
Bekasi โ Dunia perkutut nasional kembali bergeliat dengan akan digelarnya Liga Batavia 2026, sebuah ajang liga bergengsi yang berada di bawah naungan Pengwil Sejabodetabek P3SI. Event ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di Lapangan Bumi Eraska, Keranggan, Bekasi.
Liga Batavia 2026 menjadi magnet tersendiri bagi para penggemar dan pehobi burung perkutut. Selain mengusung konsep kompetisi berjenjang dan profesional, liga ini juga menawarkan hadiah pembinaan yang menarik di setiap kelas, serta doorprize bernilai tinggi yang akan dibagikan hingga akhir liga.
Dalam pelaksanaannya, panitia membuka empat kelas lomba, yakni Dewasa, Piyik Bebas, Piyik Yunior , dan Piyik Hanging , Seluruh kelas dirancang untuk memberi ruang persaingan yang adil sekaligus meningkatkan kualitas performa burung di setiap level usia.
Untuk biaya partisipasi, panitia menetapkan tiket lomba sebesar Rp150.000, dengan sistem 8 putaran penilaian. Skema ini diharapkan mampu menghasilkan penilaian yang objektif dan kompetitif, sekaligus memberi kepuasan bagi peserta.

Dari sisi penghargaan, Liga Batavia 2026 menyiapkan uang pembinaan di setiap kelas, dengan rincian Juara 1 mendapatkan Rp2.000.000, Juara 2 Rp1.500.000, Juara 3 Rp1.000.000, serta peringkat 4 hingga 10 masing-masing memperoleh uang pembinaan Rp500.000. Skema ini menjadi bukti keseriusan panitia dalam mengapresiasi prestasi peserta secara menyeluruh.
Tak hanya itu, kemeriahan lomba semakin lengkap dengan hadirnya doorprize menarik berupa elektronik, sembako, hingga doorprize sponsor lainnya. Puncaknya, panitia telah menyiapkan doorprize utama di akhir liga berupa 2 unit sepeda motor, yang tentu menjadi daya tarik besar bagi seluruh peserta.
SERI 1 RAMAI POLL
Animo peserta seri 1 liga batavia ini sungguh luar biasa besar, Terbukti, panitia sukses membuka 8 blok gantangan penuh, yang berarti sekitar 336 ekor burung (42 burung per blok) bertarung memperebutkan supremasi tertinggi di tanah Batavia.
Apresiasi Ketua Pengwil: “Di Luar Ekspektasi”
Ketua Pengwil, Bapak Haji Sularno, mengaku terkejut sekaligus bangga dengan antusiasme para penghobi. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh rekan kung mania yang hadir.
“Kami tidak menyangka kehadiran peserta bisa sebanyak ini di seri perdana. Bahkan, banyak rekan-rekan yang datang dari luar Jabodetabek hanya untuk berkompetisi di sini. Ini awal yang sangat positif bagi perkembangan hobi perkutut di wilayah kita,” ujar Bapak Haji Sularno penuh semangat.
Sengit! Roadtang Tumbangkan Juara LPI 2025

Sorotan utama jatuh pada pertarungan di kelas bergengsi. Kehadiran El Zero Miedo, sang jawara bertahan Liga Perkutut Indonesia (LPI) 2025, semula diprediksi akan mendominasi jalannya lomba. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.
Rodtang, jagoan lokal yang tengah naik daun, membuktikan bahwa dirinya layak menyandang predikat burung terbaik di Jabodetabek saat ini. Melalui performa yang konsisten sejak babak pertama, Roadtang berhasil meredam ambisi El Zero Miedo.
Tambar, sang joki kepercayaan Rodtang, tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. “Bahagia sekali rasanya. Bisa mengalahkan juara LPI sekelas El Zero Miedo adalah pencapaian luar biasa bagi tim kami,” ungkapnya usai pengumuman pemenang.
Mental Baja di Tengah Adu Suara
Ketegangan memuncak saat Pacil mulai memberikan perlawanan sengit terhadap Rodtang. Kedua burung ini sempat terlibat aksi adu suara yang memukau penonton di bawah gantangan. Keduanya saling pamer keindahan suara depan, tengah, hingga ujung.
Namun, di menit-menit krusial, mentalitas Roadtang menjadi pembeda. Burung ini menunjukkan kualitas “mental bandel” yang luar biasa, tetap stabil mengeluarkan anggungan terbaiknya meski ditekan oleh lawan-lawannya.
Hasan AF, kontributor senior www.goldenvoicenews.com, mengamati langsung jalannya laga. Ia menegaskan bahwa kemenangan Roadtang hari ini bukan sekadar keberuntungan. “Pertarungan antara Pacil dan Rodtang tadi sangat seru. Tapi harus diakui, mental Rodtang memang ‘pool’ (luar biasa). Ia tidak goyang sedikit pun meski lawan di sekelilingnya adalah burung-burung juara,” jelas Hasan.
Team Punto Terbaik dan Terbanyak Meraih tropi.

