Nurul Huda Cup 3 : BIG SHOW HANCURKAN AMBISI “CAH NGANJUK”!

Dari TERBAIK di Ponorogo, Datang ke Situbondo… Malah Ditindih Suara Big Show!

Nuru Huda Cup 3 – Ambisi boleh setinggi langit, rasa percaya diri boleh mengembang seperti balon, tetapi di dunia perkutut, satu hal yang tidak boleh dilupakan: di lapangan tidak ada jaminan siapa yang akan berdiri paling tinggi di podium!

Itulah drama panas yang tersaji dalam Nurul Huda 3 Cup 2026, Kapongan, Situbondo, Minggu, 7 September 2026.

Satu nama datang membawa kepercayaan diri tinggi: Cah Nganjuk, jagoan milik Bambang dari Surabaya. Modalnya bukan kaleng-kaleng. Burung ini sebelumnya sukses meraih kemenangan di Bupati Cup Ponorogo, sehingga wajar kalau mentalnya sedang berada di level tertinggi: “Kalau bisa juara lagi, kenapa harus nomor dua?”

Apalagi, perjalanan ke Situbondo mempertemukannya kembali dengan Soimah, milik Samuel BLT/Lombok.

Nah, di sinilah cerita mulai panas!

CAH NGANJUK DATANG DENGAN MISI MENANG LAGI

Di Bupati Cup Ponorogo, Soimah harus mengakui keunggulan Cah Nganjuk. Maka ketika keduanya kembali bertemu di Situbondo, aroma persaingan otomatis menjadi lebih panas.

Ibarat pertandingan tinju, Cah Nganjuk sudah membawa catatan kemenangan sebelumnya dan siap memukul ko lagi Soimah.

Mungkin dalam hati ada suara:

“Ponorogo sudah saya taklukkan, sekarang Situbondo tinggal melanjutkan cerita!”

Ambisinya memang berdasar.

Tetapi ada satu hal yang mungkin terlupakan…

Soimah yang datang ke Situbondo bukan Soimah yang sama ketika tampil di Ponorogo!

Soimah bukan nama sembarangan.

Burung milik Samuel BLT ini punya rekam jejak yang membuat siapa pun wajib berhitung ulang. Soimah pernah menjadi juara LPI Piyek Bebas lpi Malang Singosari, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa kualitasnya memang bukan sekadar jago kandang atau burung yang kebetulan sedang hoki.

Belum lagi, di belakang Soimah ada dua sosok yang sudah sangat dikenal kemampuannya dalam urusan merawat burung.

H. Cholil dan Gus Yogi.

Kalau burungnya punya kualitas dan perawatnya juga punya pengalaman, maka jangan heran kalau Soimah kembali turun ke lapangan dengan wajah penuh percaya diri.

Cah Nganjuk punya ambisi.

Soimah punya rekam jejak.

Pertanyaannya tinggal satu:

Siapa yang bakal menghancurkan siapa?

TAPI BIG SHOW DATANG TANPA BANYAK OMONG!

Saat semua mata mulai tertuju pada duel panas Cah Nganjuk versus Soimah, tiba-tiba muncul satu nama yang justru membuat seluruh skenario berantakan.

BIG SHOW!

Burung milik Titi Alf/Semarang ini rupanya tidak mau sekadar menjadi penonton dalam duel dua jagoan yang sudah punya sejarah tersebut.

Big Show memilih cara paling brutal untuk mengakhiri cerita.

Bukan dengan debat.

Bukan dengan gertakan.

Bukan pula dengan membalas kekalahan masa lalu.

Tetapi dengan satu senjata yang paling ditakuti di lapangan:

SUARA BESAR!

Ketika suara Big Show mulai menggelegar, ambisi Cah Nganjuk yang sebelumnya terlihat kokoh perlahan mulai kehilangan pijakan.

Cah Nganjuk memang berhasil menunjukkan kualitasnya dan kembali masuk tiga besar. Tetapi kali ini bukan podium pertama yang menjadi miliknya.

Juara 1 justru direbut oleh Big Show!

Soimah pun harus puas berada di posisi kedua.

Sementara Cah Nganjuk harus rela menerima kenyataan bahwa podium pertama yang dibidik dengan penuh percaya diri akhirnya lepas dari genggaman.

Dan yang lebih lucu lagi…

Cah Nganjuk sebenarnya tidak dihancurkan oleh rival yang paling ditakutinya!

Soimah memang berhasil bertahan di posisi kedua, tetapi yang benar-benar mengubur ambisi Cah Nganjuk untuk kembali menjadi juara adalah Big Show dengan suara besarnya!

