIMA BESAR PIYIK BEBAS: BINTANG PANTURA BERSINAR
Kelas Piyik Bebas menjadi salah satu cerita paling menarik di Ladini Brebes.
Bintang Pantura milik Wiwit, Brebes, berhasil merebut posisi pertama.
Lima besar Piyik Bebas:
- Bintang Pantura – Wiwit – Brebes
- Brayen – Ikmal – Pemalang
- Cengho – Wiwit – Brebes
- Arinda – Toto – Pemalang
- Carlos – Ikmal – Pemalang
Kemenangan Bintang Pantura sekaligus memperlihatkan bahwa arena Pantura mulai membuka pintu lebar-lebar untuk pemain anyar.
Wiwit tidak hanya juara melalui Bintang Pantura. Namanya kembali muncul di papan atas melalui Cengho.
Ini baru namanya pemain baru yang bikin pemain lama mulai melirik papan klasemen!
PIYIK YUNIOR: ZIPPO IKUT UNJUK GIGI
Di kelas Piyik Yunior, giliran Zippo milik Ikmal dari Pemalang yang menguasai posisi teratas.
Lima besar Piyik Yunior:
- Zippo – Ikmal – Pemalang – Pelopor
- Senopati – H. Titoti – Pemalang – AF
- Jaguar – Wiwit – Brebes – TMC
- Domba – H. Zamponi – Brebes – MDR
- Jaya Raya – Dwik – Malang – Saskia
Ikmal berhasil membawa Zippo ke posisi puncak, sementara Wiwit kembali mencuri perhatian melalui Jaguar di posisi ketiga.
Dengan demikian, nama Wiwit terus muncul di tiga besar.
Kalau begini terus, bukan tidak mungkin setelah Ladini Brebes muncul istilah baru:
“Wiwit Effect.”
HANGING: PEKALONGAN DAN BREBES SAMA-SAMA PANAS
Kelas Hanging juga tidak kalah seru.
Siska milik AHD.F dari Pekalongan berhasil menduduki posisi pertama.
Lima besar Hanging:
- Siska – AHD.F – Pekalongan – Saskia
- Nemu – Budi – Pekalongan – BWN
- Gento – Wiwit – Brebes – Langkap
- Elok – Wiwit – Brebes – JCA
- Dioglas – Basic Dade – Cirebon – BDS
Dua posisi teratas dikuasai kung mania Pekalongan. Namun, Brebes tidak mau kalah dengan menempatkan dua burung Wiwit di posisi ketiga dan keempat.
Artinya, persaingan antarkota di jalur Pantura mulai terasa.
Brebes panas, Pemalang ikut bergerak, Pekalongan merapat, Tegal dan Batang tinggal menunggu aba-aba.
LADINI BREBES, PEMANASAN MENUJU LIGA PANTURA
Ladini Brebes menjadi bagian dari ikhtiar untuk kembali meramaikan hobi perkutut di kawasan Pantura.
Wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang memiliki basis kung mania yang cukup potensial. Karena itu, kegiatan lomba yang memberi kesempatan kepada pemain baru menjadi penting untuk menjaga regenerasi.
Harga tiket Rp100 ribu untuk tiga ekor menjadi salah satu daya tarik. Pemain pemula tidak terlalu terbebani untuk mencoba.
Dari sinilah suasana baru mulai terbentuk.
Yang sebelumnya hanya melihat lomba, mulai berani ikut menggantung.
Yang sebelumnya hanya punya satu burung mulai berpikir untuk menambah materi.
Dan yang sebelumnya belum pernah naik podium, sekarang mulai punya alasan untuk berkata:
“Seri berikutnya saya turun lagi!”
MENUNGGU PEMBUKAAN LAPANGAN BARU BREBES 25 OKTOBER
Geliat Ladini Brebes juga menjadi bagian dari rangkaian menuju pembukaan lapangan baru di Brebes pada 25 Oktober 2026.
Menurut Slamet Jostt, geliat seperti ini diharapkan menjadi pemicu semakin banyaknya kung mania baru di kawasan Pantura.
Semakin banyak lapangan, semakin banyak kesempatan.
Semakin banyak kesempatan, semakin besar peluang munculnya pemain-pemain baru.
Dan kalau pemain baru sudah mulai berani turun, jangan kaget kalau podium lomba berikutnya mulai dihiasi nama-nama yang sebelumnya belum pernah terdengar.
Ladini Brebes bisa menjadi salah satu titik awalnya.
PAKAN GOLDEN VOICE IKUT MENDUKUNG GEBYAR PANTURA
Selain persaingan di lapangan, urusan rawatan dan pakan tentu menjadi bagian penting dalam dunia perkutut.
Pakan Perkutut Golden Voice Superman mendukung geliat hobi perkutut dan menjadi bagian dari informasi yang dekat dengan kebutuhan kung mania.
Dalam persiapan lomba, burung tentu tidak bisa dipersiapkan secara mendadak. Pola perawatan dan pemberian pakan menjadi bagian dari rutinitas penghobi agar burung memiliki kondisi yang diharapkan ketika masuk arena.
Karena lomba sudah dekat, baru sibuk mencari rawatan; itu bukan persiapan.
Itu namanya baru sadar besok mau lomba!

GOLDEN VOICE NEWS, MEREKAM GEJOLAK HOBI PERKUTUT PANTURA
Berbagai cerita seperti Ladini Brebes menjadi bagian dari dinamika hobi perkutut yang menarik untuk didokumentasikan.
Melalui www.goldenvoicenews.com, informasi lomba, daftar juara, profil kung mania, perkembangan lapangan, hingga berbagai cerita menarik dari arena perkutut terus mendapat ruang untuk diberitakan.
Karena setiap lomba selalu punya cerita.
Ada yang datang membawa target juara.
Ada yang datang mencari pengalaman.
Ada yang datang membawa burung baru.
Dan ada juga yang pulang sambil berkata:
“Belum sekarang. Tunggu seri berikutnya!”
Itulah warna-warni hobi perkutut.
Dari Ladini Brebes, mesin Pantura mulai kembali dipanaskan. Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang perlahan kembali merapat.
Dan kalau mesin sudah panas, tinggal menunggu satu pertanyaan:
Siapa yang bakal meledak di Liga Pantura?




