El Zero Meido ”Pukul balik” Rodtang, Redbull “Mutung”.

 El Zero Meido Mempesona-Liga Jateng Gayeng Seri ke-2 yang digelar di Solo, Minggu, 15 Februari 2026, benar-benar menyuguhkan drama yang sulit dilupakan. Empat kelas terisi penuh. Antusiasme peserta meluap sampai perangkat kerekan pun kewalahan. Sempat terjadi error dan macet, yang membuat lomba harus tertunda beberapa saat. Penonton menunggu dengan gelisah, gantangan tetap riuh, aroma tensi sudah terasa bahkan sebelum babak dimulai.

Nama-nama besar saling adu mental, terutama di kelas dewasa. Banyak burung yang biasa tampil di Liga Perkutut Indonesia tak berlebihan jika banyak yang berbisik, “ini miniatur LPI.”

Suasana kelas demi kelas di Kota Solo memang berlangsung panas, tetapi ada satu momen yang justru memecah ketegangan. Saat kerekan sempat macet dan membuat panitia harus turun tangan, perhatian penonton beralih dari suara burung ke “aksi darurat” di tiang gantungan.

Salah satu peserta yang ikut menanggapi dengan santai adalah Anang Teratai. Dengan nada setengah bercanda, ia mengatakan kejadian itu sebenarnya memalukan bila dilihat dari sisi teknis penyelenggaraan. Namun, karena insiden serupa sudah beberapa kali terjadi di sini, situasinya malah berubah menjadi hiburan tersendiri bagi penonton.

“Sebetulnya ini memalukan, tapi karena sudah sering kejadian malah jadi lucu. Kapan lagi lihat atraksi orang manjat kerekan di tengah lomba,” ujarnya sambil tersenyum.

Candaan tersebut langsung disambut tawa para penghobi di sekitar gantangan. Ketegangan yang sebelumnya terasa akibat ketatnya persaingan pun sedikit mencair. Meski begitu, sebagian peserta tetap berharap ke depan peralatan bisa lebih siap sehingga jalannya lomba tetap lancar tanpa gangguan.

Momen kecil itu menjadi warna lain dari kerasnya pertarungan di arena: di balik ambisi mengejar poin, kebersamaan dan selera humor para penghobi tetap terjaga.Sebagian penonton sebelumnya membayangkan duel klasik antara Red Bull milik TS Jombang dan Donald Trump dari Team ALF. Perseteruannya keduanya diawali saat Ladinil Jombang minggu silam, namun skenario di lapangan berkata lain. Justru pertarungan sengit tersaji antara burung yang dirawat di bawah bendera perawat H. Kholil. Tiga amunisi andalan tim HDL tampil berbeda satu sama lain—karakter, irama, hingga tekanan suara—membuat tiap babak seperti “party”.

Memasuki babak ketiga, sorak sorai makin menjadi seluruh joki team saling berteriak kencang tapi tak sampai” “kesurupan” apalagi “kesetanan”, sebut saJa team punto dengan joki andalanya wasid dan iwan marlin, team alf dengan team sorak hore dibawah pemandu sorak yogi hdl dan team ts dipimpin langsung sang owner haji iwan, di blok sebelah team sorak agus tp h ribut membuat suasana makin menarik meski lebih banyak ngerokok ngopi namun sesekali suara ributnya terdengar juga saat burung andalanya legowo bernyanyi, team “segala medan” lomba primarasa juga aktif bersautan saat hanya team sorak Rodtang yang agak kalem mungkin karena temboloknya lebih kecil dari lainya. Hampir semua mata terpaku ke atas kerekan Red Bull. Banyak yang menunggu Red Bull membuka suara. Tetapi yang terjadi di luar dugaan, burung yang melabeli dirinya dengan konser 4 warna justru memilih diam menyaksikan koleganya bersahut-sahutan. Ada kejadian di luar prediksi bmkg Solo Raya: burung ini justru diturunkan di saat lomba masih menyisakan 1 babak, dengan berbagai pertimbangan yang masih rahasia, ibarat lempar krodong putih—tanda menyerah sebelum perang benar-benar selesai.

Meski satu kandidat kuat mundur, tensi perebutan takhta tak lantas turun. Sampai babak keempat berakhir, pertarungan tetap membara. Dan di saat-saat krusial menuju akhir, El Zero Miedo milik Cokro Hindoyo dari Lombok membuktikan kualitas mentalnya. Dari awal mungkin bukan yang paling mencolok, tetapi ketika garis akhir mendekat, dialah yang terus menekan.