Kalau dibuat bahasa tinju:

Cah Nganjuk sudah siap menghadapi Soimah di ronde utama.

Tiba-tiba Big Show masuk dari sudut lapangan dan berkata:

“Maaf, saya ikut main!”

BOOM!

Podium pertama langsung berpindah tangan!

BIG SHOW, SI “PENGACAU” SKENARIO

Kemenangan Big Show membuat Nurul Huda 3 Cup 2026 semakin menarik.

Pasalnya, sejak awal duel Cah Nganjuk dan Soimah sudah menjadi salah satu cerita yang paling dinantikan. Keduanya punya sejarah pertemuan sebelumnya, sehingga banyak yang penasaran apakah Cah Nganjuk mampu kembali menundukkan Soimah.

Namun dunia lomba perkutut memang sering menghadirkan kejutan.

Yang diprediksi duel dua burung ternyata berubah menjadi pesta satu burung.

Big Show justru tampil sebagai aktor utama.

Dengan suara besar dan performa yang mampu mencuri perhatian, jagoan Titi Alf berhasil mengamankan posisi teratas sekaligus menghentikan ambisi Cah Nganjuk untuk kembali mencicipi podium nomor satu.

Kalau Cah Nganjuk datang membawa modal kemenangan Ponorogo, maka Big Show datang membawa modal suara yang bikin telinga lapangan tidak bisa pura-pura tidak dengar!

GUS YOGI RELA BANGUN JAM 2 PAGI!

Di balik cerita Soimah, ada kisah menarik lainnya.

Gus Yogi sengaja datang ke Situbondo meski harus bangun sekitar pukul 02.00 dini hari.

Tujuannya bukan sekadar jalan-jalan.

Bukan pula ingin mencari sarapan dini hari.

Gus Yogi ingin melihat langsung bagaimana kinerja jagoannya setelah  capek.

Ini menjadi semacam ujian kecil.

Sebab bagi seorang perawat, burung bagus saja belum cukup.

Yang ingin dilihat adalah:

“Kalau capek, masih mau fight atau tidak?”

Dan jawaban dari lapangan Situbondo ternyata cukup menggembirakan.

Alhamdulillah, empat ekor jagoan yang dibawa Gus Yogi semuanya berhasil masuk kejuaraan.

Artinya, perjalanan jauh, bangun dini hari, panasnya suasana lomba, sampai kondisi fisik yang diuji ternyata tidak sia-sia.

Empat jagoan masuk ke kejuaraan!

Bisa dibilang Gus Yogi pulang bukan hanya membawa cerita, tetapi juga membawa bukti bahwa setelan dan kesiapan burungnya tetap bekerja meski kondisi dibuat tidak ideal.

pejantan khas putra kadur minat 087832321279

PIALA RAJA JADI TARGET BERIKUTNYA

Setelah hasil positif di Situbondo, perhatian tentu mulai mengarah kepada pertarungan berikutnya.

Piala Raja menjadi salah satu panggung yang kembali ditunggu.

Gus Yogi pun berharap jagoan-jagoannya masih mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik.

“Mudah-mudahan di Piala Raja masih diberi kesempatan untuk menjadi yang terbaik,” ujar Gus Yogi kepada media online lucu-lucuan GoldenVoiceNews.com.

Harapan itu tentu bukan tanpa alasan.

Empat jagoan masuk ke kejuaraan di Situbondo memberikan modal kepercayaan diri. Tetapi sebagaimana dunia perkutut selalu mengajarkan, modal kemarin tidak otomatis menjadi tiket juara besok.

Lapangan berikutnya adalah cerita baru.

Burung yang kemarin menang belum tentu menang lagi.

Burung yang kemarin kalah juga belum tentu akan kembali kalah.

Dan itulah yang membuat pertarungan perkutut selalu menarik untuk diikuti.

CAH NGANJUK BELUM HABIS!

Satu hal yang juga harus dicatat: Cah Nganjuk belum habis!

Posisi ketiga di Situbondo bukan berarti kualitasnya runtuh.

Justru sebaliknya, burung milik Bambang S masih menunjukkan bahwa dirinya tetap berada di barisan atas.

Hanya saja, kali ini ada Big Show yang tampil lebih menggila.

Soimah juga belum bisa dianggap selesai karena kembali menunjukkan kualitas dengan mengamankan posisi kedua.

Jadi, kalau ada yang mengira cerita Cah Nganjuk versus Soimah sudah tamat, sebaiknya jangan buru-buru menutup bukunya.

Karena bisa jadi bab berikutnya justru lebih panas.

