Kebumen, 29 Maret 2026 — Liga Jasela yang biasanya berjalan tenang tiba-tiba berubah menjadi panggung unjuk kualitas burung-burung asal Depok. Nama Heru WI langsung jadi sorotan, bahkan “tertuduh” sebagai biang panasnya arena di lapangan BMS. Duet mautnya—SRIKANDI di kelas Piyek Bebas dan MAHESA di kelas Hanging—tampil tanpa ampun, menggulung lawan-lawan yang sebelumnya sempat percaya diri usai meraih hasil bagus di seri pertama. Dua trofi juara 1 sekaligus bukan sekadar kemenangan, melainkan pernyataan dominasi kuat dari tim Depok.
Meski harus mengakui kualitas burung besutan Heru WI, tim Kebumen yang diwakili Pak Doso justru menyikapi hasil ini dengan positif. Ia menilai kekuatan Depok menjadi “tamparan sehat” agar tim lokal tidak terlena dengan pencapaian sebelumnya. “Ini jadi pengingat bagi kami untuk tidak cepat puas. Justru harus terus berbenah, baik dalam mencari maupun mencetak perkutut dengan kualitas yang lebih baik,” ujarnya.
PIYEK BEBAS: SRIKANDI NAIKAN NAMA H.NUNU

Kelas Piyek Bebas di Liga Jasela Seri 2 benar-benar jadi panggung panas. Aroma persaingan terasa begitu peluit ditiUp. Ini adu gengsi lintas kota! Bukan hanya persaingan antarkecamatan!
🔥 SRIKANDI milik H. Nunu/Heru WI – Depok yang dikerek di gantangan No. 10 tampil percaya diri. Burung yang memang bermental bandel seperti jokinya ini mampu berbunyi tanpa keder meski harus melakukan perjalanan darat 10 jam. Alhasil, setelah melalui penjurian selama 4 babak, burung ini dinobatkan sebagai kampiun dan berhak membawa pulang poin 150. Kemenangan Srikandi ini membawa kesenangan tersendiri bagi pemiliknya, H. Nunu Pesona, yang kebetulan di saat bersamaan jagoannya yang bertarung di Surabaya Mutiara Timur sukses meraih koncer tiga hitam sekaligus modal bagus ke LPI Caruban.
🥈 VENTURE (No. 65) milik Deni Dimlaw – Cilacap menempel ketat dengan 140 poin. Beberapa kali sempat bikin kubu Depok was-was, tapi akhirnya harus puas di posisi runner-up.
🥉 PANGLIMA (No. 59) milik BMS – Kebumen menjaga marwah tuan rumah dengan 130 poin. Dukungan publik Kebumen pun terasa mengangkat performanya sepanjang sesi.
Posisi empat diisi MISTERI SAMURAI (No. 70) – Lilik, Bantul dengan 120 poin. Sesuai namanya, tampil misterius tapi mematikan.
Di urutan lima, BISON (No. 74) – Prima BF, Kebumen mengunci 110 poin. Cukup untuk bertahan di papan atas.
Sementara itu:
- 6. SRI WIJAYA (No. 64) – AKC BF, Cilacap | 100 poin → main aman tapi konsisten
- 7. ONTOSENO (No. 54) – Marno, Purworejo | 90 poin → sesekali meledak, tapi belum stabil
- 8. BALIK MANING (No. 63) – Coan, Banyumas | 80 poin → sempat naik di tengah, lalu meredup
- 9. ARJUNA (No. 37) – DH Team, Wonosobo | 70 poin → karakter bagus, sayang kurang maksimal
- 10. PADMANABA (No. 172) – Eddy Fes, Sedayu DIY | 60 poin → berjuang keras di tengah tekanan
🎯 Secara keseluruhan, kelas Piyek Bebas kali ini jadi bukti bahwa peta kekuatan makin merata. Depok tampil menggila lewat SRIKANDI, tapi Cilacap, Kebumen, hingga Bantul tak tinggal diam.
Dan satu hal yang pasti—di balik performa burung-burung papan atas ini, racikan pakan dan settingan jelas jadi faktor krusial. Banyak pemain mulai melirik formulasi pakan yang bikin burung lebih stabil dan “jadi” gacor.
👉 Golden Voice kembali disebut-sebut di pinggir lapangan—bukan tanpa alasan. karena pakan ini memang memberikan pengaruh peforma perkutut, jadi tidak heran sudah banyak kung mania yang berganti memakai produk golden voice apalagi penjualan nya juga bisa lewat market place yang menawarkan bebas ongkir https://shopee.co.id/goldenvoice77?categoryId=100631&entryPoint=ShopByPDP&itemId=25421658011 free ongkir https://www.tiktok.com/@kios.perkutut.rak
Liga masih panjang. Tapi kalau kelas ini jadi patokan gengsi… siap-siap, seri berikutnya bakal lebih panas lagi. 🔥
PIYEK YUNIOR: SI PINANG BUKA PANAS, TEAM JIMAT TANCAP GAS

SI PINANG (No.122) milik TEAM JIMAT Ciamis tampil presisi dan stabil, mengunci 150 poin. Di belakangnya, GENDOWO (Sigit, Gombong) menekan dengan 140 poin, disusul ADIGANA (Asep KLT, Kebumen) dengan 130 poin.
Nama Sigit Gombong patut disorot—tiga amunisinya masuk 10 besar (GENDOWO, KUMBOKARNO, PANDOWO). Tuan rumah juga memberi perlawanan lewat SEJJIL dan MANSAMUSA (H. Sudarto), tapi belum cukup untuk meredam panasnya persaingan awal.
HANGING: MAHESA MENGAUM, KEJAM TANPA KOMPROMI

Puncaknya di kelas Hanging—dan di sinilah Heru WI benar-benar “menggila”. MAHESA (No.66) tampil buas: tarikan panjang, karakter tebal, stamina tak goyah. Hasilnya telak—150 poin.
Menariknya, TEAM JIMAT Ciamis mencoba mengepung lewat KEMBANG DESA (140), SATRIA (130), hingga JOKO TINGKIR (60). Tapi hari itu bukan milik mereka. Mahesa terlalu jauh di depan.
Nama lain seperti MADDISON (PLH BF) dan NAGA CALING (Gadel) tampil solid, namun tetap jadi bayang-bayang dominasi Depok.
Ketua Pengda BPK, H. Sudarto, menegaskan arah kompetisi yang kian keras:
“Kualitas burung jelas naik. Materi makin matang, terutama di kelas piyek. Tapi ke depan tidak ada ruang lengah—yang tidak siap akan tergilas.”
Dari kubu sponsor, BMS BF juga memberi sinyal kuat:
“Liga Jasela ini bukan sekadar lomba, ini barometer kualitas. Kami lihat langsung—levelnya naik. Ke depan kami dorong lebih besar lagi dan persaingan pasti makin tajam.”
SERI 3—TEMPAT YANG SAMA, DENDAM YANG BERBEDA
Hasil ini jelas meninggalkan jejak: Depok memukul keras, Kebumen terpancing bangkit, Ciamis menyiapkan balasan.
Dan kabar panasnya—Liga Jateng Gayeng Seri 3 akan kembali digelar di tempat yang sama.
Arena sudah dikenal, lawan sudah terbaca. Tinggal satu pertanyaan:
Masihkah Heru WI akan menggila… atau justru tuan rumah bangkit membalik keadaan? Pantau terus di website idola kung mania.