Pada kelas Piyek Bebas, Kingdom milik Team Punto (Jakarta) tampil impresif dan konsisten sepanjang penilaian. Dengan raihan 150 poin, Kingdom sukses mengamankan posisi Juara 1, berkat kualitas irama suara yang rapi, volume stabil, serta mental bertanding yang matang meski masih berstatus piyek.
Posisi Juara 2 diraih oleh Acosta milik wewe alf dari Malang dengan perolehan 140 poin. Burung ini menunjukkan karakter suara yang bersih dan tajam, mampu memberikan tekanan di setiap sesi penilaian. Sementara itu, Anak Mas milik Team Punto (Jakarta) menempati Juara 3 dengan 130 poin, mempertegas dominasi Team Punto di papan atas kelas ini.
Persaingan ketat juga terjadi di papan tengah. Tasya milik Samuel BLT dari Lombok berhasil menduduki posisi keempat dengan 120 poin, disusul Ade Ababil milik H. Paryanto dari Jakarta di peringkat kelima dengan 110 poin. Keduanya tampil stabil dan konsisten, meski harus mengakui keunggulan tiga besar.
Menarik perhatian pula penampilan Bintang Muda milik Soca (Jakarta) yang mengoleksi 100 poin di posisi keenam, serta Opa Manis milik Ajin (PIK) di peringkat ketujuh dengan 90 poin. Keduanya dinilai memiliki potensi besar untuk bersaing di event-event mendatang.
Sementara itu, barisan peringkat delapan hingga lima belas tetap menunjukkan kualitas yang patut diapresiasi. Nama-nama seperti Parve 2, Wira Saba, Tuan Tengkung, hingga Tebar Pesona membuktikan bahwa kelas Piyek Bebas Liga Batavia Seri 1 benar-benar diisi oleh burung-burung berkualitas dengan pembinaan yang serius dari masing-masing pemilik.
Team Primarasa Tumbang, Data Pemenang perlu pembenahan.

Pada kelas Piyek Junior, Gass Lee milik Heri (Bekasi) tampil dominan dan keluar sebagai Juara 1 dengan perolehan 150 poin. Penampilan Gass Lee dinilai paling stabil, dengan karakter suara yang rapi serta kontrol irama yang matang untuk ukuran burung junior.
Posisi Juara 2 ditempati oleh Saritomo Reborn milik Dede Primarasa dari Bandung dengan 140 poin, disusul Yukki Star milik Irwan / Rich (Jakarta) yang meraih 130 poin di peringkat ketiga. Ketiganya menjadi pembeda utama di papan atas, menampilkan kualitas yang konsisten sepanjang sesi penilaian.
Papan tengah juga diisi burung-burung yang tampil kompetitif, seperti Peridot milik Team Punto, Armada milik H. Marlan / Jimar, serta Gladiator milik Sinta, yang masing-masing menunjukkan potensi menjanjikan meski belum mampu menembus tiga besar.
Namun demikian, kelas Piyek Junior juga menyisakan catatan penting yang patut menjadi bahan evaluasi bersama. Dalam rekapitulasi hasil lomba, masih ditemukan data pemenang yang belum lengkap, khususnya pada beberapa peringkat, baik terkait identitas ring, pemilik, maupun asal daerah. Kondisi ini sangat disayangkan, mengingat kualitas lomba di lintasan berjalan baik dan layak didukung oleh administrasi yang rapi dan profesional.
Ke depan, sudah sepatutnya panitia dan peserta bersama-sama memikirkan mekanisme pengumpulan data yang lebih tertib sejak awal lomba, sehingga seluruh informasi dapat terkumpul sebelum proses rekap dilakukan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi penyerahan data susulan setelah hasil diumumkan, yang berpotensi menimbulkan keterlambatan, kekeliruan, bahkan polemik di kemudian hari.
KELAS HANGING SERU

Pada kelas Hanging, Bintang Baru milik Mono / Sarta tampil menonjol dan keluar sebagai Juara 1 dengan perolehan 150 poin. Burung ini menunjukkan performa paling konsisten, dengan irama suara yang rapi, volume stabil, serta penguasaan lapangan yang baik, sehingga layak berada di puncak klasemen.
Posisi Juara 2 diraih oleh Cirebon Trusmi milik Suhartono dari Cirebon dengan 140 poin. Sementara itu, Nirwana milik Boy dari Tangerang mengamankan Juara 3 dengan 130 poin, menampilkan karakter suara yang tajam dan tekanan yang cukup merepotkan pesaing.
Persaingan di papan tengah juga berlangsung sengit. Mercy Buana milik Paulus (Jakarta) menempati peringkat keempat dengan 120 poin, disusul Boban milik H. Sularno (BSD) di posisi kelima dengan 110 poin. Keduanya tampil stabil dan konsisten sepanjang jalannya lomba.
Nama-nama seperti Sanghai, Goodyear, dan Marvel turut meramaikan persaingan, menunjukkan kualitas suara yang kompetitif meski harus puas berada di luar lima besar. Sementara itu, barisan peringkat sepuluh hingga lima belas tetap memperlihatkan potensi yang menjanjikan, menandakan ketatnya persaingan di kelas Hanging.
Secara keseluruhan, kelas Hanging pada Liga Batavia Seri 1 berlangsung tertib, kompetitif, dan sarat kualitas. Penilaian juri dinilai objektif dan konsisten, sementara antusiasme peserta menunjukkan bahwa kelas ini masih menjadi salah satu kelas favorit dalam setiap gelaran Liga Batavia.
Kesuksesan Pengwil Jabodetabek dalam mengemas setiap gelaran lomba tidak terlepas dari solidnya kepengurusan di bawah nahkoda H. Sularno. Keberanian pengurus dalam menyediakan trofi berkualitas serta hadiah yang layak terbukti membawa dampak positif terhadap meningkatnya animo penghobi untuk hadir dan berpartisipasi dalam setiap lomba.
Menurut Anang Teratai, persoalan sumber dana memang menjadi faktor yang sangat menentukan. Namun demikian, tidak semua pengurus daerah, bahkan hingga level atas, memahami bagaimana cara mengemas sebuah event sekaligus memanajemen organisasi secara profesional. Hal ini terlihat dari sejumlah event yang sejatinya memiliki potensi lebih bergengsi dibanding Liga Batavia, bahkan seharusnya mampu menjadi tolok ukur kualitas burung tingkat nasional, tetapi justru gagal menghadirkan unsur โgengsiโ yang kuat di mata peserta. (foto from hasan af, azis, zeus).

