Dan jangan lupa…

Big Show sekarang sudah ikut masuk ke dalam cerita!

Kalau ketiganya kembali bertemu, jangan kaget kalau pertarungan berubah menjadi:

Cah Nganjuk mengejar, Soimah mengintai, Big Show menggelegar!

Satu ingin mengembalikan mahkota.

Satu ingin mempertahankan gengsi.

Sementara satu lagi sudah membuktikan bahwa sekali suaranya keluar, podium bisa berubah pemilik!

PIYEK JUNIOR — PESONA AGUNG BIKIN SITUBONDO BERGEMURUH!

Kalau Piyek Bebas menjadi panggung Big Show, maka Piyek Junior menjadi panggung Pesona Agung!

Jagoan milik Naf’an/Situbondo dengan ring Malika sukses berdiri paling tinggi dan mengamankan podium pertama.

Tampil sebagai tuan rumah, Pesona Agung tentu tidak mau hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sempurna.

Juara satu berhasil diamankan!

Di posisi kedua ada Tiara, ring NK, milik Miskari/Bondowoso. Tiara berhasil memberikan perlawanan dan menunjukkan kualitas yang membuatnya layak berada di dua besar.

Sementara posisi ketiga menjadi milik Nemen, ring Thomas milik Indra Thomas/Probolinggo.

Menariknya, tiga besar ini datang dari tiga wilayah berbeda. Situbondo, Bondowoso dan Probolinggo bertemu di satu podium.

Ini membuktikan bahwa persaingan Piyek Junior tidak mengenal batas wilayah.

Podium Piyek Junior:
🥇 Pesona Agung — Malika — Naf’an/Situbondo
🥈 Tiara — NK — Miskari/Bondowoso
🥉 Nemen — Thomas — Indra Thomas/Probolinggo

Pesona Agung naik mahkota, Tiara mengejar, Nemen mengunci tiga besar!


 PIYEK HANGING — SINGAPORE TERBANG TINGGI, BELGIA DAN ARJUNA SAMBA MENGUNTIT!

Belum selesai panasnya Piyek Junior, kelas Piyek Hanging kembali menghadirkan drama tersendiri.

Kali ini Singapore milik H. Samsuri/Situbondo tampil sebagai bintang utama.

Dengan ring SMR, Singapore berhasil mengamankan juara pertama.

Namanya Singapore, tetapi jangan salah—yang dibuat bergetar justru lapangan Kapongan!

Posisi kedua ditempati Belgia, ring MH ONE, milik Moh. Harisin/Mojolegi. Belgia tampil sebagai penantang serius dan berhasil membawa pulang posisi runner-up.

Sementara Arjuna Samba, ring King BM, milik Amir Mahmud/Paiton, sukses melengkapi tiga besar.

Arjuna Samba mungkin belum berhasil merebut mahkota, tetapi posisi ketiga jelas menjadi bukti bahwa jagoan Paiton ini mampu bersaing dalam pertarungan papan atas.

Podium Piyek Hanging:
🥇 Singapore — SMR — H. Samsuri/Situbondo
🥈 Belgia — MH ONE — Moh. Harisin/Mojolegi
🥉 Arjuna Samba — King BM — Amir Mahmud/Paiton

Singapore terbang paling tinggi, Belgia membuntuti, Arjuna Samba mengunci podium!


TIGA KELAS, TIGA CERITA, SATU LAPANGAN PANAS!

Nurul Huda 3 Cup 2026 akhirnya melahirkan tiga juara berbeda.

Big Show menjadi raja Piyek Bebas setelah mengandalkan performa dan suara besarnya.

Pesona Agung menjadi penguasa Piyek Junior dan sukses membawa nama Situbondo ke podium tertinggi.

Sementara Singapore terbang paling tinggi di kelas Piyek Hanging dan mengamankan mahkota untuk H. Samsuri.

Yang membuat gelaran ini menarik adalah bahwa masing-masing kelas menghadirkan cerita yang berbeda.

Ada Big Show yang menghancurkan ambisi Cah Nganjuk.

Ada Pesona Agung yang memanfaatkan panggung kandang dengan sempurna.

Dan ada Singapore yang terbang meninggalkan Belgia serta Arjuna Samba.

Jadi, kalau ada yang mengatakan lomba kali ini biasa-biasa saja, mungkin orang tersebut belum melihat betapa panasnya pertarungan di balik sangkar!

Kapongan Situbondo membuktikan satu hal: di lapangan perkutut, nama besar boleh datang, rekam jejak boleh mentereng, tetapi podium tetap harus diperjuangkan sampai suara terakhir!

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Related news