“Start boleh kalah, tapi finis harus tetap terdepan,” ungkap Yogi, joki el zero meido penerus Team HDL, dengan nada penuh keyakinan.

Ucapan itu seperti menjadi nubuat. El Zero Miedo memastikan diri berdiri di podium tertinggi. Posisi kedua ditempati Rodtang milik Nusa Team Jakarta yang juga tampil ngotot sepanjang babak. Adapun jagoan baru milik tim Punto “chiki-chiki” dipilih menjadi juara ke-3.

Seri kedua ini meninggalkan pesan kuat: di Liga Jateng Gayeng, nama besar saja tidak cukup. Mental baja, konsistensi, dan keberanian menuntaskan hingga detik terakhir adalah penentunya. Dan hari itu, El Zero Miedo menjawab semuanya. 🔥 el zero meido juara seri 1

Piyek Bebas: jagoan Luar jawa Tebar pesona

 Sejak awal, atmosfer sudah memberi tanda bahwa laga ini tak akan berjalan biasa. Burung-burung muda dengan materi istimewa turun penuh percaya diri, sementara para pemiliknya tampak sulit duduk tenang mengikuti setiap detik penilaian.

Sejak sesi pertama, tensi langsung tinggi. Tidak ada fase penjajakan. Setiap jago seperti paham, sekali kehilangan momen, peluang bisa melayang.

Di tengah ketatnya tekanan itu, Jelita milik Agus Tardi dari Tanjung Pinang tampil paling siap. Angkatan rajin, ritme stabil, serta mental gantangan yang terjaga membuatnya terus berada di jalur atas. Demi sedikit demi sedikit, nilainya menumpuk hingga akhirnya menutup lomba dengan 150 poin, angka yang sulit disentuh pesaing lain.

Perlawanan sengit datang dari Kapten Srobot besutan H. Dibyantoro dari Probolinggo. Tampil ngotot dan konsisten, ia terus menempel pemimpin klasemen. Namun, hingga peluit akhir, selisih masih memaksa Kapten Srobot puas di posisi kedua dengan 130 poin.

Sementara itu, Anak Mas milik Team Punto dari Jakarta membuktikan reputasi tim ibu kota bukan isapan jempol. Materi suara dan keberanian tampil membawa burung ini mengamankan posisi tiga besar dengan 110 poin.

Masuk papan tengah, duel tak kalah panas. Kubu Nunu/Toro menghadirkan dua amunisi sekaligus: Mutiara Timur dan Permata Timur. Keduanya sempat membuat persaingan bergerak dinamis, terutama di pertengahan sesi ketika beberapa kontestan mulai kehilangan kestabilan. Mutiara Timur akhirnya finish di peringkat empat, sementara Permata Timur berada di posisi sembilan.

pakan golden voice bisa di checkout di Shopee toko online shopee 

Penampilan efektif juga diperlihatkan oleh Simson milik Kent BF dari Jogja. Gaya kerja tanpa banyak drama tapi minim kesalahan membuatnya bertahan di lima besar. Tepat di belakangnya ada Silisia kepunyaan Koh Djiang dari Kendal yang beberapa kali mencuri perhatian juri lewat momen angkat bersih.

Nama-nama seperti Puspita, Rengganis, dan Samudra ikut memberi warna pada kompetisi. Mereka menjaga tensi tetap hidup dan memastikan papan nilai tidak pernah benar-benar aman bagi siapa pun.

Menariknya, perhatian publik juga tertuju pada kehadiran peserta dari luar pulau seperti Putra Maros milik H. Abu/Sno dari Makassar. Kehadiran mereka menegaskan bahwa daya tarik lomba ini memang berskala nasional.

Ketika rekap akhir diumumkan, barulah terlihat betapa kerasnya persaingan yang baru saja terjadi. Selisih poin di beberapa posisi begitu rapat, mencerminkan kualitas materi piyik yang kini makin merata.

Para penghobi yang hadir sepakat bahwa kelas ini bukan hanya soal menang-kalah hari ini. Banyak bintang muda yang diyakini bakal naik kelas dan menjadi ancaman serius di level dewasa dalam waktu dekat.

Piyek Yunior : Team Prima rasa cetak doubel Hatrick

Sorotan utama tentu mengarah pada Saritomo Reborn milik Dede Primarasa dari Bandung. Jago muda ini tampil sangat meyakinkan. Kemenangan ini bisa dibilang double hat-trick buat Saritomo Reborn. Pada pertandingan kali ini, saingan terdekatnya datang dari Sulur Mas besutan Djedjen dari Tangerang. Burung bergelang Lightbhiem Jombang hampir juara 1. Beberapa kali bahkan sempat memunculkan harapan bisa menyalip. Namun, hingga garis akhir, nilai 130 membuatnya harus puas berdiri di podium kedua.

