
Pemalang – Gelaran Liga Pantura Seri 1 “Widuri Cup” yang digelar pada minggu, 25 Januari 2026, di pantai widuri Pemalang, berlangsung sukses dan penuh persaingan ketat. Lomba yang mempertandingkan kelas Piyek Bebas, piyek yunior dan hanging ini menjadi pembuka rangkaian Liga Pantura tahun 2026 dan mendapat sambutan antusias dari kung mania Pantura dan sekitarnya.
Meski tingkat kehadiran peserta tercatat sekitar 80 persen, jalannya lomba tetap berlangsung meriah dan kompetitif. Setiap peserta menampilkan burung terbaiknya dengan kualitas suara dan mental tanding yang cukup merata. Panitia pelaksana di bawah koordinasi Slamet mampu mengawal acara dengan tertib, sementara kepemimpinan juri Liming dinilai tegas, objektif, dan konsisten sepanjang penilaian.

Piyek Bebas: MR Slap Tak Terbendung, Cilacap Kuasai Puncak
Pada kelas Piyek Bebas, persaingan papan atas berjalan sengit sejak awal gantangan. MR Slap milik PLH BF dari Cilacap tampil dominan dan konsisten, hingga akhirnya keluar sebagai Juara 1 dengan raihan 100 poin. Stabilitas irama dan durasi kerja menjadi keunggulan utama burung ber-ring WA ini, sehingga sulit dikejar oleh para pesaingnya.
Posisi Juara 2 diraih Laskar Bahari milik Wawan TGM dari Cirebon dengan 90 poin. Tampil impresif dengan kualitas suara yang matang, Laskar Bahari mampu memberikan tekanan hingga akhir lomba. Sementara itu, Aquaman milik Toto dari Pemalang berhasil mengamankan Juara 3 dengan 80 poin, menjadi kebanggaan tuan rumah berkat performa yang stabil di tengah ketatnya persaingan.
Di posisi berikutnya, Petir milik Dasuki DSK dari Tegal menempati Juara 4 dengan 70 poin, disusul Wira Wiri milik BRS BF dari Cirebon di Juara 5 dengan 60 poin. Persaingan papan tengah juga tidak kalah menarik, dengan Rejeki dan Rara milik Fatullah dari Tegal masing-masing berada di Juara 6 dan Juara 7.
Adapun Pac Man milik Toto menempati Juara 8, Perdana milik Agil dari Cirebon di Juara 9, dan Arkanza milik PLH BF dari Cilacap melengkapi 10 besar pada Juara 10.

Produk ATLAS BF Makin Menyala.
Pada kelas Piyek Junior, persaingan berjalan sengit sejak awal babak. Burung Aquviya milik Henry Atlas (Semarang) tampil konsisten dan dominan hingga berhasil keluar sebagai Juara 1 dengan raihan 100 poin. Di posisi kedua, Madona milik Ikmal (Pemalang) menunjukkan performa stabil dan harus puas di Juara 2 dengan 90 poin. Sementara itu, Juan milik Agil (Cirebon) melengkapi tiga besar dengan 80 poin, berkat kerja rapi dan irama yang terjaga.
Persaingan juga terasa ketat di papan tengah. Burung Al-Salam, Roket, dan Violind silih berganti menunjukkan kualitas suara yang mumpuni, mencerminkan pemerataan kualitas peserta pada kelas ini. Hingga akhir penilaian, sepuluh besar berhasil ditentukan melalui akumulasi poin yang cukup tipis.
Keberhasilan Henry Atlas meraih prestasi di ajang ini juga mendapat sorotan tersendiri. Selain sebagai peserta, Henry Atlas yang juga merupakan pengurus Pengwil Jawa Tengah dikenal sebagai sosok yang sangat konsisten mendukung liga-liga daerah, termasuk Liga Pantura. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kehadiran langsung, pembinaan, serta dorongan agar kompetisi di tingkat regional terus berjalan secara berkesinambungan.
Menurutnya, liga daerah memiliki peran penting sebagai wadah pembibitan pemain dan burung-burung berkualitas, sekaligus membuka ruang lahirnya pemain baru dan jagoan-jagoan masa depan. Dengan adanya kompetisi rutin seperti Liga Pantura, diharapkan ekosistem perkututan di daerah semakin hidup dan mampu melahirkan regenerasi yang kuat.

Suliwa Memang Berkualitas.
Burung Suliwa milik Liga BF asal Cirebon berhasil keluar sebagai juara pertama dengan raihan nilai sempurna, 100 poin. Tampil tenang dan konsisten, Suliwa mampu menjaga irama suara tetap rapat dan bersih hingga akhir sesi, membuatnya unggul atas para pesaing.
Posisi kedua diamankan oleh Combat milik IYO CRB, juga dari Cirebon. Dengan nilai 90 poin, Combat menunjukkan kualitas volume dan kestabilan yang cukup menonjol, meski masih harus mengakui keunggulan Suliwa. Sementara itu, Amartha milik PLH BF dari Cilacap menempati peringkat ketiga dengan 80 poin berkat performa yang cukup solid di tengah tekanan kompetisi.
Nama-nama seperti Scorpion, Zlatan, dan Kopi Gajah turut meramaikan papan atas, menandakan persaingan di kelas Piyek Hanging berlangsung merata dan penuh kualitas. Dominasi peserta dari Cirebon juga menjadi catatan tersendiri, menunjukkan kekuatan tim-tim lokal dalam kelas ini.

Secara keseluruhan, Liga Pantura Seri 1 Widuri Cup di Pemalang berjalan lancar dan kondusif. Dukungan penuh dari Pengda Pemalang, kerja solid panitia, serta kinerja juri yang profesional menjadi faktor utama suksesnya gelaran ini. Meski partisipasi belum maksimal, panitia berharap pada seri berikutnya jumlah peserta dapat meningkat dan atmosfer lomba semakin ramai.
Liga Pantura Seri 1 Widuri Cup tidak hanya menjadi ajang adu kualitas burung, tetapi juga sarana silaturahmi antar-kicaumania Pantura. Diharapkan, event selanjutnya mampu menghadirkan persaingan yang lebih semarak dan menjadi barometer kualitas perkutut di wilayah Pantura. (foto andi saskia, liming)

