Di posisi ketiga, Talenta milik H. Zainal dari Krian memperlihatkan potensi besar. Karakter suara yang enak didengar serta kemunculan di momen-momen penting menjadi modal kuat untuk mengamankan 110 poin.

Pertarungan menuju lima besar juga tak kalah keras. Monster dan Dewa Guci saling dorong nilai dengan gaya berbeda. Monster milik Sony Hartanto tampil agresif, sementara Dewa Guci besutan Mirza dari Tegal lebih mengandalkan kestabilan. Akhirnya mereka menutup lomba di urutan keempat dan kelima.

Menariknya, Sony Hartanto kembali hadir lewat amunisi kedua, Pancasona Jr. Kehadiran dua burung dari satu kandang di papan atas membuktikan kedalaman materi yang mereka miliki. Pancasona Jr. sendiri harus puas di posisi enam, tapi performanya cukup membuat pesaing berhitung.

Nama-nama seperti Erdoğan dan El Diablo dari Jombang ikut menjaga panasnya atmosfer. Setiap kali salah satu naik, reaksi penonton langsung terdengar. Begitu pula Sekar Ester milik H. Handang dari Semarang yang tampil gigih mempertahankan peluang.

Di papan berikutnya, Sengon, Trengganis, hingga Pancamara memastikan bahwa kelas ini tidak pernah kehilangan greget sampai akhir. Bahkan di urutan bawah pun, burung seperti Surya Agung dan El Matador tetap memperlihatkan semangat juang yang tak bisa dianggap remeh.

Piyek hanging; Team Primarasa “beli Juara”.

Larisa milik Dede Primarasa dari Bandung menunjukkan kelasnya selama 4 babak penuh burung yang asalnya milik Kung Mania Semarang ini sukses meraih konser 3 warna dan sukses meraih 150 poin. “Tak over” burung juara bukan hal baru bagi tim Primarasa. Bisa dibilang, di mana ada peluang beli burung juara, maka pasti dilakukan lewat Om Bambang.Perlawanan serius diberikan Superwangi besutan Mast BF dari Pacitan. Tampil berani dan beberapa kali membuat kubu pemuncak harus menoleh, Superwangi terus menjaga jarak agar tidak terpaut terlalu jauh. Nilai 130 poin menempatkannya sebagai runner-up yang sangat terhormat di kelas berat ini.

Di posisi ketiga, Kitaro milik Nung Andi dari Juwono tak kalah mencuri perhatian. Karakter suara yang khas dan kerja yang muncul di saat tepat membuatnya kokoh mengamankan 110 poin. Banyak penonton menilai bila performa seperti ini terus dirawat, Kitaro bakal menjadi ancaman di seri-seri berikutnya.Masuk lima besar, persaingan tetap panas. Super Inova (Sudirman, Madiun) tampil efektif dan disiplin, sementara Black Bule milik Bambang Tarzan dari Caruban memberi warna dengan gaya kerja ngototnya. Selisih tipis di papan nilai membuat kedua kubu sama-sama sempat berharap naik satu tingkat sebelum rekap akhir diumumkan.Tepat di belakang mereka, Singa Bukit (Efri Eyaka, Cirebon) dan Kuromi dari YIA BF Kulon Progo, Publik Solo, juga mendapat hiburan dari penampilan Srikandi Jr milik Septian. Meski harus puas di papan tengah, dukungan untuk jago lokal ini terdengar cukup keras setiap kali ia bekerja.Sementara itu, nama-nama seperti Semtera, Saqer, hingga Renggong memastikan bahwa hingga urutan bawah pun pertarungan tetap hidup. Tidak ada burung yang benar-benar dibiarkan nyaman.

Selama bulan puasa, seluruh agenda liga perkutut berhenti, tapi aktivitas ngerek burung masih ada di tiap daerah. Tentu, dengan konsep mengikuti suasana bulan puasa, ada yang mengemas dengan konsep “ngerek bukber”, ada yang membuat event amal “hr Juri Cup”. Jadi, bagi yang masih penasaran, dengan burungnya kenapa tidak berbunyi? Bisa manfaatkan kegiatan-kegiatan selama bulan puasa biar selesai Lebaran, jagoannya sudah benar-benar siap menghadapi event bergengsi.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news